Monday, October 24, 2011

Tetap Menulis

Tahun terakhir di SMA, kelas XII setelah aku benar-benar dipensiundinikan dari perolimpiadean, saat itulah aku mulai menulis. Ceritanya, ada ruang kosong di pikiranku. Sepulang dari Bandung, aku seperti anak linglung yang tak mau kembali ke sekolah. Aku... rindu sesuatu. Atau rindu seseorang? Tapi itu masa lalu. Meski Allah pun tak akan menghapus masa lalu, aku berharap perbaikan di masa kini dan masa depan.


Ya, dulu aku menulis dengan tujuan pelepasan semata. Awalnya aku menulis di buku binder, itu untuk tulisan-tulisan curhat pribadi yang rahasia. Untuk tulisan pribadi yang tak masalah bila dipublikasi, aku menulisnya di catatan facebook dan blog. Waktu itu aku menulis dengan lancar, santai, dan enjoy. Karena tulisanku bernuansa santai dan tak ada beban serta batasan-batasan penulisan, banyak tulisan yang kuhasilkan.



Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai berpikir untuk mengkomersilkan tulisan. Salah satunya menulis cerpen. Lalu aku masuk Aksara (Aktualisasi Seni Sastra) pada tengah tahun 2010. Akan banyak pelajaran yang kudapatkan di sana, harapku. Namun, akhirnya aku merasa tidak cukup pandai mengarang cerita fiksi yang sastra. Bukan tidak bisa. Dan bukan pula aku menyerah. Aku merasa tidak cocok saja. Salah seorang temanku di SMA, mungkin boleh kubilang ia pembaca setia tulisanku, mengatakan kalau aku lebih cocok menulis di media; semacam opnini. Alasannya, mungkin, banyak tulisanku yang kritis terhadap keadaan di masyarakat.


Satu tahun, dua tahun terlewati. Tulisanku tak kunjung diakui. Memang aku lebih banyak otodidak dan malu bertanya. Jadi, seringkali aku marah pada diri sendiri mengapa masih tak sadar akan makna peribahasa "Malu bertanya, sesat di jalan". Dua tahun belajar menulis adalah waktu yang cukup untuk menghasilkan karya yang diakui publik. Yah, walapun memang pada awal keikutsertaanku di Aksara aku langsung menjadi juara II pada lomba menulis cerpen tingkat kampus yang diadakan oleh Aksara sendiri. Pun, bila Kawan ingin tahu, juara I-nya adalah seorang seniorku sendiri. Jadi, maksudku, capaianku sangatlah fantastis.


Cerpenku yang berjudul "Generasi yang Hilang" itu memang kuakui bagus. Mengapa? Karena pesan moralnya bagus. Olah katanya juga bagus. Tapi, aku menganggap tulisan itu tak cukup kuat untuk dilabeli 'sastra'. Sastra itu rumit, bagiku. Dan, entahlah aku tak tahu. Dan, kenapa aku masih ngotot ingin menulis sastra? Bodoh juga aku ini.


Aku sebenarnya menyukai keindahan dalam kata-kata, bukan sastra itu sendiri. Aku tak mengerti sastra. Tapi aku menyukai keindahan. Ya, aku suka kata-kata indah yang membawa kebaikan.


Oh ya. Tentang cerpen itu, mungkin itu masih cerpen satu-satunya yang diakui publik, dalam artian 1) menyampaikan suatu kebaikan, 2) memberi keuntungan finansial padaku, 3) memenuhi selera pasar. Sampai saat ini, sebenarnya aku ingin tulisan-tulisanku membawa kebaikan, karena berkata-kata lewat tulisan sama halnya dengan berbicara. Ingat "berbicaralah yang baik, atau kalau tidak bisa, maka diamlah"? Ya, itu prinsipnya. Maka aku berpaku pada batasan itu untuk tulisan-tulisanku. Namun, aku merasa batasan itu sangat kaku untuk kategori cerpen. Jadi, belum ada lagi cerpenku selanjutnya.


Akhir tahun 2010, satu tulisanku dinyatakan lolos sebuah kompetisi menulis. Dan, akan dibukukan. Tak lupa, aku harus berucap terima kasih kepada mbakyuku, Arum Anggraeni, yang banyak hal ia berikan untukku, salah satunya bisa munculnya tulisan perdanaku di sebuah buku antologi keroyokan banyak penulis. It's fine by me. Terima kasih, mbasist.


Berlanjut, tengah tahun 2011 ini, tulisanku dinyatakan lolos proyek menulis bareng Ahmad Fuadi (penulis Negeri 5 Menara). Jujur, aku menunggu-nunggu buku ini terbit. Lalu tak lama kemarin, tulisanku juga lolos sebuah kompetisi, dan insyaAllah juga akan dibukukan.


Sepertinya mudah? Tidak begitu. Penuh lika-liku dan luka sebenarnya. Selama tahun kedua kuliah, aku tak berusaha untuk kondisi finansialku. Aku hanya menulis dan menulis. Tak ada kerjaan lain yang berarti. Tapi ternyata itu saja karyaku. Jujur saja [namanya juga curhat di blog, ya jujurlah], bukan suatu kenaifan bila aku membutuhkan uang untuk belanjaku di tanah rantau ini. Dan, aku terlunta-lunta, bleeding istilah pebisnis yang collapse. Sampai saat itu aku bergantung pada keluarga. Memalukan.


Sampai saat ini, karyaku yang termahal baru dihargai Rp300.000,- ditambah paket buku (ini belum kuterima dari Bentang Pustaka; entah jumlahnya). Itu pun hanya satu karya. Selain itu, ya cerpenku yang juara 2 itu, yang seharunya berharga setengah juta ditambah 3 buah buku. Namun akhirnya tak lebih dari sepertiganya [tak perlu kubercerita tentang ini].


Terlihat matre? Kawan, dunia ini telah sangat kejam dan telah sampai pada era uang sebagai penilaian. Untuk beli makan butuh uang kan? Aku ini manusia biasa, bukan seperti mereka yang sangat yakin bahwa cukup Allah lah yang membuat kenyang. Aku memahami keyakinan mereka, tapi sangat jauh untuk bisa menjalaninya.


Jadi, aku tetap harus menulis. Aku telah menemukan hobi yang memenuhi banyak kriteria; sebagai kesenangan, pekerjaan, media menyampaikan kebaikan, fleksibel, dan masih banyak lagi. Yang jelas, ini tidak banyak mengganggu aktivitas rutinku [seharusnya demikian]. Aku masih punya waktu mengajar nonprofit oriented 2 kali seminggu, mengaji tiga kali seminggu, kuliah, ke perpus, bersepeda, jogging, dan lain-lain.


Aku teringat dua temanku yang menyuruhku membukukan tulisan-tulisanku [intinya demikian]. Mereka adalah ....[sebutin namanya tidak ya?] dua orang wanita; teman seangkatan. Pesan mereka masih kuingat jelas, kujadikan motivasi, agar aku tetap menulis sampai mempunyai buku solo. Amin.


Juga, temanku, kemarin memberi sebuah modem. Gratis boi! Katanya, untuk mendukung karir menulisku. Aku ingin memenuhi keinginannya.


Namun, akhir-akhir ini aku jarang menulis. Bahkan menulis di "Book of Abdullah", jurnal harianku itu, sangat jarang. Apalagi karya yang 'menghasilkan'. Oh, aku butuh mandiri secara finansial. Bagaimana? Saat ini aku ingin menjadi penulis-artikel lepas. Bismillah, semoga ada jalan. Pasti itu.


Dan, langkah panjangku adalah mempunyai buku sendiri. InsyaAllah. Sedikit-sedikit, aku tengah mempersiapkannya. Banyak misi yang diemban dalam buku-bukuku kelak, antara lain tentang religi, sains, dan sosial. Tak lupa, aku ingin mengenalkan Kebumen ke hadapan Nusantara. Kebumen, ibu kota Atlantis yang dikenal dunia tapi tak masyhur di negeri sendiri.


Bismillah. Alhamdulillah.


Ada tugas AKL untuk esok dan aku sama sekali belum meliriknya, juga tugas meng-compile kerja kelompok.
Satu jam aku menulis catatan ini, pada malam Selasa, di kamar.

No comments:

Post a Comment