Friday, December 23, 2011

After Solstice

Kemarin, tanggal 22 Desember adalah hari ibu. Namun banyak yang tidak tahu bahwa hari itu juga hari di mana matahari berada di titik paling selatan dalam gerak semu tahunannya. Barangkali ada yang bertanya, "Lalu apa pentingnya winter solstice ini?" Eits, sebelum kujawab, aku ingin balik bertanya, "Apa pentingnya hari ibu?"
Foto: endagvangarenx.blogspot.com/2011/02/fenomna-midnight-sun-matahari-di.html
Aku tidak mengatakan Hari Ibu tidak penting. Hanya saja penetapan Hari Ibu pada suatu tanggal dalam satu periode kalender itu adalah suatu peristiwa acak, arbitrer, atau mana suka. Jadi, pertanyaan selanjutnya adalah: mengapa tidak menjadikan seluruh hari sebagai hari ibu? Membahas jawaban atas pertanyaan ini lebih tidak penting lagi. Apalagi, membahas pernyataan suatu golongan yang menyatakan bahwa merayakan Hari Ibu adalah perkara bid'ah. Daripada mengeluarkan pernyataan pembid'ahan itu, lebih baik membahas winter solstice saja.

Ini menurutku lho... Mengapa? Lha iya, itu bukanlah sesuatu yang materil. Daripada salah ucap, yaitu menyatakan bid'ah suatu hal yang seharusnya bukan bid'ah (misalnya lho), kan lebih baik diam. Atau, jangan-jangan ini telah masuk ranah ijtihad yang mana jika salah pun akan mendapat satu pahala? Aku tak tahu, maka kutinggalkan saja.

Bact to winter solstice. Sudah kukatakan bahwa Islam itu agama samawi, agama langit. Adalah perlu bagi umat Islam untuk belajar tentang 'langit', minimal tahu penanggalan berdasarkan kala edar bulan. Syukur-syukur dapat menentukan arah hanya dengan melihat penampakan alam. Pan,langit itu kitab yang terbentang beh...

Nah, ini. Ini yang kumaksud. Pada hari itu, matahari terbit pada titik paling selatan dari gerak semunya selama setahun, yaitu pada lintang -23,5 derajat. Dari situ, minimal kita tahu arah yang selanjutnya dapat dikembangkan ke berbagai keperluan lain. 

Ah, tentang arah, dulu aku pernah jengkel dengan seseorang karena berdebat tentang arah. Waktu itu aku baru pindah ke suatu daerah untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama, maka perlu bagiku mengerti arah (utamanya arah kiblat sholat). Anak itu, temanku sendiri sih, bertanya pada orang yang bermukim di daerah itu tentang arah kiblat. Orang itu menunjukkan jarinya ke suatu titik, maka temanku menjadikan arah itu sebagai arah kemana ia harus menghadap-Nya. Bukan aku tak percaya, tapi wajib bagi seorang muslim untuk memverivikasi setiap berita yang datang. Pada suatu kesempatan, aku dapat melakukan hal itu dan kudapatkan arah yang sedikit berbeda dengan arah yang ditunjukkan orang itu. Maka, aku mengikuti apa yang kudapatkan berdasarkan sedikit ilmu yang kutahu. Tapi temanku tidak. Aku sih tidak ingin mendebatnya, apalagi memaksanya. Hanya saja aku kasihan ketika seseorang harus bertaqlid buta karena tidak mengerti ilmunya.

Maka, hal kecil ini, winter solstice yang tampak sepele ketimbang Hari Ibu, bisa meningkat tingkat urgensinya. Jadi, lebih baik belajar tentang langit tho daripada membahas pembid'ahan perayaan hari ibu?

A day after solstice, Jumat mubarak, matahari mulai pulang menuju khatulistiwa tapi aku belum mendapatkan tiket kereta untuk pulang ke Kebumen (ibu kota Atlantis).

3 comments:

  1. Iya ya...semua hari seharusnya jadi hari Ibu... Karena beliau tak pernah jauh dari kita... Ibuku juga selalu berpesan, "Jangan melakukan hal yg km tdk tau ilmunya." Ternyata bisa kulupakan juga.
    Tentang langit, aku dan Ulin sering bercerita tentangnya. Suka, tp kadang ga mudeng...Awam Mabruri..hehehehe...

    ReplyDelete
  2. wah, seneng ada temen ngobrolin ttg langit..
    eh, klw yg Vina ga mudeng itu knp ya? krn bahasanya yg rumit atau gmn?
    buat evaluasi.

    ReplyDelete
  3. Ngobrol tentang langit itu menyenangkan, dan juga mengingatkan kita bahwa kita "kecil".

    ReplyDelete