Friday, October 14, 2011

Quick Silver

12 Oktober 2011

Rasa aku seperti menemukan kembali masa kecilku; lincah, aktif, cerdik, dan cukup nakal. Bertahun-tahun aku menginginkan sepeda balap, tepatnya sejak kelas enam SD. Waktu itu, temanku membawa sepeda balap ke sekolah. Pulangnya, sebagaimana kebiasaan teman-teman satu gengku, mampir ke rumahku dulu; belajar kelompok, istirahat, atau sekedar minta air. Juga di hari-hari libur atau sore hari setelah pulang sekolah, teman-teman biasa main ke rumahku. Oh ya, gengku itu ada lima anak; aku, Dedek (a.k.a. Miftah), Romi, Heru, dan Windi. Heru adalah temanku yang membawa sepeda balap dengan ukuran roda 24"x1 3/8". Semua temanku membawa sepeda, kecuali aku, karena rumah mereka jauh dari SD dan aku cukup nebeng saja.

Ya, aku sangat ingin memiliki sepeda balap. Aku sering meminjam sepeda Heru. Kukebut si Merah, sepeda balap Heru memang berwarna merah, di pekarangan samping kiri rumah. Sungguh, aku sangat tertarik. Lebih dari itu, aku memang menyukai petualangan, perjalanan, dan kecepatan. But, seperti bertepuk sebelah tangan, aku hanya bisa memimpikannya di malam sunyi. Beruntung si Heru itu, sepeda itu diberi oleh Pakdenya, walaupun itu bekas dari saudara sepupunya sendiri.



Aku memang punya sepeda, sejak kecil aku sudah punya; sebuah sepeda federal kecil [waktu SD-SMP). Bahkan, boleh dibilang, akulah generasi awal anak desa yang mempunyai sepeda. Sejak sebelum TK, aku telah pandai bersepeda, bahkan telah berani membonceng gadis kecil seumuran. Ah... Aku memang punya riwayat tentang sepeda yang bagus.

Kini, setelah aku pindah dari Al Kausar 52 ke Hasan Kos, aku mempunyai hak guna sebuah sepeda balap 24"x1 3/8". Aku hanya berhak atas guna sepeda, menurutku demikian, karena sepeda itu masih milik seorang alumni STAN (dan tentu alumni Hasan Kos). Sepeda balap berwarna perak itu telah rusak dan menganggur lebih dari setahun. Aku berinisiatif memperbaikinya; maksudku menyuruh tukang bengkel untuk memperbaikinya. Kubeli ban sepeda luar-dalam depan-belakang dengan harga 2xRp35.000,- dan 2xRp15.000,-. Ongkos reparasi dan pemasangan ban Rp20.000,- dan harga sebuah kunci Rp12.000,-. Jadi, harga perolehan aktiva tetap dengan a year operating lease ini adalah Rp132.000,-. Alhamdulillah.

Aku mengannggap ini hanya sebagai sewa operasi selama setahun karena aku, insyaAllah, akan diwisuda Setemper 2012 nanti [tepat hari ini juga kakak tingkatku diwisuda di JCC]. Lalu, aku akan mewariskan sepeda itu untuk adik tingkatku di Hasan kos ini.

Berkaitan dengan warna, tulisan pada topi yang kukenakan ketika berkendara si Perak, aku menamainya Quick Silver. Ia cepat dan berwarna perak. Yap!

Rasa-rasanya cukup terlambat bila aku mengatakan bahwa aku ada potensi untuk menjadi pebalap nasional. Kakiku cukup kuat, bahkan mungkin sangat kuat, untuk mengayuh si Perak. Bukan sombong, tapi barangkali ada yang mau merekrut aku jadi pebalap, kuberi tahu bahwa aku adalah pelari kampus tercepat untuk nomor 3000 meter putra tahun 2010. Aku juga menjadi yang tercepat keempat untuk nomor 800 meter putra pada Olimpiade Perguruan Tinggi Kedinasan seluruh Indonesia. Pun tiga pelari yang lebih cepat dariku adalah mereka yang sekolahnya dilatih semimiliter. Aku kan orang keuangan yang biasanya duduk di belakang komputer. Tapi aku justru bisa melibas praja Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) yang merupakan tuan rumah OPTK 2010.

Jadi, bila ada lowongan menjadi pebalap sepeda, beri tahu aku ya! Terima kasih.

Dan, hanya karena melihat jaket OPTK-ku, seorang teman di kampung mengharapkan aku bisa ikut SEA Games! Wow! But, adakah jalurnya untuk seorang yang satu tahun lagi menjadi CPNS Kementrian Keuangan?

di kamar nomor 18, sepulang bersepeda di pagi Jumat yang indah ini.

No comments:

Post a Comment