Thursday, December 22, 2011

Seandainya Saya Anggota DPD RI: Lebih Banyak Mendengar

Sejatinya, saya tidak ingin menjadi wakil rakyat. Bahkan membayangkannya pun tak ingin. Sungguh, bukan lantaran saya tidak ingin melakukan tugas mulia itu. Akan tetapi, bila teringat pertanggungjawaban yang sedemikian besar, saya lebih baik menjadi guru TK saja. Meski hanya mengubah suatu keadaan pada lingkup yang kecil, menjadi guru mempunyai arti lebih dalam daripada menjadi anggota DPD RI yang cenderung bersikap berdasarkan kepentingan politik daripada berdasarkan nurani yang murni.

Namun, demi berbagi saran kepada para anggota DPD RI, saya ingin memberikan buah pikiran yang saya implementasikan pada diri saya sendiri di dalam dunia pengandaian.



Seandainya saya menjadi anggota DPD RI, saya akan lebih banyak lagi mendengarkan suara rakyat sebagai bahan aspirasi untuk diajukan dalam rapat, dan bukan pendapat pribadi sebagai wakil daerah. Bagi saya, anggota DPD RI tetaplah pelayan yang tugasnya mengumpulkan suara, mewakilkan suara mereka yang memilih saya. Saya tidak ingin menyuarakan keinginan pribadi karena memang demikianlah wakil daerah yang dipilih langsung oleh rakyat.


Sebagai penyambung lidah rakyat di daerah, saya akan memudahkan rakyat untuk memberikan apresiasi mereka. Cara yang akan saya tempuh adalah menjadikan rumah saya sendiri sebagai rumah yang selalu terbuka untuk menerima aspirasi rakyat, mendirikan kantor penampung aspirasi di beberapa titik tertentu, juga melayani penampungan aspirasi melalui pesan singkat. Dan, yang terpenting dari program saya ini adalah semua aktivitas ini dibiayai dengan gaji saya sebagai anggota DPD RI tanpa meminta dana alokasi khusus dari anggaran DPD, karena memang inilah tugas, peran, dan tanggung jawab saya sebagai anggota DPD RI.


Selain itu, sebagai bukti bahwa saya adalah anggota DPD RI secara de facto maupun de jure, saya akan lebih sering turun ke lapangan untuk berinteraksi secara langsung, duduk bersama mereka dalam kehangatan, bercanda bersama untuk menyamakan rasa, yang intinya adalah bersilaturahmi dari hati ke hati, daripada sekedar duduk-duduk berdebat dalam rapat dengan sesama anggota DPD RI sampai larut malam dan tanpa hasil.


Pun saya tak perlu melakukan kunjungan kerja atau studi banding ke luar negeri. Bagaimanapun, Indonesia yang menjunjung tinggi budaya ketimuran tidak perlu belajar dari negara yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Yang saya butuhkan sebagai anggota DPD bukanlah belajar tentang sistematika yang runtut dan aturan-aturan yang berlaku di suatu negara. Namun, yang saya butuhkan adalah lebih banyak mendengar suara rakyat untuk kemudian meneriakkan kembali dengan suara lantang ke hadapan sidang majelis para pengambil kebijakan.


Akhirnya, saya hanya bisa berandai-andai. Saya sendiri tidak bisa menjamin bahwa niat baik saya ini akan terealisasi dengan sempurna atau justru hanya kemunafikan yang tercipta ketika saya benar-benar menjadi anggota DPD RI. Selanjutnya, saya hanya bisa berdoa, semoga para anggota DPD RI dapat menjalankan tugas, peran, dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

5 comments:

  1. Saya doakan pak abdul jadi anggota DPD ...
    pegang janjimu ya pak :D

    ReplyDelete
  2. Ulin, tulisan ini diikutsertakan dlm lomba blog. ikutan dah,, masih ada waktu koq..

    ReplyDelete
  3. Always Listening, always Understanding...
    Semoga istiqomah ya Mabruri...^^

    ReplyDelete
  4. makasih Vin..
    aku malah jarang jalan2 ke blog mu hehe..
    tengok ah..

    ReplyDelete