Thursday, November 24, 2011

Jamaah Dadakan, Sebuah Catatan Sentimental

Aku terlambat datang sholat jamaah isya di masjid. Jamaah sudah sampai pada tasyahud akhir. Aku tak ingin memburu 'ekor' rombongan yg sudah berangkat itu meski ada orang lain yg berlari demi mendapat ujung gerbong itu. Aku berharap ada orang lain yg datang di belakangku dan kami bisa berjamaah meski hanya berdua.

Ternyata cukup banyak calon jamaah yang terlambat. Lalu kami berdiskusi tanpa narasi tentang siapa imam kali ini; saling tunjuk seperti biasa. Sementara kami bertindak bodoh demi mendapatkan satu orang yang berani ambil resiko membawa jamaah sholat 'isya ini, di suatu sudut lain seseorang yg juga datang terlambat telah menepuk pundak seorang jamaah yang tadi masbuk.


Maka jadilah mereka berdua dinamai sholat berjamaah. Serta-merta kami yg tadi berembug memilih imam, langsung berjalan menuju jamaah dadakan tadi. Mau tak mau, kami harus ikut dalam jamaah ini karena tak boleh ada dua sholat berjamaah dalam satu majelis di waktu bersamaan.

Hmmmm.

Bukane sok tahu ya. Tapi, gimana ya. Ilmuku memang tidak banyak, dan dalam hal ini aku cenderung menggunakan logika. Begini. Ketika kita berjumlah 2 orang atau lebih dan ingin mendirikan jamaah, sudah bolehlah kita menjalankan sholat berjamaah sendiri dengan syarat di majelis yg sama sedang tidak ada sholat berjamaah lain.

Secara terang-terangan, aku ingin mengatakan: daripada menepuk pundak orang lain yg sedang sholat untuk kita jadikan imam, alangkah baiknya kita membuat sendiri barisan jamaah. Toh, mininal dua orang cukup untuk mendapat pahala yg 27 lipat itu. apalagi mengingat sistem 'tepuk' itu berarti tidak atas keikhlasan orang yg kita jadikan imam. Juga, biasanya kita tidak mulai dari awal, hingga kita hanya mendapatkan sepotongan saja. Masbuk, yg tentunya tidak lebih baik daripada mengikuti sholat berjamaah sejak awal.

Satu lagi, untuk menjadi makmum suatu sholat berjamaah, tidak ada syariatnya [oh, maksudku, aku tidak tahu syariatnya] sang makmum harus menepuk orang yg ia jadikan imam. Seorang yg memosisikan dirinya sebagai makmum cukup dikategorikan sebagai makmum bila ia berniat menjadi makmum terhadap seseorang yg ia jadikan imam lalu ia mengikuti gerakan orang yg ia jadikan imam tersebut.

Aku tidak tahu apa maksud tepuk itu, meski aku sendiri melakukannya bila tidak menemukan orang lain untuk membuat jamaah tersendiri. Mungkin tujuannya hanyalah memberitahukan pada orang yg ia jadikan imam bahwa ada seseorang [atau lebih] yg menjadi makmumnya.

Dan, masih ada lagi. Yang ini aku ambil dari perkataan guruku di suatu majelis ilmu: menepuk pundak orang lain yg sedang sholat itu mengganggu ke-khusyu'-an orang itu, maka sebaiknya dihindari.

Sekian. Wallahu a'lam.

1 comment:

  1. Ikutilah yang paling 'pas' buat Mabruri...

    Oya, pada post "identitas dan Prioritas" tadi tgl 27 Des 2011 jam 12 siang ada dialog tentang Hakikat Tahun Baru Hijriyah. Ak jd ingt post Mabruri ini. Kmrn sudut pndngku sdkt meleset. Mngkn yg Mabruri mksd adl, tak usah lah umat islam itu bnyk berdebat ttg simbol2 peribadatan, perhatikan yg plng pnting dari ibadah itu, Makna ibadah...Hijrah dari buruk jd baik..

    ReplyDelete