Thursday, December 15, 2011

Before Dawn

Siapa saja yang mencintai senja, sudah seharusnya ia lebih mencintai fajar (Abdullah Mabruri: 2011).
Senja memang indah. Barangkali semua orang setuju. Ya, senja memang indah: matahari kuning kemerahan melayang rendah di ufuk barat, warna langit juga memanjakan mata, sampai matahari terbenam dan langit masih menampakkan warna merah dalam remangTapi, bagiku, senja tak mendamaikan. Karena itu adalah tanda bahwa hari yang lelah ini telah sampai pada masa tuanya. Tak lama lagi akan menutup usia. Tentu, aku mesti waspada.



Fajar, bahkan sejak sebelum fajar, tak ada yang menyangka keindahannya. Tapi yang terpenting adalah kedamaiannya. Kawan, ketika kau dibangunkan pada waktu-waktu sebelum fajar, kau akan merasa sepi. 


Kau akan merasa sepi. Tapi ingatlah, sepi tak berarti sendiri. Karena ada Dia yang menantimu. Dan, apa yang akan membuatmu damai justru kesepian itu. Manusia dengan segala ambisi-dunianya masih terlelap, tapi kau telah dibuat terjaga oleh Dia. Saat itu, takkan kau dengar kasak-kusuk manusia dengan segala nafsunya.

Jika kau inginkan kedamaian, datanglah pada saat itu. Yakni waktu sebelum fajar menampakkan cahayanya. Ehm, secara astronomis, fajar terjadi sejak matahari berada 18 derajat di bawah horizon. Sebelum fajar, tentunya sebelum waktu itu. Selamat menikmati sebelum fajarmu, Kawan!


pada pagi yang bersemangat.

No comments:

Post a Comment