Tuesday, December 27, 2011

Intelegence Gap

Pernah seorang teman bertanya kepadaku dalam suatu perjalanan pulang naik sepeda dari sebuah kampus. Tak perlu menyebut nama, tapi seragam sepak bola kelas yang ia pakai bernama punggung 'MASTER'. Dia bertanya kepadaku tentang masa depan.

"Kelak istrimu akan kau perbolehkan kerja atau bagaimana?"

Sebagai orang yang masih jauh dari umur menikah, kurasa jawaban ini cukup bijak, "Bila bisa kerja di rumah, silakan."

Saturday, December 24, 2011

Lampu Kamar Telah Mati

Pulang, ada setangkup rindu yang sedemikian memburu. Tapi bukan karena kau tinggal di kota itu, Laila, yang adalah kotaku juga.


Merantau, artinya berkurang jam belajar di sekolah keabadian, ibuku. Sebelum kau membantu mengajar di sekolah ibuku, Laila, aku ingin belajar privat lagi dengan ibuku. Jangan kau mendaftar dulu sebagai guru di sekolah ibuku. Tunggu dulu barang 3 atau 4 tahun.


Lampu kamar telah mati, dan aku ingin pulang.

Friday, December 23, 2011

After Solstice

Kemarin, tanggal 22 Desember adalah hari ibu. Namun banyak yang tidak tahu bahwa hari itu juga hari di mana matahari berada di titik paling selatan dalam gerak semu tahunannya. Barangkali ada yang bertanya, "Lalu apa pentingnya winter solstice ini?" Eits, sebelum kujawab, aku ingin balik bertanya, "Apa pentingnya hari ibu?"
Foto: endagvangarenx.blogspot.com/2011/02/fenomna-midnight-sun-matahari-di.html
Aku tidak mengatakan Hari Ibu tidak penting. Hanya saja penetapan Hari Ibu pada suatu tanggal dalam satu periode kalender itu adalah suatu peristiwa acak, arbitrer, atau mana suka. Jadi, pertanyaan selanjutnya adalah: mengapa tidak menjadikan seluruh hari sebagai hari ibu? Membahas jawaban atas pertanyaan ini lebih tidak penting lagi. Apalagi, membahas pernyataan suatu golongan yang menyatakan bahwa merayakan Hari Ibu adalah perkara bid'ah. Daripada mengeluarkan pernyataan pembid'ahan itu, lebih baik membahas winter solstice saja.

Thursday, December 22, 2011

Seandainya Saya Anggota DPD RI: Lebih Banyak Mendengar

Sejatinya, saya tidak ingin menjadi wakil rakyat. Bahkan membayangkannya pun tak ingin. Sungguh, bukan lantaran saya tidak ingin melakukan tugas mulia itu. Akan tetapi, bila teringat pertanggungjawaban yang sedemikian besar, saya lebih baik menjadi guru TK saja. Meski hanya mengubah suatu keadaan pada lingkup yang kecil, menjadi guru mempunyai arti lebih dalam daripada menjadi anggota DPD RI yang cenderung bersikap berdasarkan kepentingan politik daripada berdasarkan nurani yang murni.

Namun, demi berbagi saran kepada para anggota DPD RI, saya ingin memberikan buah pikiran yang saya implementasikan pada diri saya sendiri di dalam dunia pengandaian.

Saturday, December 17, 2011

Namanya Siapa?

"Mas, namanya siapa?"


"Abdullah."
*


"Aku yakin, dia jauh lebih anggun dari Anna Althofunnisa."

Need A Break

terlalu lelah, tapi aku tidak menyerah
luka itu masih ada, meski tak lagi menganga
tapi bukan putus asa, hanya berhenti untuk kemudian berlari lagi


bantu aku mencari diriku dalam dunia abu-abu
tapi jangan paksa aku untuk menjadi seperti yang kau mau


aku memang lain, dan luar biasa
dan harusnya kau paham bahwa orang luar biasa selalu berkebutuhan khusus


aku salah, tapi aku tak mau kalah
jika di sebelahmu ada madu, sisakan aku setengah
jika kau tak malu, izinkan aku berdiri di sebelah
karena selalu ada jalan pulang kepada kebaikan


tapi masih adakah gerbong kereta untukku pulang di pengujung tahun ini?

Thursday, December 15, 2011

Before Dawn

Siapa saja yang mencintai senja, sudah seharusnya ia lebih mencintai fajar (Abdullah Mabruri: 2011).
Senja memang indah. Barangkali semua orang setuju. Ya, senja memang indah: matahari kuning kemerahan melayang rendah di ufuk barat, warna langit juga memanjakan mata, sampai matahari terbenam dan langit masih menampakkan warna merah dalam remangTapi, bagiku, senja tak mendamaikan. Karena itu adalah tanda bahwa hari yang lelah ini telah sampai pada masa tuanya. Tak lama lagi akan menutup usia. Tentu, aku mesti waspada.

Wednesday, December 14, 2011

Kepada Siapa Ku Harus Bertanya?

Kepada siapa kutanyakan kegundahan hati ini bila Kau menghendakiku tuli?


Tuhan memang tidak tuli. Dia Maha Mendengar, meski mulut kita tak bertanya dengan suara. Namun, meski tidak tuli, belum tentu aku bisa mendengar jawaban-Nya. Apalagi jika Dia menutup hatiku dari Petunjuk.


Lalu siapa yang akan menerjemahkan jawaban-Nya untukku?


Ingin kubertanya pada hati. Barangkali ia lebih mengerti arti jawaban-jawaban Tuhan untukku. Ketika hati kuketuk, ia ternyata begitu rapuh untuk kujadikan sandaran. Kadang, ada suara lain juga, yang sama halusnya. Dan aku kembali limbung. Hati ini sedemikian kotornya.


..

Tuesday, December 13, 2011

Target

Bukan tentang nama, tapi kriteria.


Apa jadinya bila kriteria itu telah dipenuhi oleh sebuah nama?


.... [speechless]