Wednesday, October 26, 2011

Catatan Malam Lebaran: Bulan di Atas Kuburan

Berkaitan dengan idulfitri, saya teringat dua buah karya sastra; cerpen dan sajak. Cerpennya berjudul "Tamu yang Datang di Hari Lebaran" dan sajaknya berjudul "Malam Lebaran".
Mari saya mulai dengan sajak singkat Sitor Situmorang:

"Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan"

Terlepas dari maksud tersirat penulis sajak, saya mempunyai pemikiran tersendiri tentang idulfitri kali ini.


Bulan di atas kuburan pada malam lebaran adalah suatu hal yang mustahil terjadi karena bulan-baru (sabit) tanggal 1 hanya muncul di ufuk barat selama beberapa menit saja. Tidak di atas kepala (sekitar zenit), tetapi melayang rendah di barat. Dan, tentu saja, tidak mungkin berada di atas kuburan. Dari kemustahilan ini, saya menginterpretasi sajak tersebut sebagai perlambang ketidakselarasan keadaan pada malam lebaran yang saya jalani ini, yang mungkin juga mirip dengan malam lebaran ketika Situmorang berkunjung ke kediaman Pramoedya namun nihil ia temui.

Berdasarkan pikiran rasional saya, makna kuburan tidak akan jauh dari lingkungan ini: kematian, kemelaratan, kesedihan, kesesatan, tangis, dll. Sedang bulan sering menjadi umpama untuk kecantikan, kebaikan, kelemahlembutan, keceriaan, kebahagiaan, dsb. Secara kasar, saya dapat mengambil kesimpulan demikian arti sajak ini: kebahagiaan di atas penderitaan (orang lain), tawa di atas tangis, keceriaan di atas kesedihan (orang lain). Malam ini, begitulah yang saya rasakan.

Malam ini kita diberi kesempatan untuk merayakan idulfitri dengan seraya-rayanya; takbir bergema di setiap sudut rumah ataupun surau, muslimin bersarung-berpeci berlalu-lalang membagi zakat fitrah, dan petasan berbagai rupa turut disulut mengusir gemintang yang ingin pula merayakan kemenangan. Nah, inilah yang sebenarnya membuat malam lebaran ini serasa bulan di atas kuburan; ada sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Di saat suatu negeri masih terkategori miskin-melarat [atau kalau dengan bahasa halus; negara dunia ketiga], banyak materi yang dihambur-hamburkan untuk sekedar menyulut petasan, yang dalam prioritas kebutuhan tidak termasuk primer maupun sekunder. Bahkan, bukan pula kebutuhan tersier, karena itu bukanlah kebutuhan, melainkan keinginan.

Apalagi sebagai golongan yang berpendidikan [ulil albab], sangatlah tidak elok membelanjakan harta untuk hal-hal demikian. Terlebih tingkah laku seperti itu bukanlah ciri muslimin yang taat.

Karya sastra yang kedua adalah cerpen "Tamu yang Datang di Hari Lebaran" karya A.A. Navis.
Ringkas saja: bagaimana kalau, sebagaimana dalam cerpen itu, tamu yang datang adalah Izroil pada lebaran yang seperti bulan di atas kuburan ini?
*
Malam Lebaran [versi Abdullah Mabruri]
[1]
gerimis tengah malam
kuregang tenda bambu, guguk istilahnya
di pinggir jalan menuju segara selatan
untuk berjual pembasah kerongkongan
barangkali ada saudara bertandang kehausan
atau lupa kendi minumnya
[2]
yang kurayakan ini bukanlah kemenangan
tapi kebisingan
karena hujan terlambat datang
untuk menghapus api
di penghujung Ramadhan
[3]
Wahai Tuhan langit dan bumi, dan Tuhan apa-apa yang ada di antara keduanya,
bolehkah si Buta merayakan idulfitri meski ia tak melihat (hilal)?
atau bolehkah si Dungu meneriakkan kemenangan walau ia tak bisa menghitung?
sedang mereka yang berbuka tiga kali dalam sehari telah potong jago kemarin pagi.
*
masih malam lebaran 1432 H [31 Agustus 2011] di Kebumen, pukul 03.59 WIB

2 comments: