Tuesday, December 27, 2011

Intelegence Gap

Pernah seorang teman bertanya kepadaku dalam suatu perjalanan pulang naik sepeda dari sebuah kampus. Tak perlu menyebut nama, tapi seragam sepak bola kelas yang ia pakai bernama punggung 'MASTER'. Dia bertanya kepadaku tentang masa depan.

"Kelak istrimu akan kau perbolehkan kerja atau bagaimana?"

Sebagai orang yang masih jauh dari umur menikah, kurasa jawaban ini cukup bijak, "Bila bisa kerja di rumah, silakan."


Pertanyaannya berlanjut, "Kalau begitu, pendidikan (hanya sampai wajib belajar 9  tahun) bagi wanita tidak harus tinggi atau seimbang dengan lelaki donk?"

"Hmmm, 'kan nantinya (istri) akan mendidik anak. Jadi, bagus kalau wanita berpendidikan tinggi (seimbang dengan lelaki). Lagipula, pendidikan selain memberikan ilmu juga membentuk pola berpikir."

"Ya, jadi mudah bertukar pikiran."
"Hehem."

[lalu masih berlanjut dialog tentang 'masa depan', tapi tidak relevan dengan judul tulisan ini :)]
*

Bukan maksudku untuk bercerita tentang kriteria istri, tapi ini tentang pendidikan. Lebih tepatnya pendidikan dalam cakupan yang luas, tidak sebatas pendidikan formal.

Setiap pulang kampung, aku sering merasakan ini: intelengence gap (kasarnya: celah kecerdasan). Bukan bermaksud sombong, tapi di desaku memang tingkat pendidikan masih rendah. Tentu saja, aku berada di atas rata-rata, meski DIII saja belum lulus [insyaAllah lulus tahun 2012; doain ya:D]. Ya, pendidikan memang membentuk pola berpikir. Perbedaan pola berpikirlah yang kadang membuatku repot ketika berada di lingkungan desa sendiri. Kukira tak perlu contoh, tapi pasti Kawan-kawan perantau juga merasakannya.

Menilik dialogku dengan seorang kawan tadi, perlu adanya pola pikir yang sinkron dalam keluarga. Maka, tak perlu kecewa bagi wanita bila kepala keluarga tidak mengizinkannya berkerja. Sebab, pendidikan yang telah ia capai dengan susah payah akan berguna untuk menunjang karier sebagai ibu rumah tangga. Dengan pendidikan ia dapat berdiskusi dengan baik bersama kepala keluarga. Dengan pendidikannya pula ia dapat mendidik anak dengan baik, menjadi madrasah abadi bagi generasi selanjutnya.

Sepadan dengan hal di atas, khususnya dalam hal komunikasi, perbedaan pola pikir mempengaruhi keharmonisan dalam kehidupan sosial masyarakat. Baiklah, sebutlah misal Facebook, Twitter, dll yang telah menjadi budaya dalam berkomunikasi bagi para orang-orang terdidik, orang-orang desa masih belum mengerti apa itu internet. Bagaimana orang sepertiku akan menjelaskannya? Dengan diksi semacam apa agar definisi internet menjadi kalimat yang mereka pahami? Itu misalnya. [Ah, biarlah mengalir.]

Namun, di luar itu, aku merasakan kedamaian menyelimuti orang-orang desa. Aku yang setidaknya telah menjadi manusia pengguna internet, kacau sendiri dengan informasi yang telah banyak berbau konspirasi.

Dari intelegence gap ini setidaknya dapat diambil sebuah pelajaran: sejauh apapun pergi merantau guna menuntut ilmu, ingatlah pulang untuk mendedikasikan ilmu bagi saudara sendiri di tanah kelahiran. Bahwa ternyata orang terdekat kita membutuhkan apa-apa yang telah kita raih di tanah rantau. Maka, sungguh benar bahwa yang penting adalah kemanfaatan dari ilmu, bukan banyaknya ilmu itu sendiri.

Dan aku malu karena belum bisa bermanfaat bahkan bagi lingkungan terkecil sekalipun.

_____di rumah, ternyata ada sinyal juga.

7 comments:

  1. Masih kental juga di lingkunganku Mabruri... Hak wanita untuk mendapatkan pendidikan yang sepadan dengan lelaki masih dikesampingkan...
    Pendidikan itu selain bertambahnya ilmu juga pendewasaan.

    ReplyDelete
  2. bukan..bukan itu maksudku.
    bukan ttg perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan.
    maksudku ya perbedaan tingkat pendidikan itu mmbuat komunikasi mjd sulit [bagiku]. atau klw boleh jujur, sering aku jengkel malah.. haha.
    pokoknya itulah.

    ReplyDelete
  3. Kesulitan dengan istilah apa pemahaman Mabruri?
    Jelaskan saja semampu Mabruri...


    Sedikit bergeser ke topik lain, Aku sering menimbang kemanfaatan orang lain bagi perkembangan ilmu dan pemikiranku.
    Sore ini aku menarik kesimpulan sesuatu, "Setiap orang pny kekhususan kelebihan masing-masing..."
    Mungkin kita perlu membatasi dan memilah apa yang akan kita bicarakan kepada mereka Mabruri...Baik yang lebih tinggi pendidikannya, maupun yang lebih rendah...
    Sebagai contoh, kebuntuan pikiranku yang begitu muluk tentang target2 tertentu ku selama ini, justru terurai oleh orang yang pemikirannya lebih sederhana... Begitu istimewa..^^

    ReplyDelete
  4. Jalan-jalan di blog Abdul, jadi ingat ide membuat buku dari blog, bisa dimulai ni, tulisannya menginspirasi.....:)

    Urun pendapat ya: menurutku pendidikan wanita perlu mendapat sorotan khusus,harus S1, S2, bahkan S3. Bukan untuk mengejar karir atau penghasilan semata,tetapi modal sebagai mahaguru bagi buah hatinya kelak, modal utama membentuk generasi madani. Ibu juga seorang psikolog, motifator, dokter, akuntan, sahabat,intinya multiperan. Apakah kaum lelaki rela, tentara kecilnya dididik oleh sembarang orang?

    Seputar "Intelegence gap". Intelegence gap memang perlu hadir dan dibutuhkan. Hal ini menjawab pula pertanyaan: mengapa harus ada kemiskinan, kebodohan,atau ketertinggalan?

    "Intelegence gap" memberi ruang bagi para cendekia untuk menularkan ilmunya.
    Kemiskinan memberi jalan bagi para hartawan untuk berderma.
    Ketertinggalan memberi waktu bagi para teknologiwan untuk berkarya.

    Intinya: orang yang berlebih diberi ruang beramal dengan memberi dan orang yang tertinggal diberi ruang beramal dengan semangat belajarnya.

    Begitu indah dunia jika hukum memberi dan menerima berlaku seimbang...........seperti catatan Abdul di pembukaan "Langit dan Bumi", sampai kita tak tahu mana yang lebih dulu memberi seperti ketaktahuan kita lebih dulu yang mana antara ayam dan telur.....:)

    Tetap semangat menulis....masih dalam rangka memberi dan menerima

    ReplyDelete
  5. makasih udah berkenan mampir. postingan ini udah lama banget, hmmm..jangan2 udah dibaca semua? hehe

    usulan yang menarik, langsung dari seseorang yg akan berpraktik sbg mahaguru.

    kayaknya, pakai kalimate Vika, maksud dari tulisan ini lebih mudah dimengerti pembaca..

    catatan pembuka "Langit dan Bumi" itu yg mana ya?

    ReplyDelete
  6. Di lima lembar tulisan pertama yang Abdul bawa, yang intinya :

    (lupa redaksi pastinya)
    Hujan itu proses saling memberi antara langit dan bumi, uap air naik dari bumi lalu diproses dan turun lagi sebagai hujan yang akan menjadi sumber air di bumi, dan kita tidak pernah tahu mana dahulu yang memulai, seperti ketidaktahuan kita mana yang lebih dahulu antara ayam dan telur.

    Keduanya mengajarkan tentang keikhlasan memberi yang sudah seharusnya dimiliki oleh manusia. Kalau begini dunia bakal tentram, berfokus memberi berarti mengutamakan kewajiban, tidak semata menuntut hak.......

    Ternyata, alam sudah begitu bijak mengajarkan pada kita....Kita saja yang kadang belum bisa bertafakkur....:)

    Kata-katanya Abdul gayanya puitis, luas penafsirannya, dan bercita rasa tinggi. Gaya para pujangga dan penyair. Kalau aku masih susah buat model begini. Biasanya yang cepet paham, dan suka banget sama model ini tipe pribadi melankolis.

    Terus semangat berkarya

    ReplyDelete
  7. kalau yang itu bukan di 5 lembar pertama, kata-kata itu pernah kupasang di status (pastinya Vika membacanya krn Vika ng-like).

    hhmm, mungkin iya Vik. dr beberapa sumber bacaab ttg tipe kepribadian, aku arahnya ke tipe melankolis. cuma kalau hubungannya dgn gaya kepenulisan, aku baru tahu. Makasih udah ngasih tahu..:D

    ReplyDelete