Saturday, November 5, 2011

Saturday: I Want to Ride My Bicycle

I want to ride my bicycle.


Sudah menjadi jadwal semitetap jogging di hari Sabtu, biasanya bersama Sahabat Lebah. Dua minggu ini tidak ada kabar ajakan lari pagi bersama. Aku pun sedang tidak berhasyat berlari karena tak punya sepatu lari. Jadilah aku bersepeda.


Rencananya, hari Jumat kemarin aku pagi-pagi akan membawa si Perak berkeliling-keliling untuk menghirup udara pagi. Tapi gagal total oleh sebab yang sangat konyol: ketiduran selepas menjalani rangkaian aktivitas subuh. Kini rencana itu terealisasi pada hari Arafah ini. Dengan jersey kelas 2F Akuntansi 2010-2011, jatet atlit, topi Quick Silver warna cokelat, celana cokelat, aku keluar dari kamar ketika kos masih sangat krik krik krik.



Lapak Sarmili


Dari Hasan kos, keluarlah ke kanan dan ikuti jalan berupa paving block, maka Kawan akan mendapati pemukiman kumuh dan ilegal, dugaanku. Selain itu, lapak-lapak macam demikian di bumi Indonesia adalah sebuah anomali. Pada satu kondisi, peri kemanusiaan Kawan-kawanita sekalian pastilah terpanggil lantaran ketidakberuntungan yang terbeban di bahu mereka. Pada kondisi lain, Kawan-kawanita [atau mungkin hanya saya] merasa prihatin dalam artian negatif, yaitu kasihan karena mereka memang tidak bisa dibenarkan secara hukum: mereka menempati lahan tinggal yang bukan hak mereka.


Namun, atas nama kemanusiaan, beberapa mahasiswa yang merasa prihatin [dalam artian positif] dengan keadaan itu dan berusaha membantu semampu mereka. Salah satunya dengan membuatkan mereka Rumah Pelangi, gubuk berukuran 3 meter X 5 meter untuk kegiatan belajar mengajar di sore hari.


Dan, aku berada pada dua sisi itu sekaligus; prihatin positif dan negatif.


A Weirdness Journey


Si Perak terus melaju menuju Jalan Bintaro Utama Sektor 5A. Di sini aku bisa memacu sepeda balapku dengan kecepan di atas 30 km/jam. Jalanan lengang dan aku mempunyai arah tujuan: Graha Taman. Tapi, Graha Taman ternyata adalah kawasan perumahan, tidak seperti dugaanku. Ternyata itu bukan taman, dan untuk masuk ke kawasan itu, aku harus melewati gate yang dijaga security [apakah security= satpam? salah kaprah].


Aku urung ke situ. Jadilah aku muter-muter kompleks sekitar situ dengan gerak arbitrer, suka-suka guwe: termasuk melihat rumah mantan murid les privatku.


Akhirnya aku memasuki kawasan di luar kompleks Bintaro; perkampungan yang ternafikkan dari ingar-bingar kepongahan bisnis real estate. Jalanan berupa paving block, perumahan warga kampung yang padat, aku tak bisa mengayuh si Perak dengan kencang.


Terus melaju, terus, dan terus, singkat cerita aku melihat jalan tanah yang ujungnya masih gelap tertutup rindangnya pepohonan. Ada tumbuhan ilalang di tepian jalan tanah basah itu. Serasa seperti pulang kampung saja. Rasa ingin tahuku membuatku membelokkan arah si Perak. Aku turun ke jalan tanah itu dari jalan beton perkampungan. Jalan tanah selalu terlihat halus, jika masih asli. Meliuk-liuk, sedikit rumah, aku menambah laju si Perak. Dan....


Ghuk ghuk ghuk!!!


Ada tiga anjing di arah 45 derajat dari arah depanku. Kulihat sepintas, hanya satu yang berlari mengejarku.


Hanya?


Oh no. Aku mempunyai pengalaman buruk tentang anjing. Aku pernah di hadang beberapa ekor anjing Salatiga saat aku berangkat dan pulang dari mencari tukang cukur di bumi Kalijaga itu. Kini bukan hanya dihadang, aku dikejar anjing!


Kukayuh si Perak dengan serampangan sambil komat-kamit mengharap perlindungan. Asal ada jalan, kulewati saja tanpa peduli keadaan sekitar. Masih kudengar salakan anjing, kukebut lagi si Perak. Terjadi sangat singkat, karena aku sangat gugup, logika tak berperan apapun di sini.


Lalu, tiga kejadian ini berlalu dengan cepat dan beruntun: roda si Perak keluar lintasan, rantainya terlepas dari gerigi, dan roda depan masuk ke parit. Si Perak terjungkal, aku tak jatuh dan langsung berlari. Hanya satu hal yang terpikir: memanjat pohon.


Di situ memang area semacam perkebunan, atau tegalan. Beberapa pohon dari filum palmae menjulang tinggi, tak mungkin kupanjat karena batangnya besar. Aku terus berlari dan menemukan pohon Gnetum Gnemon miring. Kupanjat saja ia. Meski tak tinggi, aku merasa aman. Saat kulihat di mana si Perak terkapar, yaitu TKP, tak ada anjing di sana. Tapi, salakannya terdengar di kejauhan. Kulihat juga ada orang berdiri di depan rumah, di kejauhan pula. Bila keadaan tidak berubah, yakni anjing itu masih menggangguku, aku sangat berharap Allah menurunkan pertolongan-Nya lewat orang itu. Barangkali orang itu bisa menjinakkan anjing kurap gila itu.


Masih bertengger di batang Gnetum Gnemon miring, kaki gemeteran, nafas putus-putus, aku mengangkat muka dan melihat lanskap di depanku. Subhanallah, di bawah sana ada sungai kecil dengan air mengalir dan cukup jernih [bila dibandingkan dengan sungai di Jakarta], lalu di atasnya ada ladang berundak serupa bukit. Ternyata masih ada pemandangan macam ginian di sekitar sini. Hijau, basah berembun, lapang, dan sunyi.


Merasa aman, aku turun dan mendapati si Perak yang terkapar tak berdaya. Kuelus-elus ia dan kukatakan padanya, "Kau akan baik-baik saja, Brad."


Dari peristiwa ini, aku mendapat pelajaran: jangan banyak tingkah ketika masuk kampung orang dan asing.


Si Perak kembali menggendongku dengan hati-hati, memilih jalan keluar dari semak-semak, mencari jalan beraspal. Di suatu gerbang, aku melihat tulisan yang menunjukkan nama tempat itu: Kelurahan Parigi Lama, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.


Sebelum masuk gerbang kampus, aku menyempatkan mampir di Alfa Mart guna berbelanja deterjen.


Alhamdulillah, sesuatu banget yah!

2 comments:

  1. Kalau yang ini nyata kah?
    Astaghfirullah, kasian banget yah!

    Lebih galak dari anjing Binadharma ya dul?

    ReplyDelete
  2. Nyata, sangat nyata..

    mungkin karena momennya aku lagi bersepeda dengan laju kencang, jadi anjingnya ngrasa terusik..

    Anjing Salatiga tetep lebih nakutin Lin..

    ReplyDelete