Tuesday, February 18, 2020

Istirahatlah, Lambe

Hi there.

I don’t know who would read this post or visit my blog. But yes, there are some visitors, I know by looking at the page views statistic. Of course including myself, or only me (?). I don’t know exactly. Some years ago, I had some friends regularly visit my blog, proven by comments on some posts.  I hope some of you still look for me here. Thanks and hi there.

I barely share my blog or posts on social media because, yha, nothing useful here. Only trash I need to throw away from my mind.

Kadaluarsa
Tahun 2019 kemarin saya berkesempatan untuk mendapat pengalaman berharga sehingga dapat membuat kesimpulan: teman itu mempunyai masa dan bisa kadaluarsa. Oleh karena itu, kadang-kadang saya menggunakan term 'brothers and sisters' untuk teman-teman tertentu. Saudara tidak mempunyai masa kadaluarsa. Saya punya sisters-in-law of grafity.

Wednesday, December 4, 2019

Dermaga [Revisi]

Port of Ambon
angin laut tak menepikan kapalnya
angin darat menolak rindunya
karang mengembalikan salamnya
dan ombak yang lupa pulang

di mana saja kau bertabur bunga
di sana kau temukan harumnya
daun tak bergerak
ketika angin berjalan dengan lesu
udara tak lagi memburu

kembali dari tambatan
langit berkata, ini sudah waktunya
tirai diturunkan, kayuh dihentakkan
lalu laut menjelma daratan
tempat rumput-rumput bersembunyi
dari matahari kemarau

hanya kamu yang tahu sampai kapan aku akan menunggu.

Friday, October 11, 2019

Arabia [1]: The Acomodador

"The acomodador: there is always an event in our lives that is responsible for us failing to progress: a trauma, a particularly bitter defeat, a disappointment in love, even a victory that we did not quite understand, can make cowards of us and prevent us from moving on".
Paulo Coelho: The Zahir.

Tahun 2010 saya pengen keluar dari kuliah di pemerintahan, balik ke cinta lama: Aerospace Engineering ITB. Akhirnya cuma wacana. Waktu itu pura-pura punya pelipur lara: di kampus itu saya kenal dan bergaul dengan teman-teman yang menulis bahasa Indonesia/Jawa, memakai huruf Arab. Waktu itu saya memilih bertahan, lebih karena tidak cukup kuat tekad untuk mengambil jalan yang tak jamak diambil orang demi cinta lama. Pura-puranya bersyukur, mendapati diri bisa ikut mengaji kitab kuning sembari kuliah yang sama sekali tak diinginkan. Oke, jujurnya juga, apa yang bisa dibanggakan dari belajar Akuntansi?


Sunday, September 15, 2019

Dunia Tengah (1)

Saya sedang membaca buku sejarah. Memang belum selesai dan mungkin tidak dapat saya selesaikan dalam waktu dekat karena 'kesibukan' satu dan lain hal. Jadi saya tuliskan dulu beberapa hal dari pembacaan buku itu. Judul lengkap buku tersebut dalam bahasa Indonesia adalah "Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam" atau dalam bahasa Inggris "Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes" karya Tamim Ansary.

Membaca sejarah, kita dapat belajar secara garis besar tentang bagaimana membaca zaman. Namun, untuk diaplikasikan pada diri sendiri, kita harus lebih jeli lagi memilih secara detil langkah-langkah yang akan kita ambil. Misalnya, dalam sejarah, peristiwa perebutan Yerussalem oleh tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad Alfatih. Kita harus sadar bahwa hal itu tidak sekonyong-koyong terjadi para era beliau. Zaman sebelumnya sudah terjadi runtutan kejadian yang mengantarkan pada kemenangan. Dan, lebih khusus lagi pada diri Sang Sultan, bahwa dikatakan, beliau tidak lepas dari sholat malam sejak menginjak baligh. Kita harus membayangkan pula, bila itu terjadi dengan kita di masa sekarang: bagaimana mungkin seseorang bisa sekonsisten itu menghidupkan malam-malamnya jika di siang hari dia terhimpit di dalam kereta untuk pergi dan pulang kerja? Hampir tidak mungkin. Kesimpulannya: saya bukan Muhammad Alfatih.

Timur

Jadi sekarang, kalau sudah toleransi, rasanya sudah yang paling Indonesia. Dan agaknya, toleransi ini ditentangkan dengan agama. Bagi saya sendiri, agama adalah bahasa yang melintasi negara, apalagi ras dan gengsi teritorial, sehingga sebenarnya tidak relevan untuk dipertentangkan. Karena kan, semua orang bebas memilih operating system-nya, apapun hardware-nya.

Di atas itu, tentu adalah kemanusiaan. Sepertinya di sini nasionalisme dihargai terlalu tinggi. NKRI tidak harga mati, bila harus mengorbankan kemanusiaan. Manusia berhak atas kesejahteraan dirinya. Bila negara tempatnya bernaung tidak bisa memberikan fasilitas atau dukungan agar kesejahteraannya tercapai, baik dengan usahanya sendiri atau berkat katalis alat-alat negara, manusia boleh memilih negara yang mampu mewujudkannya.

Di atas kemanusiaan, sejujurnya ada penghambaan. Kita semua adalah mahluk, diciptakaan oleh Al Kholiq Sang Pencipta. Mengapa harus saling menikam? Surga bukan soal kuota, tapi passing grade (dan rahmat dari Yang Memiliki, tentu).