Friday, November 18, 2011

Indentitas dan Prioritas

Untuk anakku yang sedang merantau di seberang Malaka, di dekat selat Sunda, dan di antara dua samudera, salam selamat wahai anakku. Katamu, kau sedang menuntut ilmu, benarkah? Kuharap begitu. Alih-alih menuntut ilmu, jangan kau menganggap angka-angka itu sebagai ukuran ilmu.

Apa yang sedang kau perjuangkan, anakku? Identitasmu sebagai muslim ataukah prioritasmu sebagai muslim?

Jika kau sedang memperjuangkan identitasmu sebagai muslim, pergi saja ke Pasar Tanah Abang dan belilah jubah beserta kopyah. Kau akan 'terlihat' sebagai muslim.


Jika kau sedang memperjuangkan prioritasmu sebagai muslim, pergilah ke masjid-masjid atau mushola-mushola dan bergabunglah dengan mereka dalam barisan sholat subuh.

Saat ini keadaan terbolak-balik, anakku. Kau tahu? Serat Kalatida mengatakannya sebagai jaman kala bendu.

Kau lihat, perdebatan-perdebatan mengenai "warna apa yang paling indah: hijau, biru, merah, hitam, atau yang lainnya"; "tutup kepala siapa yang paling menarik: songkok hitam, kopyah putih, atau malah botak tanpa penutup"; "jidat siapa yang paling hebat: polos bersih atau bertitik hitam legam"; juga permainan tambah-tambahan [baca: bid'ah]: bersalaman setelah salam, berdzikir dalam majelis bersama dengan suara keras, tahlil, yasin,--bahkan--telunjukmu bergerak atau diam, kau pakai qunut apa tidak, mana hadistmu-ini buku terjemahan yang kubaca, seberapa tinggi celanamu [dari mata kaki], di mana kau letakkan sedekapmu, dan masih banyak lagi [kau tahu itu].

Anakku, kau ini seorang bodoh. Janganlah memperbodoh diri dengan perdebatan-perdebatan itu. Itu tidaklah baik bagimu. Pergilah dirimu menemui guru, jangan kau hanya duduk menghadiri pengajian di tivi itu. Jangan pula terlalu banyak membaca kitab tanpa anjuran dan bimbingan guru.

Anakku, mendekatlah karena aku akan berbisik. Bukan rahasia, sih. Tapi aku takut orang lain tersinggung dengan ucapanku. Dengarlah: orang banyak membicarakan [baca: memperdebatkan] isu-isu tentang perbedaan-perbedaan itu, tapi sejak dulu sampai sekarang jamaah sholat subuh tidak pernah lebih banyak daripada jamaah sholat maghrib. Padahal, kuberi tahu kalau kalau belum tahu, subuh adalah pembeda, antara 'identitas' seorang muslim dengan 'identitas' bukan muslim. Maka hadirlah di sana, bersama mereka yang mensyukuri pagi melebihi ketakutannya saat senja.

Ah, satu lagi anakku. Yang ini rahasia [meski rahasia umum]. Sederhana saja, wahai engkau anakku. Kalau kau ingin bahagia, lepaskanlah seluruh ikatan-ikatan beban hidup ketika kau telah tunaikan 'isyamu. Bergegaslah tidur agar kau dibuat terjaga lebih dulu daripada cahaya fajar [semoga]. Di sana, ada yang menunggumu untuk mengabulkan segala pintamu. Sebanyak apa yang kau butuhkan, mintalah saat itu.

Selamat mencoba, anakku. Semoga beruntung.

Sebagaimana tertulis dalam "Book of Abdullah" tertanggal 20 Juni 2011.

7 comments:

  1. Aku jd ingat nasihat guru agamaku di SMA. Sering sekali beliau berpesan kpd kami, "Jadilah muslim yang cerdas, apakah gunanya ikt golongan tertentu. Jika mendapat ilmu baru, pikirkanlah, sesuaikah semua itu dengan akal sehat. Yakinilah yang benar dengan tetap menjaga silaturahmi, menghindari perpecahan...."

    ReplyDelete
  2. Sip. eh, Vina teman SMA-nya Ulin ya?

    ReplyDelete
  3. Iya. Temen satu kelas 2 tahun. he2... Mabruri jg satu sekolah sm Ulin kn? satu kost juga?

    ReplyDelete
  4. Iya, sekarang satu sekolah. beda kos, jauh pula. jarang ketemu juga sebenere...

    ReplyDelete
  5. Ehm lagi ngomongin apa nih?

    Aduh jadi merasa tersindir dengan kalimat "...subuh adalah pembeda, antara 'identitas' seorang muslim dengan 'identitas' bukan muslim."

    ReplyDelete
  6. Ketauan deh Mabruri. Ulin bangunnya siang... ^0^
    Iya Amin..insyaAllah bermanfaat..

    ReplyDelete