Friday, November 4, 2011

eNyak

Jumat, 4 November 2011


Seusai sholat maghrib berjamaah di masjid depan kosan, Masjid Al Abror, aku buru-buru kembali ke kamar lantaran perut yang sudah meminta haknya dan aku pun sudah membeli nasi bungkusan. Aku berjalan gontai meninggalkan shaf. Tiba-tiba, "Mas, jangan pulang dulu. Nyak mau selamatan." Aku mengenal pemilik suara sopran [demi memperhalus kata 'cempreng'] itu. Beliau eNyak, induk semang Hasan Kos di mana aku tinggal sekarang.


Hhhhmmmmm


"Jangan pulang dulu. Enyak mau ngadain selamatan buat anak eNyak nyang lagi berangkat haji."



"Eeee... Mau makan dulu, Nyak." Tadi aku baru makan roti sebelum pergi ke masjid, sekedar menjadi bahan bakar sementara. Nasi bungkus telah siap disantap di kamar.


"Entar juga ada makanannya. Makan sini aja." Aduh gimana ya? Udah terlanjur beli nasi. Entar bagaimana nasib nasi itu. But, aku telah meniatkan untuk lebih banyak berbaur dengan masyarakat sekitar Sarmili. Jadi, kuputuskan untuk menuruti saja perintah eNyak.


Setelah para jamaah sholat maghrib melakukan sholat sunat rawatib, acara dimulai. Di sini aku tidak ingin bercerita tentang acara eNyak ini. Tapi ada hal lain yang kupikir lebih penting untuk disampaikan.


Sebagai warga pendatang, mahasiswa perantau, aku dan beribu mahasiswa lainnya tinggal di wilayah ini selama kami menempuh pendidikan di kampus calon birokrat ini. Normalnya selama tiga tahun. Namun, apa yang luput dari mahasiswa itu sendiri adalah interaksi sosial dengan penduduk pribumi. Interaksi yang kumaksud bukan sekedar bertemu warga setempat di warung makan, masjid, atau mushola, tetapi juga hubungan keakraban sebagai simbiosis; tentunya simbiosis mutualisme.


Sejujurnya, meski aku mengikuti suatu organisasi yang terkenal dekat dengan masyarakat [yakni IMAN], secara pribadi aku memang kurang berinteraksi dengan baik di masyarakat sekitar. Itu terjadi terutama saat aku masih tinggal di Al Kausar 52 lantaran kos itu memang tidak memiliki tetangga dan terpojokkan.


Sejak awal tahun ketigaku di Sarmili, beriringan dengan kepindahanku dari Al Kausar menuju Hasan Kos, aku meniatkan tahun terakhir pendidikan Prodip III Keuanganku ini lebih bermanfaat. Untuk disebut bermanfaat, haruslah terjadi interaksi dengan orang lain, bukan sekedar manfaat untuk diri sendiri. Maka, sedikit-sedikit aku mulai memberikan waktuku bersama mereka; duduk bersama dalam majelis seperti bakda maghrib tadi, belajar bersama anak-anak TPA Al Mujahiddin, memberi perhatian lebih untuk penjual makanan langgananku. Meski daerah ini bukanlah Jakarta, individualisme penduduk tergolong tinggi. Dan, aku yang masih belajar bersosialisasi ini butuh orang lain untuk mengajari bagaimana bersopan-santun terhadap sesama. Jadilah aku belum sukses berbaur dengan masyarakat.


Tak ada kata terlambat untuk memulai. Bismillah.

No comments:

Post a Comment