Wednesday, November 30, 2011

Jeda dan Udara

Jeda memiliki arti berhenti (stop), tapi bukan selesai (finish). Seperti lampu merah di persimpangan tempat kita berhenti dalam suatu perjalanan, ia bukanlah akhir dari perjalanan kita.


Udara mengisi setiap kekosongan ruang. Tapi sebenarnya, tak pernah ada ruang yang kosong karena ia terisi oleh udara. 'Hampa' namanya bila suatu ruang benar-benar kosong. Maka, jangan sampai ada kekosongan dan inilah peran udara untuk mengisi.


Berilah kesempatan bagi jeda dan udara untuk mengisi perjalanan kita, sebuah kehidupan.


Biarkan jeda berperan sebagai spasi dalam setiap kalimat yang kita tulis agar ia terbaca. Juga udara, khususnya oksigen, yang menjadi bahan bakar kehidupan.


Thursday, November 24, 2011

Jamaah Dadakan, Sebuah Catatan Sentimental

Aku terlambat datang sholat jamaah isya di masjid. Jamaah sudah sampai pada tasyahud akhir. Aku tak ingin memburu 'ekor' rombongan yg sudah berangkat itu meski ada orang lain yg berlari demi mendapat ujung gerbong itu. Aku berharap ada orang lain yg datang di belakangku dan kami bisa berjamaah meski hanya berdua.

Ternyata cukup banyak calon jamaah yang terlambat. Lalu kami berdiskusi tanpa narasi tentang siapa imam kali ini; saling tunjuk seperti biasa. Sementara kami bertindak bodoh demi mendapatkan satu orang yang berani ambil resiko membawa jamaah sholat 'isya ini, di suatu sudut lain seseorang yg juga datang terlambat telah menepuk pundak seorang jamaah yang tadi masbuk.

Friday, November 18, 2011

Indentitas dan Prioritas

Untuk anakku yang sedang merantau di seberang Malaka, di dekat selat Sunda, dan di antara dua samudera, salam selamat wahai anakku. Katamu, kau sedang menuntut ilmu, benarkah? Kuharap begitu. Alih-alih menuntut ilmu, jangan kau menganggap angka-angka itu sebagai ukuran ilmu.

Apa yang sedang kau perjuangkan, anakku? Identitasmu sebagai muslim ataukah prioritasmu sebagai muslim?

Jika kau sedang memperjuangkan identitasmu sebagai muslim, pergi saja ke Pasar Tanah Abang dan belilah jubah beserta kopyah. Kau akan 'terlihat' sebagai muslim.


Monday, November 14, 2011

Jendela: Penyambung atau Pemisah?

Apa kekhasan jendela hingga ia harus ada, setidaknya ia telah tercipta, meski pintu mempunyai peranan yang cukup luas untuk keluar masuknya sesuatu?
Sumber foto: sangkarhati.blogspot.com

Jendela, ia seperti pintu memang, yakni tempat udara dan cahaya lewat. Meski ia bukan piranti bagi manusia baik-baik untuk keluar-masuk ruangan, jendela memberi efek seolah-olah manusia berada di luar ruangan. Itu karena mata menjangkau pandangan yang jauh dan luas di luar sana.

Thursday, November 10, 2011

Buya HAMKA Menginspirasiku

Entah sejak kapan aku mengenal nama Buya Hamka. Namun, sejak itulah aku merasa ada kedekatan emosional yang susah dijelaskan. Tepatnya ketika aku mengetahui kepanjangan HAMKA, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Pada kepanjangan itu, aku menemukan namaku yang bisa juga disingkat demikian. Namaku Abdullah Mabruri, anak laki-laki Abdul Kholik. Jadi, HAMKA bisa untuk menyingkat namaku juga, dengan sedikit paksaan tentunya...:D.


HAMKA: [Haji] Abdullah Mabruri Kholik [Amrullah]


Tentunya, aku berharap bisa menunaikan ibadah haji [amiin]. Bukan untuk sebuah gelar di depan nama. But, dengan penambahan 'haji' untuk menyesuaikan dengan 'HAMKA', ini menjadi semacam doa dan optimisme untukku mencapainya.

Monday, November 7, 2011

Jalan Pagi

Secangkir teh hangat, sepotong subuh hari penuh semangat.

Secangkir teh manis hangat ini terlalu sederhana untuk memulai hari yang penuh semangat. Bangun pagi-pagi, tak ada suara bising di sana-sini. Duhai nikmatnya dunia bila tanpa kasak-kusuk tetangga kanan-kiri. Membuka mata pagi-pagi, berlomba dengan merpati yang ingin segera membumbung tinggi. Atau, daun melati yang berembun semurni hati. Mari mulai hari dengan puji Ilahi.

Tok tok tok. Ayo kita tengok kamar mahasiswi. Ups, ada yang masih bersembunyi di balik seprai. Semalam baru nonton Super Junior manggung di lepi. Jadi, maklumlah kalau tak sempat lihat terbit mentari.

Puisi Absurd

Di rajang malam puan telentang
menanti bujang yang tak lagi lajang
untuk berbarengan melewati titian
yang panjang dan lurus yang rambut terbelah tujuh
tapi mencebur, tanpa terpeleset


kaki kini mulai geregetan
karena mata tak lagi jelalatan


"Ada apa? Tuan memanggil saya?"


Kau kira seorang tuli tidak dapat bicara?

Sunday, November 6, 2011

Bendungan Gintung

Izinkan matamu untuk menikmati keindahan-keindahan sederhana; air jernih mengalir dan berlimpah, rumput-rumput ramah, tanah-tanah basah, dan daun-daun hijau.
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/05/24/situ-gintungkini-menjadi-obyek-wisata/
Akhirnya kesampaian juga mengunjungi tempat yang kuinginkan. Semalam, aku menulis status di FB begini:
"Ingin menenangkan diri; melihat air mengalir, daun-daun hijau, tanah-tanah basah, rumput-rumput ramah, pasar tumpah, atau apalah yang serba murah meriah berfadilah. Di mana? Di mana? Di mana? Ibukota sebelah mana yang cukup 'wah' untuk dikunjungi dengan sepeda?"

Saturday, November 5, 2011

Saturday: I Want to Ride My Bicycle

I want to ride my bicycle.


Sudah menjadi jadwal semitetap jogging di hari Sabtu, biasanya bersama Sahabat Lebah. Dua minggu ini tidak ada kabar ajakan lari pagi bersama. Aku pun sedang tidak berhasyat berlari karena tak punya sepatu lari. Jadilah aku bersepeda.


Rencananya, hari Jumat kemarin aku pagi-pagi akan membawa si Perak berkeliling-keliling untuk menghirup udara pagi. Tapi gagal total oleh sebab yang sangat konyol: ketiduran selepas menjalani rangkaian aktivitas subuh. Kini rencana itu terealisasi pada hari Arafah ini. Dengan jersey kelas 2F Akuntansi 2010-2011, jatet atlit, topi Quick Silver warna cokelat, celana cokelat, aku keluar dari kamar ketika kos masih sangat krik krik krik.

Friday, November 4, 2011

eNyak

Jumat, 4 November 2011


Seusai sholat maghrib berjamaah di masjid depan kosan, Masjid Al Abror, aku buru-buru kembali ke kamar lantaran perut yang sudah meminta haknya dan aku pun sudah membeli nasi bungkusan. Aku berjalan gontai meninggalkan shaf. Tiba-tiba, "Mas, jangan pulang dulu. Nyak mau selamatan." Aku mengenal pemilik suara sopran [demi memperhalus kata 'cempreng'] itu. Beliau eNyak, induk semang Hasan Kos di mana aku tinggal sekarang.


Hhhhmmmmm


"Jangan pulang dulu. Enyak mau ngadain selamatan buat anak eNyak nyang lagi berangkat haji."

Thursday, November 3, 2011

Aheading for Summer

03 November 2011

November telah datang dan matahari tengah beranjak menuju titik terjauhnya di selatan, di atas negeri kangguru Australia. Bumi belahan selatan semakin dekat dengan musim panas (summer) meski baru empat puluh hari ini bunga-bunga di sana bersemi. Dan, di Indonesia sendiri hujan telah turun sejak akhir Oktober lalu [menurut hematku, hujan pertama jatuh pada sore hari tanggal 22 Oktober].

Tuesday, November 1, 2011

Kalimat-kalimat Waktu

#Malam
Telah terselimuti manusia di dalamnya dalam berbagai bungkus dan rupa. Mendengar bisikannya di awal gelap adalah nikmat yang lena. Jika kau menuruti, niscaya tak kau dapatkan kedamaian sunyi di penghujung gelap.

#Gelap yang Akhir

Sekali kau mengenalnya, kau ingin bertemunya lagi. Kau candu. Kau rindu. Kau sendu. Kau malu jika sekali saja alpa. Karena di dalamnya ada cahaya yang menyambar-nyambar, mengetuk hati yang meminta isi, mencari pikiran yang menagih janji, menemani jiwa yang haus terobati.

#Sebelum Terbit
Pada ujung-ujung gelap, ketika tak lama lagi raja langit menampilkan mahkotanya, yang kau rasakan hanyalah kerinduan dan penantian panjang akan kembali datangnya waktu-waktu gelap yang akhir, waktu-waktu sebelum cahaya. Atau, kau merasakan penyesalan yang sangat karena telah melewati waktu gelap yang akhir itu tanpa air mata. Di sini, kau masih bahagia karena siapa saja yang berdiri di dalamnya, ia berbeda dengan mereka yang luput bersama kelalaian.