Thursday, November 10, 2011

Buya HAMKA Menginspirasiku

Entah sejak kapan aku mengenal nama Buya Hamka. Namun, sejak itulah aku merasa ada kedekatan emosional yang susah dijelaskan. Tepatnya ketika aku mengetahui kepanjangan HAMKA, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Pada kepanjangan itu, aku menemukan namaku yang bisa juga disingkat demikian. Namaku Abdullah Mabruri, anak laki-laki Abdul Kholik. Jadi, HAMKA bisa untuk menyingkat namaku juga, dengan sedikit paksaan tentunya...:D.


HAMKA: [Haji] Abdullah Mabruri Kholik [Amrullah]


Tentunya, aku berharap bisa menunaikan ibadah haji [amiin]. Bukan untuk sebuah gelar di depan nama. But, dengan penambahan 'haji' untuk menyesuaikan dengan 'HAMKA', ini menjadi semacam doa dan optimisme untukku mencapainya.



Buya Hamka merupakan putra Syekh Abdul Karim Amrullah, yang merupakan ulama besar di ranah Minang. Nama orang tua Buya Hamka turut menjadi komponen singkatan nama HAMKA, begitu juga dengan nama ayahku.


Memang, ayahku bukanlah ulama, apalagi ulama besar. Setidaknya, kedudukan orang tua sangat berpengaruh pada tumbuh-kembang putra-putrinya. Buya Hamka dilahirkan di keluarga terpandang, agamis, dan [tentunya] berkecukupan. Sangat berbeda denganku. Aku lahir di dalam keluarga biasa saja. Tapi, alhamdulillah, boleh dikata ada sejarah penokohan di klan ayah-ibuku, meski hanya di tingkat kampung. Kakekku dari Biyung [jawa=ibu] adalah congkog [pamong] desa Murtirejo, guru ngaji, juga petani. Lalu, ada jejak terputus antara aku dengan kakekku itu, Almarhum Simbah Kakung Abu Muhsin. Tidak ada putra-putri yang menuruni peran beliau. Dari pihak Bapak, Almarhumah Simbah Putri Khumilah juga menjadi panutan bagi tetangga-tetangga di sekitar rukun tetangga. Sama juga, jejak kepemimpinan seperti hilang di antara putra-putri beliau.


Aku? Masih tut wuri handayani.


Tapi, kini aku terinspirasi oleh seorang ulama besar, penulis [sastrawan], pahlawan nasional, dan aktivis politik. Bukan ingin menyamai, karena bagaimanapun, keberuntungan awal beda sangat jauh. Juga, tidak elok membandingkan pencapaian seseorang dengan orang lain. Perbandingan yang baik adalah perbandingan antara diri sendiri masa kini dengan diri sendiri di masa lalu, tentang siapa yang lebih baik.


Tak perlu aku menuliskan biografinya di sini karena hal itu telah banyak diulas. Namun, dalam hubungannya denganku, tulisan ini kuniatkan untuk mengingatkan penulis tentang seseorang yang menginspirasi.


Buya Hamka, seorang ulama. Aku, sebagaimana seharusnya seorang hamba, ingin menyampaikan ilmu meski hanya satu ayat. Setidaknya, sesuai pesan Bapak, "Teruslah menuntut ilmu, lalu suatu saat kau harus menyampaikannya pada tetangga-tetanggamu." Sederhana memang, yakni seperti Bapakku kini, mengajari anak-anak kecil untuk mengeja hijaiyah di mushola deket rumah.


Buya Hamka, seorang penulis, juga sastrawan. Kini, aku menyadari betul urgensi memiliki keterampilan menulis. Sejarah ada karena tulisan. Baca-tulis adalah aktivitas keilmuwan. Baca-tulis-baca-tulis.... Aku meniatkan diri untuk berkecimpung di dunia kepenulisan. Tentunya, aku berharap tulisanku memberi banyak manfaat bagi siapapun. [amiin].


Buya Hamka, seorang aktivis politik. Aku tak berpikiran untuk mengikuti dunia politik seperti yang Buya lakukan. Meski, yah, aku memiliki kecenderungan kepada suatu organisasi masyarakat yang "hijau" lembut, sopan, damai, sejahtera,....


Buya Hamka, seorang pahlawan nasional. Intinya, memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama, itulah sebaik-baiknya manusia.


Sekali lagi, sejak kecil, Buya Hamka telah menginspirasiku. Lalu, beberapa waktu aku terlupa. Kini, aku mengingatkan [lagi] pada diriku sendiri lewat tulisan ini, bahwa Buya Hamka masih menginspirasiku. Banyak keteladanan pada dirinya, dan beliau adalah manusia biasa sepertiku, yang lahir ke dunia dalam keadaan sama fitrahnya.


Bismillah, alhamdulillah.


ditulis di kamar, bakda 'Isya pada Malam Jumat Purnama.

4 comments:

  1. Bagus sekali. Fight. Buya Hamka, seorang ulama yang diberi gelar Prof. disejajarkan dengan para cendekia yang menempuh pendidikannya sampai tinggi. tulisannya seperti Tafsir Al-Azhar pun, beliau selesaikan di penjara...benar-benar orang yang menginspirasi. Ternyata pengetahuan, tak berbatas ruang... Bismillah, sprt yg telah dilakukan oleh Buya Hamka setiap beliau menulis. Semoga setiap pemikiranmu berada pd jalan lurus...

    ReplyDelete
  2. Makasih Vina, mari sama-sama berkarya demi kemaslahatan bersama...

    ReplyDelete
  3. Om mabruri, ngopi link blognya yaa..buat ditaruh di blog saya jg..hehe

    ReplyDelete