Friday, September 30, 2011

Pena (Sebuah Pameran Foto)

Kadang ketika saya berada di suatu tempat yang indah dan pada momen yang berharga, saya ingin sekali mengabadikannya dalam gambar. Misalnya ketika saya berada di dekat Pantai Carita (tidak sepenuhnya berada di pantai itu), di dermaga 3 Pelabuhan Merak, pada saat menghadiri wisuda, dan lain sebagainya. Ingin sekali saya mengabadikannya. Namun sayangnya, saya tidak memiliki kamera yang memadai; kamera digital pun tidak punya apalagi SLR.

Syukurlah akhirnya saya bisa mengabadikan momen dan tempat itu. Jadilah foto yang luar biasa bagus. Ini dia hasilnya.
*

Foto Pertama

Judul: Ingin Pergi ke Kotamu
Tempat: dermaga 3 Pelabuhan Merak
Waktu: Desember 2010

Potong Pendek di Rumah

[]
Nama Bayi

Susahnya memberi sebuah nama untuk bayi. Harus penuh pertimbangan. Meski bayi ini adalah sebuah tokoh dalam cerita yang sedang saya buat. Saya berusaha realistis lantaran cerita yang realis imajinatif atas dasar pengetahuan.

[]
Pengandaian

Ketidakmampuan manusia akan sesuatu membuat manusia berandai-andai akan sesuatu itu. Naasnya, Tuhan tidak suka dengan pengandaian. Jadi, mana mungkin Dia mengabulkan suatu pengandaian? Pengandaian kesannya seperti menolak takdir.

[]
Seorang Pelari

Aku bisa saja berlari 100 meter dalam 12 detik. Tapi apa itu perlu kulakukan hanya untuk mengejar cintamu?

NB: Bolt, pelari asal Jamaika peraih medali emas olimpiade untuk berbagai nomor, membutuhkan waktu kurang dari 10 detik untuk nomor lari 100 m putra. Suryo Agung, sprinter Indonesia asal Solo, masih membutuhkan waktu di atas 10,5 detik untuk jarak yang sama. Sprinter tercepat di kampus saya tahun 2010 membutuhkan waktu 12,21 detik (on the record) untuk nomor 100 m putra.

Teropong

Ketika aku rindu akan suatu tempat yang pernah kukunjungi, aku menulisnya untuk aku baca bila aku rindu lagi. Siapa tahu orang lain juga ingin tahu tempat-tempat yang pernah kukunjungi.

Ketika aku rindu akan suatu tempat yang belum pernah kukunjungi, aku membacanya dari berbagai sumber. Itu cukup menghalusinasikan diri dan membohongi diri bahwa aku pernah ke sana. Setidaknya, bila ada orang bicara tentang tempat itu, aku mempunyai sedikit bahan pembicaraan.

Ketika aku rindu akan suatu tempat yang belum tertulis, mungkin tempat itu tidak ada atau belum ada orang pergi ke sana, aku akan menulisnya dengan gambaran yang aku inginkan.

Membaca laksana meneropong. Ketika bacan itu adalah suatu tulisan deskripsi tentang suatu tempat, seolah-olah aku sedang meneropong suatu tempat yang jauh cukup dari dalam kamarku. Ketika bacaan itu adalah tulisan narasi tentang peristiwa, seolah-olah aku sedang meneropong suatu opera atau drama yang entah di mana cukup dilihat dari tempatku membaca. Hewat waktu, serasa melipat-lipat waktu.

Qoute by a friend of mine: "Ketika aku rindu padamu, aku memanjangkan 'teropong'. Mengamatimu dari jauh tanpa kau tahu."

This should be encrypted []Di beranda, ada pajangan-pajangan yang sengaja kau letakkan. Kadang lukisan diri, kadang lukisan orang lain. Tapi itu semua terpajang di dinding dan di beranda. Itu artinya kau mengijinkan orang yang lewat di depan berandamu dan melihat-lihat keindahan pemandangan yang sengaja kau sediakan. Terima kasih.[]

Saya [penulis note ini] takut terjadi salah paham dengan paragraf tepat di atas ini. Mohon mengertilah bahwa seorang penulis kadang butuh 'menjadi orang lain'.

di ruang keluarga pada malam Jumat pahing yang hening.

Conference Call: Minggu Pagi di Beranda Rumah

Biyung dan Rama ada di rumah di Murtirejo-Kebumen-Jawa Tengah, mbak Arum ada di Pasar Minggu-Jakarta Selatan-DKI Jakarta, dan aku ada di Pondok Aren-Tangerang Selatan-Banten, berhubungan dalam satu jaringan komunikasi udara. Entah di mana suara kami bertemu. Tapi bagiku, rasanya kami sedang duduk bersama di beranda; membicarakan nikmat pagi, musyawarah rencana ke depan, dan cara-cara menempuhnya; dengan suguhan kopi dua cangkir untuk berempat buatan biyung.

Sepasang pohon mangga di depan rumah sedang berbunga lagi. Padahal buah mangganya juga masih ada banyak yang menggantung di pohon mangga yang sebelah kiri. Pohon mangga sebelah kanan belum berbuah sejak dipangkas rapi beberapa tahun yang lalu, seolah-olah pohon itu adalah jantan. Kata Biyung, "Lebaran ini mungkin pas sedang bagus-bagusnya." Lalu mbak Arum berharap,"Nanti aku mau metik sendiri mangganya. Kan aku yang merawatnya, dulu."

Satu jam pun terasa cepat berlalu dan kurang. Namun, wejangan penutup menjadi begitu berarti untuk seminggu ke depan: disiplin, prihatin, sabar, dan tawakkal.

Oh ya. Ada salam dari Rama untuk teman-teman (Al kausar 52).

Subuh di Teluk Barat

: istri seorang nelayan

Kau, jala, pancing, dan perahu
serta serantang sarapan
melabuh laut dalam gelap, meninggalkan Teluk Barat
ke laut lepas.

Aku tak menunggumu pulang
karena kau tak pernah kuanggap pergi
Aku tak berharap tangkapanmu,
mengolahnya, memakannya kita berdua

Aku setia menunggu tubuhmu untuk ku-lap keringatnya
dan mengisi kembali rantang sarapanmu.
*
subuh ketujuh aku tak mengisi rantang sarapanmu,
kularung sarapan, tapi bukan dalam rantang
kau sudah tak butuh rantang

karena pasti kau tak makan sepekan itu
"Aku suapin ya?"
mulai kukirim sepotong gerak bibir
bersuara tentang ayat-ayat dari buku yang tidak ada keraguan di dalamnya

sebagai kabar gembira
:bahwa kau masih mendapat sarapan dariku
sebagai pengingat, dan mengingatkan
pasti laut lepas Teluk Barat belum pernah mendengar-Nya darimu.

Bintaro-Jurangmangu, 9 November 2010
selepas Quiz Cost Accounting yang mendadak.

An Endless Chain of Heaven

Clue 1: Surga seorang anak laki-laki ada di telapak kaki ibunya.(untuk anak perempuan lihat clue 2 yang berlaku khusus ketika telah menikah)

Clue 2: Surga seorang wanita ada di telapak kaki suami. (mengertilah bahwa clue 2 ini bersamaan arti dengan 'wanita harus tunduk pada perintah suaminya selain pada perintah kemaksiatan')

Jadi, seorang anak laki-laki harus patuh pada ibunya dan ibu itu harus patuh pada suaminya. Sang suami itu harus patuh pada ibunya yang mana ibu itu juga harus patuh pada suaminya dan suami itu harus patuh pada ibunya dan ibunya harus patuh pada suaminya yang harus patuh pada ibunya yang juga ibu itu patuh pada suaminya dan......seterusnya.

Sebenarnya sih bukan 'endless chain', tetapi 'chain' ini berhenti pada 'Hawa harus patuh pada Nabi Adam a.s.'.

ruang keluarga Al Kausar 52 pada malam Jumat pahing

Hijrah

Selamat Datang
Welcome
Sugeng Rawuh
Ahlan Wasahlan


Blog "Mabruri Menulis: Hanya Ingin Kau Tahu" ini adalah blog pindahan dari blog berjudul dan bersubjudul sama dengan alamat berbeda. Keduanya dimiliki saya sendiri: Abdullah Mabruri. Alamat blog semula adalah http://elmabed.blogspot.com. Kini, aktivitas saya hijrah ke alamat http://abdullah-mabruri.blogspot.com.

Maaf dan terima kasih.