Sunday, November 6, 2011

Bendungan Gintung

Izinkan matamu untuk menikmati keindahan-keindahan sederhana; air jernih mengalir dan berlimpah, rumput-rumput ramah, tanah-tanah basah, dan daun-daun hijau.
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/05/24/situ-gintungkini-menjadi-obyek-wisata/
Akhirnya kesampaian juga mengunjungi tempat yang kuinginkan. Semalam, aku menulis status di FB begini:
"Ingin menenangkan diri; melihat air mengalir, daun-daun hijau, tanah-tanah basah, rumput-rumput ramah, pasar tumpah, atau apalah yang serba murah meriah berfadilah. Di mana? Di mana? Di mana? Ibukota sebelah mana yang cukup 'wah' untuk dikunjungi dengan sepeda?"



Pagi ini aku bersepeda ke Bendungan Gintung. Matahari masih sangat ranum di sini. Aku tiba pukul 06.18; berangkat dari rumah (Hasan Kos, Sarmili) sekitar pukul 05.40 setelah menjalani rangkaian aktivitas subuh ditambah menulis esai untuk Media Center (MC).


Dengan celana cokelat panjang, kaos putih-biru-oranye jersey kelas II-F yang kututup jaket almamater Smansa berwarna hitam, dan topi cokelat muda bertuliskan "Quick Silver", aku meluncur ke kampus bersama si Perak, sepeda balap warna perakku itu. Hari Sabtu, biasanya aku jogging bersama geng Lebah, tapi malam tadi tak ada jarkom untuk berkumpul. Jalanan kampus di bagian depan sudah tampak beberapa pengunjung. Kuputari bundaran kampus sekali, lalu keluar ke Jalan Bintaro Utama sektor 5A, ke arah Bintaro Plasa (arah kiri).



Awalnya, aku mengayuh si Perak Cepat (Quick Silver) ini tanpa tujuan yang jelas. Pokoknya mencari tempat yang cukup membuat hati tenteram. Dari perempatan setelah BP (Bintaro Plasa), aku belok kanan. Di jalan itu, ke arah selatan, tak belok-belok, aku lurus saja sampai bertemu jalan besar yang menuju Lebak Bulus. Aku mengikuti jalan besar itu. Nah, tak kusangka akhirnya sampai juga di pertigaan Gintung, yang biasanya jadi tempat pangkalan angkot trayek Gintung-Arinda atau Gintung-Sektor 9 atau Gintung-Jagung; yakni angkot C09 maupun D09.


Aku teringat sebuah tempat: Situ Gintung. Maka, aku menyeberang jalan dan berbalik arah. Baru akan kupercepat laju si Perak, sekelebat aku melihat banyak orang berjalan di bawah sana. Aku kembali, lalu turun-masuk jalan itu. Dan, ternyata itu adalah Bendungan Gintung. Seperti salam yang berjawab, aku menemukan tempat yang cocok untuk menenangkan diri.


Pikiran tiba-tiba seperti terbuka lebar, penat hilang seketika, sesak dada tak terasa, dan fresh. Air yang mengalir tenang dan berkelap-kelip mendistorsikan cahaya mentari, daun-daun hijau di kejauhan, juga rumput-rumput yang masih berembun, dan tanah yang masih basah dan lapang. Ternyata masih ada tempat seperti ini di sekitar ibu kota.

Begitu mudah dan murahnya kebahagiaanku; menyendiri di tempat asing, menikmati keindahan lingkungan dengan cara-cara yang sederhana, murah, dan mudah. Meski ramai, aku seorang diri di sini. Nah, ini yang kusayangkan. Mengapa aku tak mengajak siapa pun? Ah, adakah kau berkenan?

Bendungan Gintung ini berjarak hampir sepuluh kilometer dan kutempuh dalam waktu sekitar 30 menit dari pintu gerbang kampus STAN di Bintaro. Pada 27 Maret 2009, Bendungan Situ Gintung jebol tersebab hujan yang lebat dan bangunan yang sudah kelewat tua. Kini, setelah dibangun kembali, bendungan seluas 36 hektare itu ramai dikunjungi warga sebagai tempat wisata kecil-kecilan. Kulihat beberapa anak, mungkin masih SD, bersepatu dan berjalan-jalan pagi di situ. Muda-mudi juga tampak beberapa, dalam gerombolan maupun sepasang-sepasang. Ada juga keluarga yang berjalan bersama-sama atau ayah dan anak yang memancing berdua.

Aku berjalan menuju pintu bendungan. Pada tembok pintu bendungan yang hanya berketebalan sekitar 40 cm, aku meniti ke ujung. Aku seperti melayang di udara. Pijakanku hanyalah tembok, semacam titian, selebar 40 cm, yang menjulang tiga meteran dari permukaan air bendungan. Kulirik angka yang menunjukkan kedalaman air di bendungan itu: hampir 9,5 meter. Bila aku lengah sedikit saja, entahlah. Kemampuan renangku masih sebatas teori, dan itu pun masa SMA dua tahun yang lalu.

Tapi, kubentangkan tanganku, muka menengadah, dan mata terpejam: betapa nikmatnya pagiku ini.
*

Perjalananku sederhana saja. Tak sepeser pun uang kukeluarkan untuk 'wisata' ini. Meski ada penjual nasi megono seharga Rp1.500,- (nasi dengan sayur nangka muda dan teri), aku tak berminat membeli. Ada juga penjual gorengan, cimol, dan minuman kopi. Nanti saja aku makan di warung sekitar kos. Tak perlu mewah untuk sebuah pikik, rekreasi, atau wisata untuk sekedar refreshing. Yang lebih penting adalah manfaat yang dapat diambil daripaanya.

Aku turun mendekati air yang tenang itu. Bebatuan menjadi unsur pokok tanggul itu. Di sebuah spot yang nyaman, aku membuka "Book of Abdullah" dan mengabadikan pengalaman ini dengan kata-kata. Mau bagaimana lagi, teleponku tak mampu merekam gambar.

Sebelum meninggalkan Bendungan Gintung, aku membacakan sebuah surat dalam Al Quran untuk mereka: air yang jernih yang mengalir tenang dan berlimpah, tanah-tanah basah, rumput berembun yang ramah, dan daun-daun hijau. Aku hanya kasihan, pasti mereka sangat resah menjadi saksi muda-mudi yang bercumbu tanpa malu.

Pukul 06.50 aku beranjak. Aku telah kembali berada di bundaran kampus tepat 25 menit kemudian melaui jalur yang berbeda dengan jalur berangkat.

Alhamdulillah, selesai ditulis di kamar pada pukul 9.42 WIB pada hari yang sama Sabtu, 22 Oktober 2011.

Sumber foto:

No comments:

Post a Comment