Friday, September 30, 2011

Pena (Sebuah Pameran Foto)

Kadang ketika saya berada di suatu tempat yang indah dan pada momen yang berharga, saya ingin sekali mengabadikannya dalam gambar. Misalnya ketika saya berada di dekat Pantai Carita (tidak sepenuhnya berada di pantai itu), di dermaga 3 Pelabuhan Merak, pada saat menghadiri wisuda, dan lain sebagainya. Ingin sekali saya mengabadikannya. Namun sayangnya, saya tidak memiliki kamera yang memadai; kamera digital pun tidak punya apalagi SLR.

Syukurlah akhirnya saya bisa mengabadikan momen dan tempat itu. Jadilah foto yang luar biasa bagus. Ini dia hasilnya.
*

Foto Pertama

Judul: Ingin Pergi ke Kotamu
Tempat: dermaga 3 Pelabuhan Merak
Waktu: Desember 2010



Pada foto terlihat kapal Mitra Nusantara yang baru saja menjauh dari dermaga 3 Pelabuhan Merak. Kapal bergerak menjauh sehingga yang tampak adalah bagian belakangnya. Masih terlihat jelas para penumpang yang duduk di dok paling atas, ada yang di bawah atap perahu, ada juga yang meminggir di pagar-pagar, dan juga di samping tempat parkir mobil di dok itu.

Posisi gambar kapal di foto itu ada di bagian kanan sedang dikiri foto ada karang yang terlihat hampir kotak. Jalur kapal ada di sisi kanan untuk menghindari karang itu. Air mengalun lembut sampai di tepian foto bawah dan di ujung pandangan adalah garis perspektif foto yang sengaja saya letakkan pada posisi tengah. Dengan begitu, laut dan langit mempunyai porsi yang sama untuk dilihat. Itu sengaja saya lakukan agar langit yang cerah dan laut yang lembut memberi kontribusi yang sama dalam keindahan foto saya.

Tidak ada objek yang saya fokuskan karena saya ingin membuat foto yang seolah-olah mewakili suasana hati saya. Saya sedang memandang jauh, ke utara, ada Pelabuhan Bakauheni yang tak terlihat di sana. Bakauheni adalah pintu gerbang Propinsi Lampung, termasuk salah satu pintu menuju Sumatera, via kapal laut. Dan, saya ingin pergi ke kotamu.

Foto kedua

Judul: Dirimu Bukan Putri Dhomas
Tempat: Kawah Dhomas-Tangkuban Perahu
Waktu: November 200X

Hujan. Asap dari beberapa kubangan air belerang tetap naik ke atas meski air hujan turun ke bawah. Mungkin air hujan tidak sempat memberi tahu bahwa di atas angin mulai ribut dan asap tidak sempat memberi tahu kalau di bawah terlalu banyak belerang yang akan menyampuri air hujan yang suci.

Kau juga naik, meninggalkan Kawah Dhomas. Sedang aku turun, menuju kawah Dhomas bersama dua penguasa kawah ('dho'; artinya 'dua'). Aku turun dan kau naik karena tidak saling memberi tahu, lebih tepatnya tidak bisa berkomunikasi

Hingga yang tampak dalam foto hanya hujan, asap, dan batu-batu sebagai latar belakang. Ada sedikit ranting pohon berdaun jarang yang menyusup foto di sebelah kanan . Kiri-kanan foto itu di bingkai oleh bambu-bambu yang menjadi tiang penyangga warung di mana saya mengambil gambar. Sedang bingkai atas-bawah adalah atap warung dan pagar warung yang juga terbuat dari bambu.

Kurasa foto saya ini juga hebat. Tetap tak ada yang difokuskan karena yang harusnya menjadi model adalah dirimu.

Foto Ketiga

Judul: Kereta Terbang
Tempat: Bumiayu
Waktu: mudik kelima, Desember 2010
Kereta telah memberi cacatan tersendiri sejak sejarah masa kecil saya. Selama mudik dari ibu kota, samapi saat ini, hanya kereta yang saya gunakan. Begitu juga dengan berangkatnya. Pemandangan yang akan dilalui bila menggunakan jalur Cirebon-Purwokerto (perpindahan dari pantura ke jalur selatan) yang paling indah akan berada di daerah Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah. Di situ, ketika kereta melintasi jembatan yang menghubungkan dua bukit, uuuhhh luar biasa pemandangannya. Dan, saya merasa terbang karena tidak bisa melihat daratannya. Keretanya berada di atas rata-rata pepohonan di situ.

Tapi, berkat kecanggihan kamera saya, foto yang dihasilkan bukan pemandang dari atas kereta. Tapi sebaliknya. Kereta tepat sekali berada di atas jembatan di antara dua bukit. Sekitar pukul dua siang, langit cerah seperti biasa. Teknik pengambilan foto tentu saja 'frog eye'atau mata katak karena objek yang saya ambil ada di atas (pengabadi momen ada di bawah, kaki bukit). Bagian bawah foto relatif banyak berwarna hijau pepohonan sedang bagian atas warna biru langit. Di antara keduanya itulah kereta berada.

Kereta itu terbang.
*

Alhamdulillah, kamera yang saya gunakan tidak mahal tetapi luar biasa canggih. Harganya hanya Rp2.000,00 dan saya beli di tempat fotokopian di Kalimongso. Keunggulan kamera saya ini adalah bisa menggambar objek di masa lalu (foto kedua), memotret perasaan yang ada di hati (foto pertama), dan menggambar objek dari sudut pandang orang lain sehingga seolah-olah kamera saya bisa berada di manapun (foto ketiga).

Terima kasih telah datang ke Pameran Foto "Pena" karena kamera yang saya gunakan adalah 'bolpoin' dan foto dicetak pada kertas folio bergaris.

No comments:

Post a Comment