Wednesday, October 12, 2011

Air yang Mengalir

Dan dari airlah kehidupan itu dimulai.
Sumber foto: http://siloindrajhelah.blogspot.com/2011/04/hidup-bagaikan-air.html

Bukan suatu perumpamaan, air yang mengalir adalah air yang mengalir, dari suatu tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah tentunya. Demikian itulah sunnatullah. Namun bisa saja air mengalir ke seluruh arah; atas, bawah, kanan, kiri, dan diagonal. Tapi bukan itu yang akan aku sampaikan.



Dengan air yang suci dan menyucikan itulah kita harus bersuci. Air suci yang menyucikan itu antara lain: air sumur, air hujan, air laut, salju (es), air sungai,  mata air, dan sejenisnya. Ada pula air suci, tapi tidak menyucikan, di antaranya air di dalam buah kelapa, air jus semangka, air yang tercampur bahan (benda) lain yang suci: air kopi-susu-teh, dan sebagainya. Air yang suci tapi tidak menyucikan ini, tidak bisa menyucikan najis dan tidak bisa dipakai untuk berwudu dan mandi wajib.

Air yang mengalir, dengannyalah kita mencuci pakaian. Pada bilasan terakhir, gunakan air yang mengalir untuk memastikan pakaian cucian kita menjadi suci, baik keadaan awalnya suci ataupun bernajis. Lebih baik lagi bila sebelum dicuci, pakaian itu dialiri air mengalir sebelum masuk bak rendaman berdeterjen. Demikian pesan guru (ustadz), semakin mengokohkan apa yang telah kuaplikasikan sejak SMP.

Kesucian pakaian sangat perlu diperhatikan dalam kita mencuci, dan itulah sebenarnya inti dari proses mencuci. Bukan sekedar menjadikannya bersih.

Karena bersih tidak sama dengan suci.

Istinja' wajiblah dengan air suci dan menyucikan. Dewasa ini, sangatlah mudah mendapatkannya, salah satunya yang paling familiar adalah air sumur yang dialirkan melalui pipa, lalu keluar melalui keran. Air yang mengalir untuk bersuci dari hadast dan najis.

Oh ya, mari kita meninjau praktik mencuci baju era modern. Misalnya dengan mesin cuci. Apakah airnya mengalir? Bila iya, baikkah air itu setelah bercampur dengan pakaian (yang mungkin saja bernajis)? Air dan pakaian bersatu dalam satu wadah; yakni mesin cuci, sedangkan kapasitas air yang tertampung dalam mesin itu tidaklah sampai 2 qullah. Kalau aku pribadi lebih memilih mencuci baju dengan manual saja, dibilas dengan kucuran air.

Kasus yang kedua adalah binatu (laundry). Aku tidak tahu apakah bajuku tidak tercampur dengan baju orang lain, bahkan baju yang bernajis--terlebih najis berat. Juga aku tak tahu apakah tukang binatu itu menerapkan cara syar'i dalam mencuci baju. Untuk hal yang sangat penting ini, menyucikan pakaian, aku tak mau kompromi. Kuurus sendiri keperluanku, maka aku meyakini kebenaran, keshahihan, dan kesuciannya.

[Aku aku jadi terinsirasi home-business buat istriku kelak :D, biar tak perlu bekerja di luar rumah.]

Sumber foto: http://pilosopibodoh.blogspot.com/2010/02/keran-air.html


Air yang mengalir, ke mana... ke mana... ke mana?

Kamar nomor 18 Hasan Kos, bakda 'isya.

No comments:

Post a Comment