Friday, September 30, 2011

Subuh di Teluk Barat

: istri seorang nelayan

Kau, jala, pancing, dan perahu
serta serantang sarapan
melabuh laut dalam gelap, meninggalkan Teluk Barat
ke laut lepas.

Aku tak menunggumu pulang
karena kau tak pernah kuanggap pergi
Aku tak berharap tangkapanmu,
mengolahnya, memakannya kita berdua

Aku setia menunggu tubuhmu untuk ku-lap keringatnya
dan mengisi kembali rantang sarapanmu.
*
subuh ketujuh aku tak mengisi rantang sarapanmu,
kularung sarapan, tapi bukan dalam rantang
kau sudah tak butuh rantang

karena pasti kau tak makan sepekan itu
"Aku suapin ya?"
mulai kukirim sepotong gerak bibir
bersuara tentang ayat-ayat dari buku yang tidak ada keraguan di dalamnya

sebagai kabar gembira
:bahwa kau masih mendapat sarapan dariku
sebagai pengingat, dan mengingatkan
pasti laut lepas Teluk Barat belum pernah mendengar-Nya darimu.

Bintaro-Jurangmangu, 9 November 2010
selepas Quiz Cost Accounting yang mendadak.

No comments:

Post a Comment