Sunday, October 30, 2011

Tour de Bintaro: Detailing Map

Minggu, 30 Oktober 2011
05.30
Kunkun Suryadi menunggu di kosnya, Sarmili. Aku dan Ahmad Izazi, yang juga warga Sarmili lebih 'pelosok', datang terlambat. Sekitar pukul 6 kami baru berangkat.


Bintaro adalah kawasan hunian. Bila standar kemewahan adalah posisi strategis, maka aku menilai hunian di kawasan Bintaro berada pada kelas menengah. Kelas atas, menurut parameterku, seperti kompleks hunian di kawasan Kemang, Menteng, dll. Sedang kelas di bawah menengah, ialah lebih di pinggir lagi dari Bintaro. Tapi di Bintaro kukira ada juga kawasan yang bisa kumasukan ke dalam kategori ini.


Jalanan lengang oleh kendaraan bermotor, seperti biasa hari Minggu. Pengguna jalan yang bersepeda, lari, atau berjalan, naik jumlahnya pada tiap weekend. Kami bersepeda santai saja, melewati taman di dekat Lotte Mart [apa sih namanya? River Park? Bukan kayaknya]. Di situ ramai. Dan kami berlanjut menuju sektor 7.

Friday, October 28, 2011

Jumat; Hujan dan Sepeda

Jumat pagi yang lembab kuawali dengan bersepeda ke Pasar Cipulir; mungkin sekitar 5 kilometer dari tempat tinggalku di Pondok Aren. Dengan jaket hitam STAN ATHLETE [sengaja untuk menyembunyikan kaos-beridentitas yang kupakai], tanpa bekal dan tanpa tas, aku melaju menuju Jalan Ceger mengikuti jalur angkot putih nomor 05. Sekali lagi, bukan tujuan berupa tempat yang menjadi acuanku bersepeda. Pokoknya bersepeda, berjalan-jalan yang barangkali bisa menambah wawasan, lebih dari sekedar kesehatan.


Tapi tak banyak kutemukan sesuatu dari perjalanan berangkatku. Mungkin karena aku mengikuti jalur angkot yang telah umum dilalui. Atau, sesuatu yang dapat kuceritakan hanyalah   para praktisi transportasi Jakarta yang bodoh: pengguna jalan individu yang sembarangan, sopir yang ugal-ugalan, dan lain-lain yang sudah membosankan di dengar.

Thursday, October 27, 2011

Budaya Nusantara: Minangkabau

 Baru hari Kamis, kuliah minggu ini sudah selesai. Baiklah, aku ingin meresume salah satu matkul minggu kelima ini: Kelas Budaya Nusantara, pertemuan kelima Semester 5, Rabu 26 Oktober 2011 pukul 08.00-09.40 WIB di I307.


Ini presentasi kelompok tiga. Mereka adalah Argya, Herry, Lutfian, Mustofa, dan Kukuh. Dua presentasi sebelumnya adalah tentang kebudayaan Aceh dan Batak. Aku belum sempat menuliskan resume presentasi itu di blog ini. Nantilah, baru juga ada ide buat posting materi kuliah yang kiranya pas.
Rumah Gadang


Argya memulai presentasi. Herry jadi operator. Presenter lain berjajar di depan, mempersiapkan bahan. Mahasiswa lain menyimak dengan takzim [bukan ngantuk, aku yakin itu].


"Selamat pagi teman-teman," sapa Argya. Lalu dia memperkenalkan anggota kelompoknya sebelum ia mengenalkan kebudayaan Minangkabau pada kami.

Wednesday, October 26, 2011

Catatan Malam Lebaran: Bulan di Atas Kuburan

Berkaitan dengan idulfitri, saya teringat dua buah karya sastra; cerpen dan sajak. Cerpennya berjudul "Tamu yang Datang di Hari Lebaran" dan sajaknya berjudul "Malam Lebaran".
Mari saya mulai dengan sajak singkat Sitor Situmorang:

"Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan"

Terlepas dari maksud tersirat penulis sajak, saya mempunyai pemikiran tersendiri tentang idulfitri kali ini.

Night and Light

Time goes by and history leaves,
both give something to learn,
and so some regrets

Night awaits light till the end of her life
Just after the light has come, she falls out
She hopes a beam of light jumps to her pitch dark

Light always miss the night as it loves the sun
Need to meet and will give all of its body
Till it had no more
Except a life of night
*
Time goes by. Left histroy, for learning and regreting. every night I wait the light, till the end of life.

Tuesday, October 25, 2011

Kuitansi Denda dan Sanksi

Saat ini, hal yang paling harus kuhindari adalah perbuatan yang mengundang denda dan/atau sanksi. Alasannya, aku tak mau keluar uang untuk hal-hal demikian. Dan, naasnya, aku mempunyai cerita tentang denda hari ini. Cerita ini bukan milik orang lain, tapi aku sendiri yang menjalaninya.

Cerita berawal ketika aku baru membuka buku Advanced Accounting 9th edition. Aku baru menyadari bahwa aku seharusnya mengembalikan atau memperpanjangnya tanggal 21 Oktober, yaitu hari Jumat lalu. Hari Jumat, aku lupa mengecek tanggal kembali buku pinjamanku. Hari Sabtu-Mingu, perpustakaan libur. Hari Senin, kelas Budaya Nusantara pindah hari, dan hari itu tak ada kuliah lain. Barulah hari ini aku kuliah, kebetulan ada tugas Advanced dari buku itu. Dan.... astraghfirullah! Aku harus membayar denda! Tidak! Sangat tak berguna bila uang hanya digunakan untuk mengganti sebuah keteledoran.

Monday, October 24, 2011

Tetap Menulis

Tahun terakhir di SMA, kelas XII setelah aku benar-benar dipensiundinikan dari perolimpiadean, saat itulah aku mulai menulis. Ceritanya, ada ruang kosong di pikiranku. Sepulang dari Bandung, aku seperti anak linglung yang tak mau kembali ke sekolah. Aku... rindu sesuatu. Atau rindu seseorang? Tapi itu masa lalu. Meski Allah pun tak akan menghapus masa lalu, aku berharap perbaikan di masa kini dan masa depan.


Ya, dulu aku menulis dengan tujuan pelepasan semata. Awalnya aku menulis di buku binder, itu untuk tulisan-tulisan curhat pribadi yang rahasia. Untuk tulisan pribadi yang tak masalah bila dipublikasi, aku menulisnya di catatan facebook dan blog. Waktu itu aku menulis dengan lancar, santai, dan enjoy. Karena tulisanku bernuansa santai dan tak ada beban serta batasan-batasan penulisan, banyak tulisan yang kuhasilkan.

Wednesday, October 19, 2011

Tentang Laila

Bila Kawan berjumpa dengan nama Laila pada tulisanku, terutama pada puisiku yang berjudul "Laila", kuharap tiada persangkaan bahwa ia adalah nama seorang wanita.

Memang Laila adalah sebuah nama. Namun bila Kawan bertanya, "Nama siapa yang tersembunyi di balik nama Laila?" Atau sekalian tanya, "Siapa Laila sebenarnya?" Pertanyaan itu, keduanya, adalah salah. Karena seharusnya Kawan mengawali kalimat tanya dengan "apa" bukan "siapa".

Tuesday, October 18, 2011

Ilmu Bersamudera Luasnya, Mana yang Akan Kau Layari?

Adakah yang bisa memberi argumentasi kepadaku agar aku lebih serius lagi dalam belajar Advanced Accounting?


Di bumi ini ilmu demikian banyaknya, hingga tak mungkin waktu hidup kita mencukupi guna mempelajarinya. Tentu kita harus memilihnya; mendahulukan yang kiranya perlu. Lalu, apa itu?

Friday, October 14, 2011

Astro-no-my

Awalnya, aku menamai blog pertamaku dulu dengan ASTRO-NO-MY karena terinspirasi oleh web Chem-is-try. Analoginya sama, yaitu nama, secara khusus pemenggalan suku katanya, mencerminkan maksud dan tujuan pemenggalannya, dan tentu juga mewakili nama itu sendiri.

Chem-is-try diartikan sebagai Kimia [Chem] adalah [is] mencoba [try]. Jadi, bukan kimia jika tidak diawali dengan mencoba. Sedangkan Astro-no-my menurutku adalah bintang, yang mewakili langit secara keseluruhan [astron=bintang], bukan [maksudku bukan hanya, untuk kata 'no'] milikku [makna yang agak memaksa untuk kata 'my']. Jadi, Astro-no-my kuharapkan agar diartikan sebagai astro itu bukan milikku saja, tapi milik kita bersama.

Namun, kini aku ragu dengan makna itu. Apakah astro memang bukan milikku? 

Quick Silver

12 Oktober 2011

Rasa aku seperti menemukan kembali masa kecilku; lincah, aktif, cerdik, dan cukup nakal. Bertahun-tahun aku menginginkan sepeda balap, tepatnya sejak kelas enam SD. Waktu itu, temanku membawa sepeda balap ke sekolah. Pulangnya, sebagaimana kebiasaan teman-teman satu gengku, mampir ke rumahku dulu; belajar kelompok, istirahat, atau sekedar minta air. Juga di hari-hari libur atau sore hari setelah pulang sekolah, teman-teman biasa main ke rumahku. Oh ya, gengku itu ada lima anak; aku, Dedek (a.k.a. Miftah), Romi, Heru, dan Windi. Heru adalah temanku yang membawa sepeda balap dengan ukuran roda 24"x1 3/8". Semua temanku membawa sepeda, kecuali aku, karena rumah mereka jauh dari SD dan aku cukup nebeng saja.

Ya, aku sangat ingin memiliki sepeda balap. Aku sering meminjam sepeda Heru. Kukebut si Merah, sepeda balap Heru memang berwarna merah, di pekarangan samping kiri rumah. Sungguh, aku sangat tertarik. Lebih dari itu, aku memang menyukai petualangan, perjalanan, dan kecepatan. But, seperti bertepuk sebelah tangan, aku hanya bisa memimpikannya di malam sunyi. Beruntung si Heru itu, sepeda itu diberi oleh Pakdenya, walaupun itu bekas dari saudara sepupunya sendiri.


Thursday, October 13, 2011

Etika Profesi Kasir

Ada yang tidak tahu apa itu kasir? Tahu donk..
Ya, tiap hari kerjaannya adalah menghitung belanjaan pembeli dan menerima pembayarannya. Jadi, setiap hari ia berinteraksi dengan banyak pembeli. Dan, entahlah mengapa, kebanyakan kasir adalah perempuan atau wanita. Bahkan mungkin hampir semua kasir adalah wanita. Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Lalu kau bertanya, "Apa masalahnya kalau kasir itu wanita?"

Wednesday, October 12, 2011

Air yang Mengalir

Dan dari airlah kehidupan itu dimulai.
Sumber foto: http://siloindrajhelah.blogspot.com/2011/04/hidup-bagaikan-air.html

Bukan suatu perumpamaan, air yang mengalir adalah air yang mengalir, dari suatu tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah tentunya. Demikian itulah sunnatullah. Namun bisa saja air mengalir ke seluruh arah; atas, bawah, kanan, kiri, dan diagonal. Tapi bukan itu yang akan aku sampaikan.


Monday, October 10, 2011

Pecaron, Sebuah Pantai Perawan


[foto dari gopexs.blogspot.com]  

Masih 5 September 2011

Memang telah diniatkan untuk menilik Pantai 'perawan' Pecaron, rasanya tak puas jika digantikan dengan berkunjung ke Pantai Menganti saja. Jadi, kami tetap bertolak ke sana, sesuai rencana awal. [Ikuti perjalanannya di posting-an sebelumnya: Menantimu di Menganti]

Sunday, October 9, 2011

Menantimu di Menganti

Senin, 5 September 2011

Berhubung kami adalah Muslimin yang mengikuti peraturan pemerintah perihal hari raya Idulfitri 1432 H, maka hari ini adalah hari raya Idulfitri keenam atau H+5. Sebagaimana telah menjadi kesepakatan bersama, hari ini kami diundang untuk bersilaturrohmi ke rumah salah seorang teman, yaitu Muhammad Solihin, di Kecamatan Puring, yang rumahnya hanya dua kilometeran dari pantai selatan.

Oh ya, perkenalkan dulu, kata ganti "kami" di sini merujuk pada delapan alumni SMAN 1 Kebumen yang lulus tahun 2009 yang secara khusus pernah menjadi pengurus Rohis. Tapi kegiatan ini tidak atas nama suatu organisasi apapun. Hanya saja di antara kami telah terjalin tali yang cukup kuat untuk bergerak bersama dan berkumpul. Delapan orang itu adalah aku [STAN 2009], Fahmi H. [ITB 2009], Teguh A. [UGM 2009], Danang S. [UI 2009], Deny W. [UNY 2009], M. Solihin [STAN 2010], M. Zen R. [STAN 2009], dan Idris A. [STAN 2009].

Tuesday, October 4, 2011

The Spirit of Java

September 15, 2011

Here I come, Solo, the Spirit of Java, to find something but not to meet someone.

Tadinya berniat pergi dari Jogja ke Solo dengan cara lifting alias sebagai free rider di kereta ekonomi apa saja atau bahkan kereta barang sekalipun. It's fine by me. Tapi ternyata tidak bisa masuk stasiun melalui rel kereta. Harus melalui pintu. Itu artinya aku harus membeli tiket. Uh. Kudengar ada pemberitahuan akan masuk Prameks jurusan Solo. Itu kereta terdekat, harus kukejar bila tak ingin menunggu satu-dua jam lagi. Aku berlari sepanjang jalan di depan Stasiun Lempuyangan, terus sampai loket. Yap, dapat.

Cukup malu kuakui bahwa ini adalah kunjungan pertamaku ke Solo. Tak apa. Berkelana itu tidak penting destinasinya, tapi perjalanan itu sendiri. Iya kan? Wah, alibi. Tujuanku pergi ke Solo, sebagaimana biasa perjalananku adalah untuk mencari inspirasi, data perjalanan, dan tentu saja pelajaran berupa pengalaman. Bukan untuk menemui siapapun kenalanku.

Bersepeda di Jogjakarta

14 September 2011

Rencana semula, jika semuanya beres, aku akan pergi ke Jogja dengan cara lifting saja alias menumpang gratis [free rider]. Dari rumah berjalan, lalu nebeng seseorang tetangga yang berangkat sekolah. Kebetulan sekolahnya dekat dengan stasiun.

Kutojaya Utara, Sawunggalih Utama, Progo, sudah lewat ke timur semua. Kutunggu Logawa.

Naas, aku baru naik ketika kereta sudah mulai perlahan jalan. Aku dapat gerbong paling belakang. Bodohnya, aku tak melihat di lorong pintu sudah berdiri paa security dan kondektur. Pemeriksaan karcis di mulai dari orang yang ada tepat di depanku. Lalu aku. Kukatakan bahwa aku hanya akan numpang sampai Kutoarjo. "Kenapa tidak bilang saya dulu?" Pak Kondektur aneh sekali. Jelas pertanyaannya hanya akan memojokkanku. "Diturunkan di stasiun terdekat ya?" Itu memang aturannya. Tak mau aku membayar. Lha wong cuma sampai Kutoarjo koq.