Tuesday, December 27, 2011

Intelegence Gap

Pernah seorang teman bertanya kepadaku dalam suatu perjalanan pulang naik sepeda dari sebuah kampus. Tak perlu menyebut nama, tapi seragam sepak bola kelas yang ia pakai bernama punggung 'MASTER'. Dia bertanya kepadaku tentang masa depan.

"Kelak istrimu akan kau perbolehkan kerja atau bagaimana?"

Sebagai orang yang masih jauh dari umur menikah, kurasa jawaban ini cukup bijak, "Bila bisa kerja di rumah, silakan."

Saturday, December 24, 2011

Lampu Kamar Telah Mati

Pulang, ada setangkup rindu yang sedemikian memburu. Tapi bukan karena kau tinggal di kota itu, Laila, yang adalah kotaku juga.


Merantau, artinya berkurang jam belajar di sekolah keabadian, ibuku. Sebelum kau membantu mengajar di sekolah ibuku, Laila, aku ingin belajar privat lagi dengan ibuku. Jangan kau mendaftar dulu sebagai guru di sekolah ibuku. Tunggu dulu barang 3 atau 4 tahun.


Lampu kamar telah mati, dan aku ingin pulang.

Friday, December 23, 2011

After Solstice

Kemarin, tanggal 22 Desember adalah hari ibu. Namun banyak yang tidak tahu bahwa hari itu juga hari di mana matahari berada di titik paling selatan dalam gerak semu tahunannya. Barangkali ada yang bertanya, "Lalu apa pentingnya winter solstice ini?" Eits, sebelum kujawab, aku ingin balik bertanya, "Apa pentingnya hari ibu?"
Foto: endagvangarenx.blogspot.com/2011/02/fenomna-midnight-sun-matahari-di.html
Aku tidak mengatakan Hari Ibu tidak penting. Hanya saja penetapan Hari Ibu pada suatu tanggal dalam satu periode kalender itu adalah suatu peristiwa acak, arbitrer, atau mana suka. Jadi, pertanyaan selanjutnya adalah: mengapa tidak menjadikan seluruh hari sebagai hari ibu? Membahas jawaban atas pertanyaan ini lebih tidak penting lagi. Apalagi, membahas pernyataan suatu golongan yang menyatakan bahwa merayakan Hari Ibu adalah perkara bid'ah. Daripada mengeluarkan pernyataan pembid'ahan itu, lebih baik membahas winter solstice saja.

Thursday, December 22, 2011

Seandainya Saya Anggota DPD RI: Lebih Banyak Mendengar

Sejatinya, saya tidak ingin menjadi wakil rakyat. Bahkan membayangkannya pun tak ingin. Sungguh, bukan lantaran saya tidak ingin melakukan tugas mulia itu. Akan tetapi, bila teringat pertanggungjawaban yang sedemikian besar, saya lebih baik menjadi guru TK saja. Meski hanya mengubah suatu keadaan pada lingkup yang kecil, menjadi guru mempunyai arti lebih dalam daripada menjadi anggota DPD RI yang cenderung bersikap berdasarkan kepentingan politik daripada berdasarkan nurani yang murni.

Namun, demi berbagi saran kepada para anggota DPD RI, saya ingin memberikan buah pikiran yang saya implementasikan pada diri saya sendiri di dalam dunia pengandaian.

Saturday, December 17, 2011

Namanya Siapa?

"Mas, namanya siapa?"


"Abdullah."
*


"Aku yakin, dia jauh lebih anggun dari Anna Althofunnisa."

Need A Break

terlalu lelah, tapi aku tidak menyerah
luka itu masih ada, meski tak lagi menganga
tapi bukan putus asa, hanya berhenti untuk kemudian berlari lagi


bantu aku mencari diriku dalam dunia abu-abu
tapi jangan paksa aku untuk menjadi seperti yang kau mau


aku memang lain, dan luar biasa
dan harusnya kau paham bahwa orang luar biasa selalu berkebutuhan khusus


aku salah, tapi aku tak mau kalah
jika di sebelahmu ada madu, sisakan aku setengah
jika kau tak malu, izinkan aku berdiri di sebelah
karena selalu ada jalan pulang kepada kebaikan


tapi masih adakah gerbong kereta untukku pulang di pengujung tahun ini?

Thursday, December 15, 2011

Before Dawn

Siapa saja yang mencintai senja, sudah seharusnya ia lebih mencintai fajar (Abdullah Mabruri: 2011).
Senja memang indah. Barangkali semua orang setuju. Ya, senja memang indah: matahari kuning kemerahan melayang rendah di ufuk barat, warna langit juga memanjakan mata, sampai matahari terbenam dan langit masih menampakkan warna merah dalam remangTapi, bagiku, senja tak mendamaikan. Karena itu adalah tanda bahwa hari yang lelah ini telah sampai pada masa tuanya. Tak lama lagi akan menutup usia. Tentu, aku mesti waspada.

Wednesday, December 14, 2011

Kepada Siapa Ku Harus Bertanya?

Kepada siapa kutanyakan kegundahan hati ini bila Kau menghendakiku tuli?


Tuhan memang tidak tuli. Dia Maha Mendengar, meski mulut kita tak bertanya dengan suara. Namun, meski tidak tuli, belum tentu aku bisa mendengar jawaban-Nya. Apalagi jika Dia menutup hatiku dari Petunjuk.


Lalu siapa yang akan menerjemahkan jawaban-Nya untukku?


Ingin kubertanya pada hati. Barangkali ia lebih mengerti arti jawaban-jawaban Tuhan untukku. Ketika hati kuketuk, ia ternyata begitu rapuh untuk kujadikan sandaran. Kadang, ada suara lain juga, yang sama halusnya. Dan aku kembali limbung. Hati ini sedemikian kotornya.


..

Tuesday, December 13, 2011

Target

Bukan tentang nama, tapi kriteria.


Apa jadinya bila kriteria itu telah dipenuhi oleh sebuah nama?


.... [speechless]

Wednesday, November 30, 2011

Jeda dan Udara

Jeda memiliki arti berhenti (stop), tapi bukan selesai (finish). Seperti lampu merah di persimpangan tempat kita berhenti dalam suatu perjalanan, ia bukanlah akhir dari perjalanan kita.


Udara mengisi setiap kekosongan ruang. Tapi sebenarnya, tak pernah ada ruang yang kosong karena ia terisi oleh udara. 'Hampa' namanya bila suatu ruang benar-benar kosong. Maka, jangan sampai ada kekosongan dan inilah peran udara untuk mengisi.


Berilah kesempatan bagi jeda dan udara untuk mengisi perjalanan kita, sebuah kehidupan.


Biarkan jeda berperan sebagai spasi dalam setiap kalimat yang kita tulis agar ia terbaca. Juga udara, khususnya oksigen, yang menjadi bahan bakar kehidupan.


Thursday, November 24, 2011

Jamaah Dadakan, Sebuah Catatan Sentimental

Aku terlambat datang sholat jamaah isya di masjid. Jamaah sudah sampai pada tasyahud akhir. Aku tak ingin memburu 'ekor' rombongan yg sudah berangkat itu meski ada orang lain yg berlari demi mendapat ujung gerbong itu. Aku berharap ada orang lain yg datang di belakangku dan kami bisa berjamaah meski hanya berdua.

Ternyata cukup banyak calon jamaah yang terlambat. Lalu kami berdiskusi tanpa narasi tentang siapa imam kali ini; saling tunjuk seperti biasa. Sementara kami bertindak bodoh demi mendapatkan satu orang yang berani ambil resiko membawa jamaah sholat 'isya ini, di suatu sudut lain seseorang yg juga datang terlambat telah menepuk pundak seorang jamaah yang tadi masbuk.

Friday, November 18, 2011

Indentitas dan Prioritas

Untuk anakku yang sedang merantau di seberang Malaka, di dekat selat Sunda, dan di antara dua samudera, salam selamat wahai anakku. Katamu, kau sedang menuntut ilmu, benarkah? Kuharap begitu. Alih-alih menuntut ilmu, jangan kau menganggap angka-angka itu sebagai ukuran ilmu.

Apa yang sedang kau perjuangkan, anakku? Identitasmu sebagai muslim ataukah prioritasmu sebagai muslim?

Jika kau sedang memperjuangkan identitasmu sebagai muslim, pergi saja ke Pasar Tanah Abang dan belilah jubah beserta kopyah. Kau akan 'terlihat' sebagai muslim.


Monday, November 14, 2011

Jendela: Penyambung atau Pemisah?

Apa kekhasan jendela hingga ia harus ada, setidaknya ia telah tercipta, meski pintu mempunyai peranan yang cukup luas untuk keluar masuknya sesuatu?
Sumber foto: sangkarhati.blogspot.com

Jendela, ia seperti pintu memang, yakni tempat udara dan cahaya lewat. Meski ia bukan piranti bagi manusia baik-baik untuk keluar-masuk ruangan, jendela memberi efek seolah-olah manusia berada di luar ruangan. Itu karena mata menjangkau pandangan yang jauh dan luas di luar sana.

Thursday, November 10, 2011

Buya HAMKA Menginspirasiku

Entah sejak kapan aku mengenal nama Buya Hamka. Namun, sejak itulah aku merasa ada kedekatan emosional yang susah dijelaskan. Tepatnya ketika aku mengetahui kepanjangan HAMKA, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Pada kepanjangan itu, aku menemukan namaku yang bisa juga disingkat demikian. Namaku Abdullah Mabruri, anak laki-laki Abdul Kholik. Jadi, HAMKA bisa untuk menyingkat namaku juga, dengan sedikit paksaan tentunya...:D.


HAMKA: [Haji] Abdullah Mabruri Kholik [Amrullah]


Tentunya, aku berharap bisa menunaikan ibadah haji [amiin]. Bukan untuk sebuah gelar di depan nama. But, dengan penambahan 'haji' untuk menyesuaikan dengan 'HAMKA', ini menjadi semacam doa dan optimisme untukku mencapainya.

Monday, November 7, 2011

Jalan Pagi

Secangkir teh hangat, sepotong subuh hari penuh semangat.

Secangkir teh manis hangat ini terlalu sederhana untuk memulai hari yang penuh semangat. Bangun pagi-pagi, tak ada suara bising di sana-sini. Duhai nikmatnya dunia bila tanpa kasak-kusuk tetangga kanan-kiri. Membuka mata pagi-pagi, berlomba dengan merpati yang ingin segera membumbung tinggi. Atau, daun melati yang berembun semurni hati. Mari mulai hari dengan puji Ilahi.

Tok tok tok. Ayo kita tengok kamar mahasiswi. Ups, ada yang masih bersembunyi di balik seprai. Semalam baru nonton Super Junior manggung di lepi. Jadi, maklumlah kalau tak sempat lihat terbit mentari.

Puisi Absurd

Di rajang malam puan telentang
menanti bujang yang tak lagi lajang
untuk berbarengan melewati titian
yang panjang dan lurus yang rambut terbelah tujuh
tapi mencebur, tanpa terpeleset


kaki kini mulai geregetan
karena mata tak lagi jelalatan


"Ada apa? Tuan memanggil saya?"


Kau kira seorang tuli tidak dapat bicara?

Sunday, November 6, 2011

Bendungan Gintung

Izinkan matamu untuk menikmati keindahan-keindahan sederhana; air jernih mengalir dan berlimpah, rumput-rumput ramah, tanah-tanah basah, dan daun-daun hijau.
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/05/24/situ-gintungkini-menjadi-obyek-wisata/
Akhirnya kesampaian juga mengunjungi tempat yang kuinginkan. Semalam, aku menulis status di FB begini:
"Ingin menenangkan diri; melihat air mengalir, daun-daun hijau, tanah-tanah basah, rumput-rumput ramah, pasar tumpah, atau apalah yang serba murah meriah berfadilah. Di mana? Di mana? Di mana? Ibukota sebelah mana yang cukup 'wah' untuk dikunjungi dengan sepeda?"

Saturday, November 5, 2011

Saturday: I Want to Ride My Bicycle

I want to ride my bicycle.


Sudah menjadi jadwal semitetap jogging di hari Sabtu, biasanya bersama Sahabat Lebah. Dua minggu ini tidak ada kabar ajakan lari pagi bersama. Aku pun sedang tidak berhasyat berlari karena tak punya sepatu lari. Jadilah aku bersepeda.


Rencananya, hari Jumat kemarin aku pagi-pagi akan membawa si Perak berkeliling-keliling untuk menghirup udara pagi. Tapi gagal total oleh sebab yang sangat konyol: ketiduran selepas menjalani rangkaian aktivitas subuh. Kini rencana itu terealisasi pada hari Arafah ini. Dengan jersey kelas 2F Akuntansi 2010-2011, jatet atlit, topi Quick Silver warna cokelat, celana cokelat, aku keluar dari kamar ketika kos masih sangat krik krik krik.

Friday, November 4, 2011

eNyak

Jumat, 4 November 2011


Seusai sholat maghrib berjamaah di masjid depan kosan, Masjid Al Abror, aku buru-buru kembali ke kamar lantaran perut yang sudah meminta haknya dan aku pun sudah membeli nasi bungkusan. Aku berjalan gontai meninggalkan shaf. Tiba-tiba, "Mas, jangan pulang dulu. Nyak mau selamatan." Aku mengenal pemilik suara sopran [demi memperhalus kata 'cempreng'] itu. Beliau eNyak, induk semang Hasan Kos di mana aku tinggal sekarang.


Hhhhmmmmm


"Jangan pulang dulu. Enyak mau ngadain selamatan buat anak eNyak nyang lagi berangkat haji."

Thursday, November 3, 2011

Aheading for Summer

03 November 2011

November telah datang dan matahari tengah beranjak menuju titik terjauhnya di selatan, di atas negeri kangguru Australia. Bumi belahan selatan semakin dekat dengan musim panas (summer) meski baru empat puluh hari ini bunga-bunga di sana bersemi. Dan, di Indonesia sendiri hujan telah turun sejak akhir Oktober lalu [menurut hematku, hujan pertama jatuh pada sore hari tanggal 22 Oktober].

Tuesday, November 1, 2011

Kalimat-kalimat Waktu

#Malam
Telah terselimuti manusia di dalamnya dalam berbagai bungkus dan rupa. Mendengar bisikannya di awal gelap adalah nikmat yang lena. Jika kau menuruti, niscaya tak kau dapatkan kedamaian sunyi di penghujung gelap.

#Gelap yang Akhir

Sekali kau mengenalnya, kau ingin bertemunya lagi. Kau candu. Kau rindu. Kau sendu. Kau malu jika sekali saja alpa. Karena di dalamnya ada cahaya yang menyambar-nyambar, mengetuk hati yang meminta isi, mencari pikiran yang menagih janji, menemani jiwa yang haus terobati.

#Sebelum Terbit
Pada ujung-ujung gelap, ketika tak lama lagi raja langit menampilkan mahkotanya, yang kau rasakan hanyalah kerinduan dan penantian panjang akan kembali datangnya waktu-waktu gelap yang akhir, waktu-waktu sebelum cahaya. Atau, kau merasakan penyesalan yang sangat karena telah melewati waktu gelap yang akhir itu tanpa air mata. Di sini, kau masih bahagia karena siapa saja yang berdiri di dalamnya, ia berbeda dengan mereka yang luput bersama kelalaian.

Sunday, October 30, 2011

Tour de Bintaro: Detailing Map

Minggu, 30 Oktober 2011
05.30
Kunkun Suryadi menunggu di kosnya, Sarmili. Aku dan Ahmad Izazi, yang juga warga Sarmili lebih 'pelosok', datang terlambat. Sekitar pukul 6 kami baru berangkat.


Bintaro adalah kawasan hunian. Bila standar kemewahan adalah posisi strategis, maka aku menilai hunian di kawasan Bintaro berada pada kelas menengah. Kelas atas, menurut parameterku, seperti kompleks hunian di kawasan Kemang, Menteng, dll. Sedang kelas di bawah menengah, ialah lebih di pinggir lagi dari Bintaro. Tapi di Bintaro kukira ada juga kawasan yang bisa kumasukan ke dalam kategori ini.


Jalanan lengang oleh kendaraan bermotor, seperti biasa hari Minggu. Pengguna jalan yang bersepeda, lari, atau berjalan, naik jumlahnya pada tiap weekend. Kami bersepeda santai saja, melewati taman di dekat Lotte Mart [apa sih namanya? River Park? Bukan kayaknya]. Di situ ramai. Dan kami berlanjut menuju sektor 7.

Friday, October 28, 2011

Jumat; Hujan dan Sepeda

Jumat pagi yang lembab kuawali dengan bersepeda ke Pasar Cipulir; mungkin sekitar 5 kilometer dari tempat tinggalku di Pondok Aren. Dengan jaket hitam STAN ATHLETE [sengaja untuk menyembunyikan kaos-beridentitas yang kupakai], tanpa bekal dan tanpa tas, aku melaju menuju Jalan Ceger mengikuti jalur angkot putih nomor 05. Sekali lagi, bukan tujuan berupa tempat yang menjadi acuanku bersepeda. Pokoknya bersepeda, berjalan-jalan yang barangkali bisa menambah wawasan, lebih dari sekedar kesehatan.


Tapi tak banyak kutemukan sesuatu dari perjalanan berangkatku. Mungkin karena aku mengikuti jalur angkot yang telah umum dilalui. Atau, sesuatu yang dapat kuceritakan hanyalah   para praktisi transportasi Jakarta yang bodoh: pengguna jalan individu yang sembarangan, sopir yang ugal-ugalan, dan lain-lain yang sudah membosankan di dengar.

Thursday, October 27, 2011

Budaya Nusantara: Minangkabau

 Baru hari Kamis, kuliah minggu ini sudah selesai. Baiklah, aku ingin meresume salah satu matkul minggu kelima ini: Kelas Budaya Nusantara, pertemuan kelima Semester 5, Rabu 26 Oktober 2011 pukul 08.00-09.40 WIB di I307.


Ini presentasi kelompok tiga. Mereka adalah Argya, Herry, Lutfian, Mustofa, dan Kukuh. Dua presentasi sebelumnya adalah tentang kebudayaan Aceh dan Batak. Aku belum sempat menuliskan resume presentasi itu di blog ini. Nantilah, baru juga ada ide buat posting materi kuliah yang kiranya pas.
Rumah Gadang


Argya memulai presentasi. Herry jadi operator. Presenter lain berjajar di depan, mempersiapkan bahan. Mahasiswa lain menyimak dengan takzim [bukan ngantuk, aku yakin itu].


"Selamat pagi teman-teman," sapa Argya. Lalu dia memperkenalkan anggota kelompoknya sebelum ia mengenalkan kebudayaan Minangkabau pada kami.

Wednesday, October 26, 2011

Catatan Malam Lebaran: Bulan di Atas Kuburan

Berkaitan dengan idulfitri, saya teringat dua buah karya sastra; cerpen dan sajak. Cerpennya berjudul "Tamu yang Datang di Hari Lebaran" dan sajaknya berjudul "Malam Lebaran".
Mari saya mulai dengan sajak singkat Sitor Situmorang:

"Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan"

Terlepas dari maksud tersirat penulis sajak, saya mempunyai pemikiran tersendiri tentang idulfitri kali ini.

Night and Light

Time goes by and history leaves,
both give something to learn,
and so some regrets

Night awaits light till the end of her life
Just after the light has come, she falls out
She hopes a beam of light jumps to her pitch dark

Light always miss the night as it loves the sun
Need to meet and will give all of its body
Till it had no more
Except a life of night
*
Time goes by. Left histroy, for learning and regreting. every night I wait the light, till the end of life.

Tuesday, October 25, 2011

Kuitansi Denda dan Sanksi

Saat ini, hal yang paling harus kuhindari adalah perbuatan yang mengundang denda dan/atau sanksi. Alasannya, aku tak mau keluar uang untuk hal-hal demikian. Dan, naasnya, aku mempunyai cerita tentang denda hari ini. Cerita ini bukan milik orang lain, tapi aku sendiri yang menjalaninya.

Cerita berawal ketika aku baru membuka buku Advanced Accounting 9th edition. Aku baru menyadari bahwa aku seharusnya mengembalikan atau memperpanjangnya tanggal 21 Oktober, yaitu hari Jumat lalu. Hari Jumat, aku lupa mengecek tanggal kembali buku pinjamanku. Hari Sabtu-Mingu, perpustakaan libur. Hari Senin, kelas Budaya Nusantara pindah hari, dan hari itu tak ada kuliah lain. Barulah hari ini aku kuliah, kebetulan ada tugas Advanced dari buku itu. Dan.... astraghfirullah! Aku harus membayar denda! Tidak! Sangat tak berguna bila uang hanya digunakan untuk mengganti sebuah keteledoran.

Monday, October 24, 2011

Tetap Menulis

Tahun terakhir di SMA, kelas XII setelah aku benar-benar dipensiundinikan dari perolimpiadean, saat itulah aku mulai menulis. Ceritanya, ada ruang kosong di pikiranku. Sepulang dari Bandung, aku seperti anak linglung yang tak mau kembali ke sekolah. Aku... rindu sesuatu. Atau rindu seseorang? Tapi itu masa lalu. Meski Allah pun tak akan menghapus masa lalu, aku berharap perbaikan di masa kini dan masa depan.


Ya, dulu aku menulis dengan tujuan pelepasan semata. Awalnya aku menulis di buku binder, itu untuk tulisan-tulisan curhat pribadi yang rahasia. Untuk tulisan pribadi yang tak masalah bila dipublikasi, aku menulisnya di catatan facebook dan blog. Waktu itu aku menulis dengan lancar, santai, dan enjoy. Karena tulisanku bernuansa santai dan tak ada beban serta batasan-batasan penulisan, banyak tulisan yang kuhasilkan.

Wednesday, October 19, 2011

Tentang Laila

Bila Kawan berjumpa dengan nama Laila pada tulisanku, terutama pada puisiku yang berjudul "Laila", kuharap tiada persangkaan bahwa ia adalah nama seorang wanita.

Memang Laila adalah sebuah nama. Namun bila Kawan bertanya, "Nama siapa yang tersembunyi di balik nama Laila?" Atau sekalian tanya, "Siapa Laila sebenarnya?" Pertanyaan itu, keduanya, adalah salah. Karena seharusnya Kawan mengawali kalimat tanya dengan "apa" bukan "siapa".

Tuesday, October 18, 2011

Ilmu Bersamudera Luasnya, Mana yang Akan Kau Layari?

Adakah yang bisa memberi argumentasi kepadaku agar aku lebih serius lagi dalam belajar Advanced Accounting?


Di bumi ini ilmu demikian banyaknya, hingga tak mungkin waktu hidup kita mencukupi guna mempelajarinya. Tentu kita harus memilihnya; mendahulukan yang kiranya perlu. Lalu, apa itu?

Friday, October 14, 2011

Astro-no-my

Awalnya, aku menamai blog pertamaku dulu dengan ASTRO-NO-MY karena terinspirasi oleh web Chem-is-try. Analoginya sama, yaitu nama, secara khusus pemenggalan suku katanya, mencerminkan maksud dan tujuan pemenggalannya, dan tentu juga mewakili nama itu sendiri.

Chem-is-try diartikan sebagai Kimia [Chem] adalah [is] mencoba [try]. Jadi, bukan kimia jika tidak diawali dengan mencoba. Sedangkan Astro-no-my menurutku adalah bintang, yang mewakili langit secara keseluruhan [astron=bintang], bukan [maksudku bukan hanya, untuk kata 'no'] milikku [makna yang agak memaksa untuk kata 'my']. Jadi, Astro-no-my kuharapkan agar diartikan sebagai astro itu bukan milikku saja, tapi milik kita bersama.

Namun, kini aku ragu dengan makna itu. Apakah astro memang bukan milikku? 

Quick Silver

12 Oktober 2011

Rasa aku seperti menemukan kembali masa kecilku; lincah, aktif, cerdik, dan cukup nakal. Bertahun-tahun aku menginginkan sepeda balap, tepatnya sejak kelas enam SD. Waktu itu, temanku membawa sepeda balap ke sekolah. Pulangnya, sebagaimana kebiasaan teman-teman satu gengku, mampir ke rumahku dulu; belajar kelompok, istirahat, atau sekedar minta air. Juga di hari-hari libur atau sore hari setelah pulang sekolah, teman-teman biasa main ke rumahku. Oh ya, gengku itu ada lima anak; aku, Dedek (a.k.a. Miftah), Romi, Heru, dan Windi. Heru adalah temanku yang membawa sepeda balap dengan ukuran roda 24"x1 3/8". Semua temanku membawa sepeda, kecuali aku, karena rumah mereka jauh dari SD dan aku cukup nebeng saja.

Ya, aku sangat ingin memiliki sepeda balap. Aku sering meminjam sepeda Heru. Kukebut si Merah, sepeda balap Heru memang berwarna merah, di pekarangan samping kiri rumah. Sungguh, aku sangat tertarik. Lebih dari itu, aku memang menyukai petualangan, perjalanan, dan kecepatan. But, seperti bertepuk sebelah tangan, aku hanya bisa memimpikannya di malam sunyi. Beruntung si Heru itu, sepeda itu diberi oleh Pakdenya, walaupun itu bekas dari saudara sepupunya sendiri.


Thursday, October 13, 2011

Etika Profesi Kasir

Ada yang tidak tahu apa itu kasir? Tahu donk..
Ya, tiap hari kerjaannya adalah menghitung belanjaan pembeli dan menerima pembayarannya. Jadi, setiap hari ia berinteraksi dengan banyak pembeli. Dan, entahlah mengapa, kebanyakan kasir adalah perempuan atau wanita. Bahkan mungkin hampir semua kasir adalah wanita. Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Lalu kau bertanya, "Apa masalahnya kalau kasir itu wanita?"

Wednesday, October 12, 2011

Air yang Mengalir

Dan dari airlah kehidupan itu dimulai.
Sumber foto: http://siloindrajhelah.blogspot.com/2011/04/hidup-bagaikan-air.html

Bukan suatu perumpamaan, air yang mengalir adalah air yang mengalir, dari suatu tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah tentunya. Demikian itulah sunnatullah. Namun bisa saja air mengalir ke seluruh arah; atas, bawah, kanan, kiri, dan diagonal. Tapi bukan itu yang akan aku sampaikan.


Monday, October 10, 2011

Pecaron, Sebuah Pantai Perawan


[foto dari gopexs.blogspot.com]  

Masih 5 September 2011

Memang telah diniatkan untuk menilik Pantai 'perawan' Pecaron, rasanya tak puas jika digantikan dengan berkunjung ke Pantai Menganti saja. Jadi, kami tetap bertolak ke sana, sesuai rencana awal. [Ikuti perjalanannya di posting-an sebelumnya: Menantimu di Menganti]

Sunday, October 9, 2011

Menantimu di Menganti

Senin, 5 September 2011

Berhubung kami adalah Muslimin yang mengikuti peraturan pemerintah perihal hari raya Idulfitri 1432 H, maka hari ini adalah hari raya Idulfitri keenam atau H+5. Sebagaimana telah menjadi kesepakatan bersama, hari ini kami diundang untuk bersilaturrohmi ke rumah salah seorang teman, yaitu Muhammad Solihin, di Kecamatan Puring, yang rumahnya hanya dua kilometeran dari pantai selatan.

Oh ya, perkenalkan dulu, kata ganti "kami" di sini merujuk pada delapan alumni SMAN 1 Kebumen yang lulus tahun 2009 yang secara khusus pernah menjadi pengurus Rohis. Tapi kegiatan ini tidak atas nama suatu organisasi apapun. Hanya saja di antara kami telah terjalin tali yang cukup kuat untuk bergerak bersama dan berkumpul. Delapan orang itu adalah aku [STAN 2009], Fahmi H. [ITB 2009], Teguh A. [UGM 2009], Danang S. [UI 2009], Deny W. [UNY 2009], M. Solihin [STAN 2010], M. Zen R. [STAN 2009], dan Idris A. [STAN 2009].