Monday, October 10, 2011

Pecaron, Sebuah Pantai Perawan


[foto dari gopexs.blogspot.com]  

Masih 5 September 2011

Memang telah diniatkan untuk menilik Pantai 'perawan' Pecaron, rasanya tak puas jika digantikan dengan berkunjung ke Pantai Menganti saja. Jadi, kami tetap bertolak ke sana, sesuai rencana awal. [Ikuti perjalanannya di posting-an sebelumnya: Menantimu di Menganti]


Jam tiga kurang lima belas menit, sangat dekat dengan waktu asar, kami turun bukit menuju tempat parkir sepeda motor. Kembali ke jalanan naik-turun curam-terjal lika-liku di kecamatan Ayah, dengan arah berlawanan dengan jalan berangkat. Tanya seorang perempuan setengah baya, dapatlah satu koordinat di mana kami harus masuk. Jalan. Menemukan jalur sempit itu, kami ragu. Dan, kawan, lebaran memang sedang musimnya inflasi. Kami bertanya, memastikan, kepada beberapa pemuda yang menjadi pengatur-jalan dadakan di tikungan itu. Dan, barangkali mengetahui kami adalah seorang turis, mereka mengenakan pada kami retribusi masuk Pantai Pecaron, tanpa bukti pembayaran dan tanpa tarif yang jelas. Seadanya uang yang kami berikan, mereka menyimpannya tanpa uang kembalian.

Forget it. There is a truly wonderful beach ahead, fellas!

Sebelum sampai di pantai, kami mampir dulu ke masjid yang memang sudah terdeteksi keberadaannya. Pas banget, seorang anak kecil mengumandangkan adzan. Kami sholat. Sekalian buang hajat juga.

Pecaron

Jalan menurun, dan di depanmu adalah pantai berombak lumayan besar. Ketika kau mendekat, yang kau rasakan adalah kau seperti ingin menumbuk gulungan ombak itu. Seperti tak ada pasir di antara jalan, yang menurun yang masih bukit itu, dengan air laut. Maha Suci Allah yang telah mengkreasi mahluk dengan keindahan. [Makanya mari datang ke Kebumen buat lihat sendiri]

Jalan yang kami lewati tadi berdampingan dengan sungai kecil. Jadi, ada muara di pantai itu. Boleh dikata muara itu ada di antara dua bukit. Ada sesuatu, seperti mesin, yang mengapung di muara itu. Ternyata pasir di situ berlogam. Ada proyek tambang yang sedang digarap. Memang, pasirnya berwarna kehitaman meski telah kering.

Di barat, sebuah bukit terjal hampir menyembunyikan matahari. Dan di bagian ujung bukit ada mercusuar. Itulah tempat kami duduk saat di Pantai Menganti. Di timur, sebelah kiri dari muara, ada bukit terjal juga, dan berwarna kehijauan karena ditumbuhi tanamah semacam perdu.

Ada karang, terutama di pantai sebelah timur. Dan kami beraksi dengannya.
Ganteng semua, karena tak terlihat muka


Sebelum senja menguning tua, kami pamit dulu. Kembali menuju rumah Solihin. Magrib, aku sampai di rumah.

No comments:

Post a Comment