Monday, November 14, 2011

Jendela: Penyambung atau Pemisah?

Apa kekhasan jendela hingga ia harus ada, setidaknya ia telah tercipta, meski pintu mempunyai peranan yang cukup luas untuk keluar masuknya sesuatu?
Sumber foto: sangkarhati.blogspot.com

Jendela, ia seperti pintu memang, yakni tempat udara dan cahaya lewat. Meski ia bukan piranti bagi manusia baik-baik untuk keluar-masuk ruangan, jendela memberi efek seolah-olah manusia berada di luar ruangan. Itu karena mata menjangkau pandangan yang jauh dan luas di luar sana.



Jendelalah, bukan pintu, yang menjadikan Microsoft mengembangkan teknologi yang kini digunakan oleh berjuta manusia di seluruh penjuru dunia.


Jendelalah, dan bukannya ventilasi, sebuah perumpamaan tentang ilmu menggunakannya. Yakni, 'buku adalah jendela dunia'.

Aku tak menganggap jendela sebagai pemisah, melainkan ia adalah penyambung, perangkai, penghubung. Sebagaimana lautan dan samudera menghubungkan dan menyatukan beribu-ribu pulau di Nusantara. Sebagaimana cakrawala [horizon] menghubungkan dan menyatukan perspektif langit dan bumi.

Maka, aku selalu membutuhkan keberadaan jendela di sisi kamarku. Seperti di kamar kos lamaku, di Al Kausar 52 kamar nomor 1, dua buah jendela tepat berada di samping kiri tempat tidurku. Dan, kalau Kawan ingin tahu, meski aku dalam posisi tiduran di ranjang, aku dapat dengan mudah mengetahui aktivitas rumah kos Al Karim di lantai dua. Di lantai itu, terdapat lubang besar, yang terlalu berlebihan jika kusebut jendela, tertutup tirai bambu karena berlubang. Kadang terlihat ada aktivitas para mahasiswi di sana. Tapi bukan ini sesuatu yang membuatku menceritakan jendelaku. Jendelaku menyambungkan duniaku dengan dunia ide.

Ya, jendela, sebagai suatu benda nyata dan dalam artian denotatif, membuat pikiranku lebih terbuka, memudahkan untuk bernafas, melegakan, dan juga mencerahkan dengan hadirnya cahaya. Sedang sebagai arti kias, jendela bagiku semacam pintu ke mana saja milik Doraemon. Ia bukanlah benar-benar pintu. Misalnya, buku sebagai jendela dunia, juga internet. Ia bisa menghadirkan pemandangan pantai-pantai di Raja Ampat di depan mataku meski tak mungkin aku menjamahnya dari tempatku membaca.

Jendela, termasuk dalam artian ini adalah teropong.

No comments:

Post a Comment