Wednesday, October 19, 2011

Tentang Laila

Bila Kawan berjumpa dengan nama Laila pada tulisanku, terutama pada puisiku yang berjudul "Laila", kuharap tiada persangkaan bahwa ia adalah nama seorang wanita.

Memang Laila adalah sebuah nama. Namun bila Kawan bertanya, "Nama siapa yang tersembunyi di balik nama Laila?" Atau sekalian tanya, "Siapa Laila sebenarnya?" Pertanyaan itu, keduanya, adalah salah. Karena seharusnya Kawan mengawali kalimat tanya dengan "apa" bukan "siapa".


Jadi, laila adalah sesuatu yang bukan manusia, apalagi seorang wanita. Melalui puisi itu, aku hanya ingin benar-benar mengekspresikan perasaanku dengan sederhana saja. Ya, sangat sederhana. Aku hanya menggunakan terjemahan kata "laila" sebagai wakil perasaanku akan "malam".

Pada puisi itu, aku memang seperti mengungkapkan perasaan hati kepada, atau tentang, sesuatu. Mungkin semacam rindu. Sejujurnya memang rindu, sebagaimana tertera secara eskplisit pada bait-bait awal. Saat menuliskan itu, aku sedang sangat merindukan malam; yakni waktu-waktu ketika aku seorang diri di kegelapan sunyi. Tak kudengar bisik-bisik orang kecuali dengkuran mereka. Tak kurasa ada mata menyala merah, kecuali biji sawo yang lelah terbuka. Tak ada tawa canda, tapi isak tangis bahagia karena rasa penyesalan dan permohonan sekaligus. Gelap, tak ada gemerlap lampu menyala, tapi cahaya yang menelusup celah-celah sanubari; hati yang meminta isi. Ketika aku bersama laila, waktu dan suasana yang kurindukan itu, aku seperti bayi yang baru terlahir dari rahim bidadari.


Ketika kesempatan itu berlalu, baik terisi dengan curahan terima kasih atau pun terlewat begitu saja, yang ada adalah rindu dan pengharapan perjumpaan selanjutnya.

Bila puisi itu terbaca dan/atau termaknai oleh Kawan sebagai perasaan rinduku pada seseorang, berarti aku berhasil mengecoh pembaca atau justru tidak cukup berhasil menyampaikan gagasan. Namun, puisi ini ditulis memang bukan untuk menyampaikan suatu maksud agar dimengerti orang lain. Hanyalah sebagai pelepasan semata, sebagaimana rindu ini perlu ruang yang lebih luas ketimbang hati manusia.

Wah, koq jadi seperti parafrase puisi. Memangnya seperti apa sih puisimu, Kawan?

Baiklah, barangkali Kawan bertanya demikian, langsung saja simak puisiku ini.

Laila

Laila, aku merindukanmu sebagaimana aku menunggui ruang gelap yang hening, ketika bunyi yang terdengar hanyalah dengkuran orang-orang tidur, juga igauan pilu mereka. Sungguh kasihan, Laila, gelap yang sepi ini adalah tempatku bercinta dan bermain bersama waktu. Hanya dengan waktu aku bermain, karena ruang seperti berkhianat pada setiap umat yang bermunajat.

Aku terbang. Iya, terbang. Laila, sungguh terbang. Aku seperti layang-layang dan kau yang menarikku agar aku membumbung bersama waktu, bukan angin.

Laila, kau adalah senyap tempatku memuja dan menanti cahaya. Kehadiranmu kurindu dan kepergianmu kusendu. Namun, Laila, cintaku pada cahaya selalu hadir ketika kau hadir. Wahai cahaya, apakah kau adalah gelap yang memudarkan diri sendiri dan menjelma menjadi warna yang bersahaja rupa?
*

ditulis di kamar, bakda 'isya.

No comments:

Post a Comment