Sunday, September 15, 2019

Dunia Tengah (1)

Saya sedang membaca buku sejarah. Memang belum selesai dan mungkin tidak dapat saya selesaikan dalam waktu dekat karena 'kesibukan' satu dan lain hal. Jadi saya tuliskan dulu beberapa hal dari pembacaan buku itu. Judul lengkap buku tersebut dalam bahasa Indonesia adalah "Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam" atau dalam bahasa Inggris "Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes" karya Tamim Ansary.

Membaca sejarah, kita dapat belajar secara garis besar tentang bagaimana membaca zaman. Namun, untuk diaplikasikan pada diri sendiri, kita harus lebih jeli lagi memilih secara detil langkah-langkah yang akan kita ambil. Misalnya, dalam sejarah, peristiwa perebutan Yerussalem oleh tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad Alfatih. Kita harus sadar bahwa hal itu tidak sekonyong-koyong terjadi para era beliau. Zaman sebelumnya sudah terjadi runtutan kejadian yang mengantarkan pada kemenangan. Dan, lebih khusus lagi pada diri Sang Sultan, bahwa dikatakan, beliau tidak lepas dari sholat malam sejak menginjak baligh. Kita harus membayangkan pula, bila itu terjadi dengan kita di masa sekarang: bagaimana mungkin seseorang bisa sekonsisten itu menghidupkan malam-malamnya jika di siang hari dia terhimpit di dalam kereta untuk pergi dan pulang kerja? Hampir tidak mungkin. Kesimpulannya: saya bukan Muhammad Alfatih.

Timur

Jadi sekarang, kalau sudah toleransi, rasanya sudah yang paling Indonesia. Dan agaknya, toleransi ini ditentangkan dengan agama. Bagi saya sendiri, agama adalah bahasa yang melintasi negara, apalagi ras dan gengsi teritorial, sehingga sebenarnya tidak relevan untuk dipertentangkan. Karena kan, semua orang bebas memilih operating system-nya, apapun hardware-nya.

Di atas itu, tentu adalah kemanusiaan. Sepertinya di sini nasionalisme dihargai terlalu tinggi. NKRI tidak harga mati, bila harus mengorbankan kemanusiaan. Manusia berhak atas kesejahteraan dirinya. Bila negara tempatnya bernaung tidak bisa memberikan fasilitas atau dukungan agar kesejahteraannya tercapai, baik dengan usahanya sendiri atau berkat katalis alat-alat negara, manusia boleh memilih negara yang mampu mewujudkannya.

Di atas kemanusiaan, sejujurnya ada penghambaan. Kita semua adalah mahluk, diciptakaan oleh Al Kholiq Sang Pencipta. Mengapa harus saling menikam? Surga bukan soal kuota, tapi passing grade (dan rahmat dari Yang Memiliki, tentu).

Wednesday, July 31, 2019

Sekopi Berdua

Hello Blog.

Assalamu'alaikum.
Sebenarnya bukan lupa punya blog sih, tapi memang kurang disiplin aja menulis. Memang lagi sibuk, cuma bukan sibuk yang sampai gak sempet ngapa-ngapain. Gak posting di sosmed (ig, twitter, FB) karena pengen ngadem aja. Dan memang di blog lebih tenang, termasuk sedikit viewer juga. Kalaupun ada yang bener-bener minat biar dateng sendiri aja. Atau nyasar. Malah sejak pake domain .com gak pernah dipromoin.

Blogging.
Kemarin ada email masuk, ngingetin kalau domain elmabruri.com ini mau kadaluarsa. Sekarang sudah diperpanjang. Murah kok cuma 139-ribu-sekian per tahun. Lumayanlah biar keliatan serius. Walaupun setelah pake domain .com malah jarang posting. Kalau gak salah ini tahun ketiga. Awalnya pengen pake nama lain yang umum, mencari kata yang paling mewakili diri, tapi bukan nama asli. Misal kopipagi, atau semacamnya. Beberapa alamat kece udah taken, termasuk kopipagi itu dan disia-siakan karena gak diisi sama orangnya. Mungkin niatnya mau jual alamat.

Tuesday, May 21, 2019

Pribumi

Orang-orang Indonesia adalah orang-orang baik, terlepas dari apapun agamanya. Bukan baik dalam artian sempurna, tapi secara umum, anggap saja begitu: orang Indonesia baik baik tidak peduli apapun agamanya. Walaupun, tentunya, baik saja tidak cukup untuk bisa selamat.

Aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yg hanya memikirkan diri sendiri. -Ir.Soekarno

Saturday, October 6, 2018

62 Purnama

Judulnya agak lembek ya? Gak juga. Itu hanya penyebutan lain untuk tahun. Karena memang telah terjadi konjungsi Bulan sebanyak 62 kali sejak saya menetap di Jakarta, atau 5 tahun sejak memulai ikatan dinas yang berarti juga telah 50% ikatan dinas ini dijalani. Rentang waktu ini juga membuat perubahan berat badan dari 52 sampai 59/60 kg. Selama itu pula saya telah menggunakan 5 buah sepeda berbeda untuk bike to work. Akan tetapi, sampai dengan purnama pertama 1440H, saya masih sendiri dengan beberapa catatan.

Suatu Fullmoon yang Super (dokumen pribadi)
Mapan dalam ketidaknyamanan atau nyaman dalam ketidakmapanan?