Monday, November 7, 2011

Jalan Pagi

Secangkir teh hangat, sepotong subuh hari penuh semangat.

Secangkir teh manis hangat ini terlalu sederhana untuk memulai hari yang penuh semangat. Bangun pagi-pagi, tak ada suara bising di sana-sini. Duhai nikmatnya dunia bila tanpa kasak-kusuk tetangga kanan-kiri. Membuka mata pagi-pagi, berlomba dengan merpati yang ingin segera membumbung tinggi. Atau, daun melati yang berembun semurni hati. Mari mulai hari dengan puji Ilahi.

Tok tok tok. Ayo kita tengok kamar mahasiswi. Ups, ada yang masih bersembunyi di balik seprai. Semalam baru nonton Super Junior manggung di lepi. Jadi, maklumlah kalau tak sempat lihat terbit mentari.


Tak tak tak. Nyok kite lihat kamar si mahasiswa. Lha, ada yang lagi bergumul dengan selimut kumal. Semalam juga baru muter eS-eN-eS-De rupanya. Tak apa, toh yang lihat mahasiswa, bukan mahasiswi. Kan lucu kalau jeruk minum jeruk!

Jalan pagi di hari sunyi, menghirup udara sejuk seorang diri. Aku berjalan menyusuri titian khusus pejalan kaki.

Matahari muncul tanpa pelangi, karena ini masih kemarau. Pelangi lebih suka muncul di musim hujan karena banyak air. Mengapa? Karena bidadari ingin mandi. Ketika kemarau, mereka tak ingin mandi karena kasihan pada manusia bumi yang sedang menderita kekurangan air.

Omong-omong tentang kekurangan air, aku jadi ingat pesan Dosen Advanced Accounting. Beliau bilang, gunakanlah air dengan efektif dan efisien. Contoh yang beliau berikan dalam praktik adalah dengan memutar keran dengan volume debit yang cukup saja, bahkan sedikit saja. Pokoknya, jangan sampai tidak terpakai, terutama pada saat kita wudu, karena pasti ada air tetap mengucur dan terbuang ketika kita mengusap bagian-bagian wudu kita. Eh, ada juga pesan lain. Buanglah sampah pada tempatnya. Kalau di sekitar kita tidak terdapat tempat sampah, simpan sampah, misalnya masukkan saku, sampai kita menemukan tempat sampah. Memang sih, pesan itu seperti sepele, tapi hal kecil inilah yang sering kita abaikan. Sebenarnya sih, sungguh memalukan bila kita masih perlu diingatkan untuk hal-hal remeh temeh semacam ini.

Tapi ini sudah masuk Oktober, sebentar lagi hujan pertama turun. Mungkin dua minggu lagi, demikian normalnya. So, bersiaplah mengintip bidadari yang sedang mandi di telaga pada ujung pelangi. Jangan lupa, ambil satu selendang saja. Jangan serakah! Maksimal empat deh. Eh, tapi satu saja, sebab bila kau ambil ketujuh selendang itu, yang artinya ketujuh bidadari itu tak bisa pulang, tulangmu akan lebih cepat keropos terutama sekitar lutut. Berabe kan?!

Ah, becanda nih.

Seriusnya, bila hujan pertama turun sudah, jangan lupa bersyukur atas nikmat itu. Yah, meski kita jadi repot saat berangkat kuliah, pergi kerja, dan baju lama keringnya. Tapi jangan malas bangun pagi, yah!

Di-copy dari Book of Abdullah tanggal 04 Oktober 2011

1 comment:

  1. Biar sampah ga terbuang, utk jenis ttt, masih bs dimanfaatkan(daur ulang)...hehehe...

    ReplyDelete