Friday, September 30, 2011

Teropong

Ketika aku rindu akan suatu tempat yang pernah kukunjungi, aku menulisnya untuk aku baca bila aku rindu lagi. Siapa tahu orang lain juga ingin tahu tempat-tempat yang pernah kukunjungi.

Ketika aku rindu akan suatu tempat yang belum pernah kukunjungi, aku membacanya dari berbagai sumber. Itu cukup menghalusinasikan diri dan membohongi diri bahwa aku pernah ke sana. Setidaknya, bila ada orang bicara tentang tempat itu, aku mempunyai sedikit bahan pembicaraan.

Ketika aku rindu akan suatu tempat yang belum tertulis, mungkin tempat itu tidak ada atau belum ada orang pergi ke sana, aku akan menulisnya dengan gambaran yang aku inginkan.

Membaca laksana meneropong. Ketika bacan itu adalah suatu tulisan deskripsi tentang suatu tempat, seolah-olah aku sedang meneropong suatu tempat yang jauh cukup dari dalam kamarku. Ketika bacaan itu adalah tulisan narasi tentang peristiwa, seolah-olah aku sedang meneropong suatu opera atau drama yang entah di mana cukup dilihat dari tempatku membaca. Hewat waktu, serasa melipat-lipat waktu.

Qoute by a friend of mine: "Ketika aku rindu padamu, aku memanjangkan 'teropong'. Mengamatimu dari jauh tanpa kau tahu."

This should be encrypted []Di beranda, ada pajangan-pajangan yang sengaja kau letakkan. Kadang lukisan diri, kadang lukisan orang lain. Tapi itu semua terpajang di dinding dan di beranda. Itu artinya kau mengijinkan orang yang lewat di depan berandamu dan melihat-lihat keindahan pemandangan yang sengaja kau sediakan. Terima kasih.[]

Saya [penulis note ini] takut terjadi salah paham dengan paragraf tepat di atas ini. Mohon mengertilah bahwa seorang penulis kadang butuh 'menjadi orang lain'.

di ruang keluarga pada malam Jumat pahing yang hening.

No comments:

Post a Comment