Thursday, October 27, 2011

Budaya Nusantara: Minangkabau

 Baru hari Kamis, kuliah minggu ini sudah selesai. Baiklah, aku ingin meresume salah satu matkul minggu kelima ini: Kelas Budaya Nusantara, pertemuan kelima Semester 5, Rabu 26 Oktober 2011 pukul 08.00-09.40 WIB di I307.


Ini presentasi kelompok tiga. Mereka adalah Argya, Herry, Lutfian, Mustofa, dan Kukuh. Dua presentasi sebelumnya adalah tentang kebudayaan Aceh dan Batak. Aku belum sempat menuliskan resume presentasi itu di blog ini. Nantilah, baru juga ada ide buat posting materi kuliah yang kiranya pas.
Rumah Gadang


Argya memulai presentasi. Herry jadi operator. Presenter lain berjajar di depan, mempersiapkan bahan. Mahasiswa lain menyimak dengan takzim [bukan ngantuk, aku yakin itu].


"Selamat pagi teman-teman," sapa Argya. Lalu dia memperkenalkan anggota kelompoknya sebelum ia mengenalkan kebudayaan Minangkabau pada kami.



Pertama, letak. Daerah asal kebudayaan Minang meliputi wilayah Sumatera Barat kini, termasuk Kepulauan Mentawai [ada juga buku yang mengecualikan Mentawai]


Ah, tapi kalau aku menulis juga tentang kebudayaan Minang, meski resumenya saja, pastilah akan panjang lebar. Bagaimana kalau bahan presentasi mereka di-download saja di sini? Tafadhol. [maaf belum sempet upload; karena belum dapat file-nya; hehe]


Foto Ngarai Sianok dulu deh!
http://riedho-cbs.blogspot.com/2011/07/keindahan-ngarai-sianok.html




Presentasi materi diakhiri dengan drama Malin Kundang. Anehnya, semua pemerannya adalah laki-laki. Luthfian sebagai Malin, Argya sebagai Ibu Malin, Mustofa sebagai istri Malin,  Kukuh sebagai preman [figuran]. Sebenarnya lebih mirip lawakan daripada drama, atau dengan sedikit paksaan kita sebut saja 'drama komedi'.


Lanjut, sesi tanya jawab termin pertama; kesempatan bagi tiga penanya.


Kami berebut, aku yang sengaja duduk di bangku paling depan [fokus mataku mulai memendek] turut mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Aku punya dua pertanyaan bagus. Tapi, presenter tak memilihku pada tiga kesempatan pertama. Jujur saja, aku setuju dengan perkataan dosen Etika Profesi, Bapak Satria Hadi Lubis, bahwa kira-kira begini: penilaian manusia memang tidak adil [kayaknya begitu beliau bilang; maaf kalau salah].


Tak percaya? Ini buktinya.


Ditunjuk sebagai penanya pertama, Irgi, aku kira sebab dia ditunjuk karena ikatan teman-lebih-akrab semata. Kuanggap ini pilihan kurang objektif. Dan, mari dengar apa pertanyaannya, "Mengapa kalian tidak memakai pakaian adat?"


Gubrak!!!


Satu kesempatan pertanyaan hilang hanya untuk satu pertanyaan yang bisa ditanyakan di luar forum itu. Memang sih, sebagai bentuk totalitas, biasanya kelompok presenter mengenakan pakaian adat kebudayaan yang sedang menjadi tema presentasi; sebagai contoh yang terlihat oleh mata langsung. But, forget it.


Penanya kedua, aku lupa. Penanya ketiga Citra Nopita a.k.a Cinop. Ia bertanya tentang pembagian waris di Minangkabau. Ok.


Termin kedua dibuka bagi tiga penanya. Akhirnya aku menjadi penanya pertama termin ini. Dan, ini dua pertanyaanku.


"Terima kasih atas kesempatannya. Tertarik dengan kebudayaan Minangkabau, saya mempunyai dua pertanyaan. Pertama, apa yang mendasari suku Minangkabau memilih matrilineal daripada patrilineal sebagaimana suku-suku pada umumnya? Kedua, masih berkaitan dengan matrilineal, mengapa sistem ini dapat bertahan, padahal kita tahu agama mayoritas suku Minangkabau adalah Islam yang menempatkan laki-laki sebagai pokok garis keturunan [patrilineal]?"


Singkat cerita, jawaban-jawaban dari presentator [eh, bukan presenter?; maksudku sama saja] antara lain sebagai berikut.


Tentang waris, laki-laki tidak mendapat jatah karena laki-laki cenderung untuk merantau dan tak perlu harta waris karena ia akan kembali dari tanah rantau sebagai orang yang berhasil, atau tidak akan kembali sebelum berhasil.


Bila ada dilema budaya-agama, maka dimenangkan oleh agama, dengan syarat harus keluar dari suku Minang. Contohnya, H. Agus Salim yang berpendapat berbeda dengan adat Minang. Beliau tetap pada pendiriannya yang berbeda dengan adat Minang. Akhirnya beliau pergi dari ranah Minang dan tak pernah kembali.


Oh ya, mumpung ingat. Banyak orang berpengaruh dan hebat di Indonesia berasal dari Suku Minang, antara lain: H. Agus Salim, Buya Hamka [my idol], Chairil Anwar, Imam Bonjol, Abdul Muis, Taufik Ismail dan banyak lagi, bukan hanya dari kalangan penulis. Memang budaya Minang tergolong sangat baik untuk mencetak pemuda berprestasi. [cie...]


Kalau asal mula matrilineal, tujuan awal mereka adalah mempertahankan kekayaan. Dulu, ada pendatang datang untuk mencari harta dan tanah [dari Majapahit]. Nah, daripada terjadi perang, lebih baik putri-putri Minang dinikahkan dengan prajurit Majapahit dengan aturan harta tetap pada pihak wanita [demikian yang bisa kutangkap dari jawaban Argya].


Oh ya. Berkaitan dengan pariwisata Minang, I really really want to visit Ngarai Sianok, Danau Maninjau, and Danau Singkarak!! Aku sih tidak berharap penempatan kerja di sana. Tapi aku memang ingin mengenal Indonesia dengan menjelajahi bumi nusantara ini.

Danau Singkarak
http://www.potlot-adventure.com/2009/04/07/indahnya-danau-singkarak-renyahnya-ikan-bilih/


Terakhir dari kelompok tiga: sepiring rendang Padang dihidangkan. Sekelas ramai-ramai melahapnya. [aku tidak kebagian]


Selesai ditulis di kamar, malam jumat pukul 21.59.

1 comment: