Tuesday, October 25, 2011

Kuitansi Denda dan Sanksi

Saat ini, hal yang paling harus kuhindari adalah perbuatan yang mengundang denda dan/atau sanksi. Alasannya, aku tak mau keluar uang untuk hal-hal demikian. Dan, naasnya, aku mempunyai cerita tentang denda hari ini. Cerita ini bukan milik orang lain, tapi aku sendiri yang menjalaninya.

Cerita berawal ketika aku baru membuka buku Advanced Accounting 9th edition. Aku baru menyadari bahwa aku seharusnya mengembalikan atau memperpanjangnya tanggal 21 Oktober, yaitu hari Jumat lalu. Hari Jumat, aku lupa mengecek tanggal kembali buku pinjamanku. Hari Sabtu-Mingu, perpustakaan libur. Hari Senin, kelas Budaya Nusantara pindah hari, dan hari itu tak ada kuliah lain. Barulah hari ini aku kuliah, kebetulan ada tugas Advanced dari buku itu. Dan.... astraghfirullah! Aku harus membayar denda! Tidak! Sangat tak berguna bila uang hanya digunakan untuk mengganti sebuah keteledoran.


Yah, meski, palingan cuma berapa ribu, tak sampai sepuluh ribu koq.

"Pak, ngembaliin buku." Aku gugup karena ada kuliah selanjutnya dan aku belum sholat dzuhur (masih menunggu jamaah berikutnya).
"Terlambat ya? Denda Rp3.000."
"Loh, pak. Sabtu-Minggu kan libur?" Aku ngotot. Menurutku, aku hanya terlambat 2 hari, yaitu Senin dan hari ini. Kan, seharusnya buku itu kukembalikan Jumat. Jadi, aku cuma terlambat dua hari kerja, yaitu Senin dan Selasa.
Tapi bapak petugas perpustakaan itu tetap pada pendiriannya. "Lha iya, tiga ribu."

Aku cuma menyiapkan uang receh sebesar perhitunganku, yaitu dua ribu rupiah. Tadi, uang telah kuperlihatkan pada bapak itu. Tapi sebelum bapak itu menerima uang itu, aku mengganti uang itu dengan selembar dua-puluh-ribuan. Agar mencukupi dendaku.

Tapi bapak itu tak mau menerimanya. Malah minta uang yang dua ribu tadi. Mungkin tidak ada kembalian atau malas mengurusi kembalian. Aku sih oke saja. Kanemang seharusnya sejumlah itu dendaku. Kalau dendaku benar-benar tiga ribu, aku pun tak mau bila hanya disuruh bayar dua ribu. Jangan sampai masalah uang kecil ini membuat dagingku tercemar!

Alhasil, sepanjang perjalananku kembali ke Gedung I, tempatku kuliah, aku berpikir bahwa telah terjadi tindakan yang melanggar hukum; korupsi kecil-kecilan.

Pertama; bapak petugas perpustakaan itu menentukan denda seenak hatinya. Ia tidak bisa dengan mudahnya menurunkan denda dan/atau sanksi seseorang gara-gara tidak ada kembalian, apalagi malas mengurusi kembalian. Itu tidak dapat dibenarkan secara hukum, kodetik PNS, apalagi agama! Ini kusaksikan bukan cuma sekali. Pernah, suatu waktu aku mendapati seorang yang menghilangkan buku pinjaman perpustakaan. Dan, ia tidak segera melapor atas kehilangan itu. Jadilah mahasiswa itu dikenakan dua macam denda: 1) denda ganti rugi menghilangkan buku, dan 2) denda keterlambatan yang mencapai berbulan-bulan. Jumlah dendanya mencapai 500-an ribu [aku lupa jumlah tepatnya]. Dan, konyolnya, bapak petugas perpustakaan yang sama itu mengatakan, "Ya sudah, kamu saya beri keringanan. Kamu cukup membayar 300 ribu saja." Hatiku berteriak, "Seberapa wewenang seorang Pegawai Negeri Sipil sehingga ia bisa menantang Peraturan Menteri Keuangan?" PMK [Peraturan Menteri Keuangan] jelas tertulis bahwa denda keterlambatan adalah Rp1.000 per  buku per hari. Jadi, jumlah nominal denda tak bisa diubah seenaknya oleh seorang PNS, apalagi dengan jabatan tata laksana!!! Woy!!!

Kedua; petugas perpustakaan itu tidak memberikan tanda bukti apapun atas penarikan dendan dan/atau sanksi. Padahal, segala transaksi hanya akan dicatat oleh bagian akuntansi jika dan hanya jika ada bukti transaksi. Jadi, tak ada yang bisa memasukkan uang itu ke dalam kategori penerimaan oleh BLU [Badan Layanan Umum]. Harusnya, jika sistem informasi akuntansi di kampus ini benar, setiap penarikan denda dan/atau sanksi ada bukti; semacam kuitansi tanda terima.

Itu memang hal sepele. Tapi, Kepala Ajun Akuntan, Bapak Fadlil, telah berpesan kepada para mahasiswanya untuk melaporkan segala tindakan pemungutan yang tidak berdasar. Menurutku, itu tidak berdasar! Atau, setidaknya salah dalam penerapan. Tapi, kupikir, akankah ini akan ditindaklanjuti? Aku pesimis dan malas melapor.

Maaf, aku justru menuliskannya di sini. Bukan aku ingin menjelekkan instansi manapun. Tapi, aku hanya ingin berbagi. Eh, mungkin saja ada yang menganggap pikiranku ini lebay atau justru ada yang bersimpati, mari kita berbagi.

di kamar, sepulang mengikuti Kajian Bahasa Arab, menjelang tidur.

2 comments:

  1. pengalaman d perpus..yg sudah menjadi tradisi mahasiswa v.s. operator..hahaha bagus...lanjutkan..

    ReplyDelete
  2. Mantap bro...

    Pertahankan prinsip hidup yang berlandaskan pada kejujuran dan kebenaran..

    ReplyDelete