Tuesday, October 30, 2012

Nonmonetary Transaction

Transaksi nonmoneter. Transaksi yang tidak melibatkan uang. Maka, tidak menyebabkan inflasi.

Meski, tentu saja, setiap penyerahan yang bernilai tertentu, dikenakan pajak.

Saya sejalan dengan pemikiran ekonom klasik Adam Smith dan tidak suka pemikiran modern-monetarist John Maynard Keynes.

Fenomena Nikah Muda

Well... Blogpost ini mungkin akan sedikit menarik, tapi tidak segalau yang Kawan-kawan kira. Nikah muda telah menjadi fenomena di kampus ini. Eits, bukan berarti mahasiswanya sudah pada berkeluarga. Untuk menjadi mahasiswa D3 dan D1 di kampus ini, Kawan-kawan harus berstatus sebagai lajang/belum menikah dan bersedia untuk tidak menikah selama masa pendidikan.

Nah, setelah selesai masa pendidikan, ditandai dengan yudisium, ditambah dengan ikatan dinas yang menjamin adanya pekerjaan tetap, maka pilihan menikah adalah kebijakan yang wajar-wajar saja bagi para alumni kampus ini. Nah, sekarang pun saya sudah menjadi alumni, hanya saja statusnya masih menggantung belum ada kejelasan berikutnya.

Wisuda: Post-Closing Trial Balance

Saya mengucapkan selamat berbahagia kepada STAN 2009 (D3) dan STAN 2011 (D1), yang pertama buat yang tidak ikut wisuda, karena sama dengan saya. Buat yang ikut wisuda, tidak usah berkecil hati karena menjadi orang kebanyakan sebagaimana mahasiswa baru lulus.

Mari berdoa, semoga ilmu kita bermanfaat dan perjuangan kita sebagai punggawa keuangan negara tidak diawali sebagai pengangguran.

Pada beberapa hal, saya sudah bisa mencapai tingkat pemahaman suatu peristiwa, tapi belum tentu dapat mengaplikasikannya pada kehidupan real (bukan hanya di otak saja). Sebagai gampangnya, saya berikan contoh dalam bentuk analogi berikut ini.

Yudisium: Closing Entries

Tentu, arti dari closing entries adalah jurnal penutup. Tapi yang saya maksudkan di sini tidak seperti acara milik spesialisasi Akuntansi di setiap penghujung masa pendidikan -semacam prom night [?]. Meski, mungkin saja dasar pemikiran penggunaan istilah ini bermiripan maksud dan tujuannya.

Closing Entries (tulisan ini) adalah jurnal penutup saya sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) angkatan 2009 (saya rasa perlu saya tulis nama kampus saya itu; bagaimanapun, itu almamater saya).

Thursday, October 25, 2012

Filosofi Nasi Penggel

Sejak semalam langit terang tak berawan, bahkan langit berkorban jutaan bintangnya demi sebiji bulan yang separuh bulat, tanggal 7 bulan Haji. Maka, langit yang tak berawan semalam menjadi tersangka utama turunnya suhu dari normalnya pagi hari yang baru masuk musim penghujan ini (karena tak ada awan yang menimbulkan efek rumah kaca).

Dan pagi masih melanjutkan cerahnya dengan sigapnya Sang Surya menyinari dunia. Ini waktu yang hebat untuk bersepeda pagi. Bersama para anak sekolahan, menyusuri jalur yang sama ketika beberapa tahun yang lalu saya bersekolah di SMP dan SMA. Semacam nostalgia.

Melintasi jalan depan almamater, SMPN 3 Kebumen, lalu SMAN 1 Kebumen pada jalan lainnya, sampailah saya di alun-alun Kebumen setelah 30 menit perjalanan santai. Kebetulan SMAN 1 berada di pojok timur laut alun-alun. Dari pojok itu saya mengililingi alun-alun untuk mencari satu target: penjual nasi penggel. Setelah sekali putaran, ternyata hanya ada satu pedagang yang pagi itu menyediakan nasi penggel, maka saya kembali ke sisi barat alun-alun, berseberangan jalan dengan Masjid Agung Kebumen.

Sumber foto: http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2012/02/08/nasi-penggel-kuliner-khas-kebumen-yang-hampir-punah/

Thursday, October 18, 2012

Harapan untuk PLN: Terus Terang, Terang Terus

Jika mengingat bahwa malam hari akan terasa demikian purba tanpa adanya listrik, siapa lagi yang akan kita sebut kiprahnya selain Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, jika meninjau bahwa PLN memang bertugas demikian, mengelola sumber daya bidang kelistrikan di negara ini, maka sudah sepantasnya PLN bertugas demikian. That's only standard. Memang itulah yang harus dilakukan PLN.

 


Wednesday, October 3, 2012

Belajar Tanpa Akhir: Sebuah Epilog Oleh A. Musthofa Bisri

Tempo hari saya membaca sebuah tulisan bagus oleh A. Musthofa Bisri (Gus Mus) yang menjadi epilog sebuah buku. Sejujurnya saya tidak membaca buku itu meski memiliki versi elektroniknya. Secara garis besar saya tahu buku itu berbicara apa. Namun, saya bersyukur membaca random buku itu dan epilognyalah yang saya pilih. (Mungkin karena sedang malas membaca).

Supaya pembaca mudah memahami epilog ini, saya katakan bahwa buku itu adalah tentang reaksi terhadap ide pembentukan negara agama. Menurut Gus Mus, buku tersebut mengingatkan bangsa Indonesia tentang adanya bahaya tersembunyi dalam gagasan dan usaha-usaha untuk mengubah Indonesia dari negara bangsa menjadi negara agama, Negara Islam.

Monday, September 24, 2012

Capacity Building

Berangkat Capacity Building
Sumber foto: www.mediacenterstan.com
Ketika adzan 'ashar berkumandang, gelombang pertama CB sedang beriring-iringan menuju Cijantung. Aku sempat ketiduran di truk, itu artinya perjalanan tidak cukup singkat. Mungkin mencapai satu jam. Barangkali yang terhebat dalam perjalanan ini adalah ketika iring-iringan mobil ini melenggang di antara rentetan kendaraan lain. Khusus kendaraan nomor 15 yang kutumpangi ini menyalakan sirine. Dengan penampilan sekeren ini, lampu merah tidak berarti apapun. Maka, aku pikir: Kopassus adalah sepasukan tentara negera yang kebal hukum di jalanan. Itu namanya hak khusus. Do you agree?

Monday, September 3, 2012

Prepegan @Tanah Abang

Aku memang lebih suka menghindari inflasi daripada meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Atau, bagaimanapun kau berpendapat, inilah aku yang suka menekan pengeluaran daripada menambah pendapatan. Karena, kata Adam Smith, pertumbuhan ekonomi mengakibatkan surga yang hilang. Bukankah lebih baik jauh dari neraka daripada dekat ke surga? Lagipula, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti pemerataan kesejahteraan.

Berbagai tempaan hidup telah membentukku untuk memiliki prinsip 'berbelanja berdasarkan kebutuhan', bukan 'berdasarkan keinginan'. Kebutuhan pun harus dikembalikan kepada substansi. Aku membutuhkan pakaian, maka aku akan membeli penutup aurat. Tidak memilih rupa, apalagi merk. Kriterianya hanya satu: wajar.

Review Film: Negeri 5 Menara

Film "Negeri 5 Menara" bukan hanya bercerita tentang pendidikan ala pesantren, perjuangan tak kenal lelah, dan kepatuhan terhadap orang tua, tetapi juga tentang persahabatan. Maka, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman satu kelompok belajar saya di dalam "Geng" Lebah, yaitu Yeni, Farid, Lutfi, dan Randy, yang bersepakat untuk menonton bersama film ini di Cinema 21 Bintaro Plaza. Pastinya, menonton bersama para sahabat akan jauh lebih berkesan daripada menonton seorang diri. Ya, film N5M ini seharusnya ditonton secara kolektif: bisa keluarga, teman satu kelas, kelompok belajar, "geng", dan lain-lain. Bagi pasangan muda-mudi, alangkah baiknya jika mengikuti saran saya: kali ini ajaklah keluarga besar calon mertua untuk menonton bersama, jangan berdua saja karena ini bukan film romantis :D.

Tuesday, August 28, 2012

Review Novel: Sang Penandai

Seharian Minggu (26/8) ini habis hanya untuk membaca novel "Sang Penandai" karya Tere-Liye. Hampir-hampir tak melakukan kegiatan berarti. Entah karena bergerak pasif seperti ini atau cuaca yang tak cerah, tubuhku terasa kaku tetapi lelah, sedikit merasa dingin, tetapi suhu tubuh tak seperti biasanya.

Kuakui, kecepatan bacaku rendah. Namun demikian tidak berarti pemahamanku akan isi cerita dan cara penyampaian lebih baik dari pembaca lainnya. Aku memang membaca rinci setiap katanya; sayang melewatkan satu huruf pun dari buku. Ini pun tidak berarti aku belajar banyak soal merangkai kata-kata menjadi cerita yang menarik.

Tapi biarkan aku berkomentar tetang Sang Penandai.

Review Novel: Bumi Manusia

Sesiangan ini aku membaca novel Bumi Manusia, sejak beberapa hari yang lalu (akhir-akhir bulan puasa). Baru tersadar, novel ini luar biasa bagus! Padahal buku ini kubeli lebih dari setahun yang lalu di lantai Under Ground Blok M Square. Aku ingat, harganya Rp40.000 tak bisa kutawar, untuk barang bajakan yang seharusnya seharga Rp90.000 itu. Harganya cukup pantas -atau sebenarnya sangat pantas- untuk karya hebat seorang Pramoedya Ananta Toer. Dan, aku malu membeli bajakannya -mohon dimaafkan.

Aku tak mengerti sastra, tapi izinkanlah aku memberi sedikit kata penghargaan untuknya. Tentunya, bagi penulis sekaliber Mas Pram -siapa guwe panggil-panggil pengarang tersohor dengan sebutan 'mas'?- pujianku tak akan menambah kualitas karyanya. Pun tak ada nilainya. Tapi biarlah seorang pembaca berpendapat akan bacaan yang telah dipilihnya.

Aku Anak Manusia, bukan Anak Indonesia

Kepeduliaan sosial itu melintasi batas-batas kenegaraan dan tanah air. Bagi saya, lebih baik tidak mengaku sebagai warga negara Indonesia bila representasi dari rakyat yang ditunjukkan oleh wakil rakyat adalah wajah-wajah kemewahan. Maka saya heran bila banyak pemain bola berbondong-bondong mengajukan diri untuk dinaturalisasi menjadi WNI sedangkan saya lebih memilih 'merdeka' dari ikatan persaudaraan dengan wakil rakyat hanya karena atas dasar senegara dan setanah air.

Keadilan sosial itu tidak terbatas pada kewarnanegaraan. Kalau mereka tetap mengaku berkewarganegaraan Indonesia dengan sikap congkaknya, maka ijinkan saya mengajukan diri untuk dinaturalisasi sebagai warga negara kebebasan. Tanah air adalah tempat lahir, yang padanya tak bisa memilih. Saya lahir di Indonesia, maka tanah air saya Indonesia. Kewarganegaraan bisa memilih dan saya memilih menjadi warga bumi yang membumi dan terlepas dari segala ikatan warga negara oleh sebab ketanahairan.

Monday, August 6, 2012

Tiket Mudik Gratis dan Masjid At Tin

Sudah agak siang, bu Eni baru mengabari bahwa tiket Cilacapku bisa ditukar dengan tiket Kebumen. Sebelumnya, aku telah meminta pendapat Bapak terkait tiket Cilacap. Menurut Bapak, lebih baik menukarkannya -bila ada- daripada harus menyambung bis di tengah perjalanan. Keduanya sama-sama memerlukan pengeluaran tambahan.

Maka, aku segera berangkat menuju Kampung Rambutan. Malam sebelumnya, aku telah bertanya ke seorang teman yang sangat paham dengan transportasi umum di seputar Jakarta. Dia, mas Anwar Ibnu Rochman, adalah mahasiswa 'gila'. Dia suka sekali berjalan-jalan menggunakan moda transportasi umum bahkan ketika sedang ujian!

Tiket Mudik dan Masjid 'Kubah Emas' Dian Al Mahri

Tangerang Selatan, pukul 10.00

Barangkali karena aku dianggap lebih tahu jalan, kang Bahtiar -teman sekos- memintaku menemaninya -sebagai penunjuk jalan- ke Kampung Rambutan untuk mendaftar mudik gratis ke Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sedikit banyak aku memang tahu jalan TB Simatupang, tempat pendaftaran itu. Ditambah lagi, aku cukup mudeng membaca peta. Sejak dari Lebak Bulus, hampir-hampir tidak pernah belok; berkendara terus mengikuti jalan. Di samping kanan-kiri jalan tol lingkar luar Jakarta, itulah jalan TB Simatupang. Ancer-ancer tempat pendaftarannya adalah 200 meter setelah Terminal Kampung Rambutan, Wisma Astoria.

Membingkai Kengangan Jilid 2

Aku telah berusaha meyakinkan ibuku perihal ketidakikutsertaanku pada wisuda tahun ini. Sedikit banyak, ibu memahami.

Aku bukan anak kecil lagi yang ingin pakaian baru untuk lebaran, aku pun bukan mahasiswa yang mempunyai permintaan seperti orang kebanyakan. Pada beberapa hal, aku telah mencoba untuk mematikan rasa. Sangat munafik jika aku mengatakan bahwa aku telah meniadakan rasa ingin (nafsu). Tapi keputusanku saat ini benar-benar berpihak pada 'tidak mengikuti wisuda'.

Apa kata orang nantinya? Terserah saja. Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Curhat1.2: Buka Bareng

Padahal, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan beberapa butir kurma dan beberapa teguk air. Nah, kita buka bareng selalu di WS, SS, de Cost, Burger & Grill, dll.


Nggak mahasiswa di kampus, nggak temen SMP di kampung, kalau ngajak buka bareng, ya venue-nya pasti tempat 'nongkrong'. Emang udah jaman kali ya.


Dan, seharusnya mereka tahu: aku mungkin akan datang: sekedar untuk menemui kalian, bukan untuk makan di sana.

#alibi

Monday, July 30, 2012

Gendhu-Gendhu Rasa: Ragil

Kedhini-kedhana adalah penamaan untuk anak di dalam keluarga yang hanya terdiri dari 2 orang: perempuan dan laki-laki. Ketika sebuah keluarga sudah dikaruniai anak dengan perempuan dan laki-laki, maka terasa sempurnalah mereka. Hanya dua anak sudah lengkap komposisinya: satu perempuan dan satu laki-laki.

Namun, ketika para anak ini beranjak dewasa dan mengetahui keadaan yang ada, ternyata 2 saja tidak cukup. Apakah ini masalah? Bukan. Ini adalah keadaan yang perlu disikapi dengan tepat.

Curhat 1.1


Ketika matematika dapat menjelaskan peristiwa agama, itu konfirmasi, bukan bukti. Terbukti atau tidak, tetap YAKIN.

:

Ketika matematika dapat menjelaskan agama, tetap saja matematika itu bukan agama. Kembalikanlah matematika pada agama, bukan sebaliknya mengembalikan agama pada matematika. Jadi, berapa 10-1?



Benar bahwa 10-1 dapat sama dengan 19, tapi takutlah jika hati ini menjadi salah karenanya.

Friday, July 20, 2012

Fenomena Perbedaan Awal Ramadhan

Lagi-lagi, terjadi perbedaan awal Ramadhan di Indonesia.Biasa, keributan selalu muncul di kalangan grassroot-aku termasuk di dalamnya. Dan inilah siul yang kulakukan; melalui blog.


Aku kesal dengan sebuah portal online yang menyajikan -mungkin lebih tepatnya membandingkan- data penetapan awal bulan Ramadhan 1433 H antara Indonesia dengan negara-negara lain. Sebagaimana kita tahu, pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012 dengan tetap menghormati mereka yang berkeyakinan melaksanakan puasa pertama pada hari Jumat 20 Juli 2012.

Self-Healing: Melankolis yang Sempurna

Jadi ini yang membuatku menetapkan standar tinggi, berpikir keras, memperhatikan detail, cenderung murung, dan suka mengorbankan diri untuk orang lain?


Rupanya aku 75% Melankolis dan 25% Plegmatis (anggap saja simpelnya begitu). Campuran Melankolis-Plegmatis adalah campuran alami sebagaimana watak campuran Sanguinis-Koleris.

Tuesday, July 17, 2012

Ekspedisi Tenggara Jilid 2

Ekspedisi Tenggara Jilid 2 masih tentang mengundang saudara, bukan sekedar mengantar surat undangan.

Seperti 3 tahun yang lalu ketika aku baru lulus SMA, aku mendapat tugas mengundang saudara-saudara, bukan sekedar mengantarkan surat undangan, di desa tetangga untuk menghadiri Khataman Madrasah Diniyyah Al Kaafiy Desa Murtirejo.

Open-Full Disclosure: Devide et Impera

Banyak orang 'mengidolakan' Gus Dur. Dalam beberapa hal, aku pun iya. Dalam beberapa hal lain aku pun meragukan kapasitasnya. Untuk hal berikut, aku kecewa dan sangsi.

Sebagai seorang ulama panutan, beliau sendiri tidak memberi contoh yang baik. Setahuku, semua anak perempuan beliau tidak menutup auratnya dengan sempurna. Bahkan istrinya hanya mengenakan kerudung selayaknya perempuan desa. Barangkali, beliau berlaku sekuler untuk keluarganya, memberi kebebasan kepada mereka. Padahal, seorang pemimpin dalam rumah tangga seharusnya menjaga keluarganya dari api neraka.

Monday, July 2, 2012

Tenggara

Aku mempunyai stereotip ngawur perihal arah. Arah barat adalah kemegahan sekaligus keterpurukan. Timur adalah kesopanan dan kebodohan. Utara adalah kemajuan dan kebebasan (kelewat batas). Selatan adalah kesahajaan dan kemiskinan.

Tenggara adalah south-east. Maka, tenggara adalah kesopanan, kesahajaan, kebodohan, dan kemiskinan. Dan, Indonesia adalah sebuah negeri paling selatan dan paling timur dari Asia Tenggara. Jadi?

Saturday, June 30, 2012

Something Passion

Passion is not something you do the best, but something you enjoy the most.

Manusia dimudahkan berdasarkan untuk apa ia diciptakan.
:
Bagi beberapa orang, mencari passion itu susahnya bukan main. Bagi sebagian yang lain, ia tak mempedulikan apa itu passion tetapi ia sudah mengerjakan apa yang membahagiakan. Bagi sebagian yang lain, boro-boro ngerti apa itu passion dan menjalani hidup seperti air saja.

Barangkali, tentang passion, aku bisa menggambarkannya dengan kaki mana yang akan kau gunakan untuk menendang bola.

Tuesday, June 19, 2012

Gendu-gendu Rasa


Aku bercerita kepada Bapak bahwa teman olimpiade astronomiku, baru saja ke luar negeri untuk urusan perkuliahan. Hebat, kata Bapakku. Juga, beberapa teman lain yang dulu pernah menjadi kawan-kawan astronomi atau kawan olimpiade lain, kehebatannya melangit, sangat jauh bertolak belakang dengan keadaanku saat ini.

Aku merasa kerdil di hadapan mereka. Di lain pihak, Bapak udah cukup bangga dengan prestasiku. Harapan Bapak adalah menyekolahkan anak-anaknya lebih dari apa yang pernah Bapak capai. Bagi bapak, itu sudah sangat bagus. Prestasi!

Tuesday, June 5, 2012

Bintaro Maghrib Incident

Malang tak berbau.
Sebuah peribahasa. Artinya, kecelakaan tidak dapat diketahui sebelumnya.

Bakda 'ashar aku bertolak ke Bintaro Plaza demi mengingat kata teman bahwa ada obral buku-buku murah toko Gramedia. Cuci gudang mungkin. Benar adanya. Di sebelah barat laut BP, di tempat yang biasa untuk parkir, juga biasa untuk acara eventual macam bazaar ini, sudah ramai dikunjungi calon pembeli. Wuih, bener-bener cuci gudang.

Saturday, June 2, 2012

Tiga Sesuatu

Kemarau dan Kebumen sebentar lagi akan menjadi sesuatu.


Sesuatu yang pertama, suhu siang dan malam yang berbeda cukup signifikan. Siang akan cukup terik tetapi suhu akan turun drastis ketika malam tiba. Terbiasa hidup di pinggiran ibu kota yang panas, pastinya perlu penyesuaian ketika kembali ke kampung halaman.


Sesuatu yang kedua adalah ketika kemarau di Kebumen, langit malam hanya akan berkabut tipis, tak ada polusi cahaya, dan.... subhanallah sekali langitnya.


Sesuatu yang ketiga adalah, semoga saya bisa bermain sepak bola di lapangan rumput yang cukup luas sehingga merasa puas ketika menendangnya.

Bunga Rampai buat @Dandelion3D

Awalnya tulisan ini dibuat atas permintaan teman kelas tapi, entahlah, sampai batas waktu seharusnya tulisan ini selesai, aku belum merampungkannya. Istilahnya, aku wanprestasi pada janji.

Sungguh tidak mudah untuk merangkai kata yang didedikasikan khusus untuk dikenang ini. Apalagi tulisan ini nantinya akan diabadikan bersama Buku Angkatan 2009 kelas 3D Akuntansi. Sindrom standar tinggiku kampuh. Aku terlalu berharap tulisan ini bisa sempurna. Akhirnya, terbengkelailah nasibnya.

Maka ku-publish tulisan ini blog pribabdi saja, yang tiada standar apapun kuterapkan padanya. Terserah pembaca yang menilainya.

:::

Thursday, May 31, 2012

Wisuda: Membingkai Kenangan

Atas nama kenangan, manusia seringkali membelanjakan sejumlah besar dananya. Padahal, sebaik apapun kenangan itu terbingkai, manusia tidak akan menjadi abadi karenanya. Dan ekstremnya, kenangan itu tidak dibawa mati kan?

Saat ini, hal yang sedang membayangi pikiran saya tentang satu jenis kegiatan "membingkai kenangan"adalah perayaan wisuda.
Sumber gambar: sttmusi.ac.id


Monday, May 21, 2012

Sepenggal Catatan Petang

Catatan kecil nan sepele seperti ini malah mungkin perlu ditulis.

Hujan turun pada senja di awal Mei. Begitu mencekam. Mendung dan petang. Siapa bilang senja itu indah? Atau inikah senja terakhir bagiku? Aku selalu mewaspadai senja, apapun bentuknya: senja yang lembayung atau senja yang murung. Yang jelas, senja selalu berarti hari yang menua. Mengingat ini, aku teringat wanti-wanti Biyung. Segera kurapal doa-doa petang.

__Catatan beberapa petang yang lalu.

Tenggara

Kadang, orang menyembunyikan maksud tertentu dari penyebutan arah. Di Indonesia, konotasi "barat" adalah kemajuan, kehebatan, bebas, kapitalis, sekaligus kebejatan moral. Sedang arti kias untuk "timur" adalah kemiskinan, demokratis, keramahtamahan, dan mistis. "Utara", sebagaimana barat, dapat untuk mewakili kemajuan, kekayaan, kesetaraan, liberalis, dan juga sosialis. Sedangkan selatan adalah kemiskinan, kebodohan, padat penduduk, terbelakang, tetapi pongah. 

Saturday, May 12, 2012

Kuseduh Kopi Pagi

Tiap pagi,
ketika kuseduh kopi, pada air yang berpusar tenang itu, tergambar wajah ibu.
Ketika kuhirup aromanya, aku mendengar ibu berkata: sudah kau menanak nasi, anakku?

Kusibak gorden, kubuka jendela
Aku melihat ibu menyiangi rumput di taman inspirasi
Lalu tersenyum menyadari aku memperhatikannya
Tanganmu dingin untuk kesuburan apapun, ibu.

Tuesday, May 8, 2012

Proposal Hidup


Bismillahirrohmanirrohim

Preambule
Saya, Abdullah Mabruri,  telah mengahabiskan umur selama 21 tahun 3 bulan dan dua puluhan hari. Sepanjang itu, kehidupan telah menempa saya menjadi seperti apa adanya sekarang ini: ada kekuatan dan kelemahan, ada positif dan negatif, ada masa lalu dan harapan.

Meski demikian, saya masih saja kesulitan untuk mengidentifikasi kepribadian saya tanpa bantuan pihak eskternal. Alasannya: untuk berkaca, saya butuh cermin, kan? Dalam hal ini, saya mencoba tes kepribadian pada suatu halaman web. Berikut adalah hasil tes yang saya jalani setelah disesuaikan dengan karakter yang menurut saya benar-benar ada dalam diri.

Book of Abdullah: Sebuah Jurnal Seorang Hamba

Laki-laki punya diari? Rasanya gimana gitu ya?

Diari, memang rasanya feminim banget. Jadi, mari kita sebut saja sebagai jurnal. Bukan karena saya mahasiswa Akuntansi yang tiap harinya tidak bisa lepas dari istilah itu. Tetapi 'jurnal' itu sendiri adalah catatan harian. Kemudian kata ini diadopsi ke dalam berbagai disiplin ilmu, bidang, dan bentuk lainnya.

Meski menulis jurnal (catatan harian) di buku secara fisik mengandung makna yang begitu klasik, seringkali kita bosan menulis dengan tangan. Saya sendiri kadang-kadang saja memakai buku fisik untuk menulis jurnal -tapi tetap memakai.

Book of Abdullah (BoA) adalah nama buku jurnal saya. Dalam praktiknya, penggunaannya sama dengan diari: tempat curhat. Tapi, berhubung saya ini laki-laki tulen, terlalu feminim kalau ini disebut sebagai diari. Pokoknya, nama catatan saya itu: Book of Abdullah, yang saat ini sudah berjilid dua (satu jilid berisi satu tahun kalender).

Seperti apa BoA itu? Check this pic out! 
BoA 2 Mei 2012: Tambang Asteroid


Monday, April 30, 2012

My Personality, by Online Test

Bahkan untuk mengetahui kepribadian (personality) saja saya butuh bantuan seseorang atau sesuatu di luar diri saya. Ya, karena persona itu topeng. Ketika memakai topeng, saya tidak bisa melihat seperti apa topeng itu. Maka, saya menyetujui pendapat seorang kawan: bahwa kita butuh cermin untuk mengenali diri sendiri. Lalu, saling mencerminkan. Dan alangkah baiknya jika cermin itu memberi nasihat, saran, pujian, maupun kritik, tidak diam saja.

Anyway, inilah hasil tes kepribadian saya dari suatu laman web. Mungkin tidak presisi, tapi begitulah kepribadian; tidak ada alat ukur yang pasti. Tapi ini cukup untuk mengenali saya.

Kepribadian melankolik yang sempurna, sering juga disebut type compliance

sifat utama: introvert, pemikir, dan pesimistik

seorang analitis yang mendalam dan penuh pikiran. serius dan tekun, teratur, cenderung jenius. berbakat dan kreatif, bisa juga artistik dan musikal. menghargai keindahan, keteraturan, filosifis dan puitis. sensitif alias perasa terhadap perasaan orang lain, suka berkorban dan idealis.
  

Monday, April 23, 2012

Langit dan Bumi [2]: Purnama di Siang Hari


Langit dan bumi pernah berpadu satu pada suatu masa pada awal penciptaan. Lalu keduanya dipisahkan, dan pemisahan keduanya menjadi suatu pertanda peristiwa dahsyat. Sekarang ini, langit dan bumi tidak akan bersatu kecuali di tangan pelukis lewat garis perspektifnya.

Pernah suatu waktu langit dan bumi berseteru tentang siapa yang lebih hebat. Langit, yang berhiaskan matahari yang digdaya, bulan yang anggun, bintang-bintang yang cantik jelita, gugusan bintang yang bergelora, galaksi yang elok menawan, nebula yang lembut memikat, dan lain-lain, merasa hebat tak terperikan. Sama juga dengan bumi yang tersusun atas gunung yang gagah menjulang, laut yang biru berayun mesra, sungai yang mengalir indah, tumbuhan yang melantun merdu di tiap gemerisik geraknya, binatang dengan nyanyian syahdu nan berpuja dan puji, dan manusia yang berakal sempurna, menjadikan bumi merasa lebih sakti ketimbang langit. Seteru keduanya tak terhenti seolah mereka musuh bebuyutan.

Travel Writer

Travel writer, it's sounds good. Pertama kali aku tahu istilah ini dari Mas Gol A Gong. Kedengarannya, ini bisa jadi alternatif spesialisasi tulisanku. Travel writer pastinya mesnyaratkan kecakapan yang beragam: kekuatan fisik untuk daya jelajah, hobi berpetualang, kemampuan komunikasi, mudah beradaptasi, dll.

Aku mempunyai potensi pada fisikku: liat, tahan banting, lincah, berlari cepat dan tahan lama [so what?]. Tapi mengapa aku menulis? Ataukah sudah terlanjur menulis?

Saturday, April 21, 2012

Langit dan Bumi [1]: Aku Ingin Pergi ke Langit


Apa yang naik ke langit adalah cita-cita di dalam doa.
Apa yang turun ke bumi adalah nikmat bersama hujan.
*
Kebumen, Sabtu 2 Mei 2009 pukul 20:49 WIB [8 Jumadil Awal 1430 H]

“Aku ingin pergi ke langit, Biyung[1]. Aku ingin menjadi astronot!” Aku menegaskan kembali keinginan abadiku sejak sebelum TK. Keinginan yang sama sekali beda dengan pandangan orang tua, terutama Ibu.

“Biyungku sayang, langit menyimpan banyak misteri. Langit itu sesuatu yang istimewa. Buktinya kitab-kitab suci banyak menyebutnya.” Aku menyebutkan lagi argumen-argumen yang telah berulang entah untuk keberapa kalinya. “Bintang-bintangnya, debu antar bintang, nebula, galaksi, cahaya, semua itu adalah ciptaan agung yang menarik dan perlu direnungi, yang banyak terabaikan oleh orang awam.

Friday, April 20, 2012

Langit dan Bumi: Prolog

Rabu 28 Mei 2008 [23 Jumadil Awal 1429 H]
Kursi 16E Gerbong 5 Kereta Api Ekonomi Kutojaya Utara

Barangkali di sana, di suatu tempat selain di sini, ada perantara jawaban-Nya atas kegundahan sebongkah hati manusia, sebuah dilema anak muda atas suguhan pilihan yang sama nyata. Seperti tak percaya, aku tak ingin dipilihkan. Aku ingin memilih, menentukan, dan bebas merdeka. Namun, keadaannya sungguh sulit: maju tak mampu, mundur tak mau. Maka aku memutuskan untuk istirahat, time out untuk permainan ini. Kutinggalkan medan perang dalam status quo.

Saat ini, aku dan masa lalu mendukung keinginanku; menjadi orang pertama di kampung yang menjadi astronot, manusia Indonesia pertama yang pergi ke ruang angkasa[1], sekaligus orang pertama di dunia yang akan menginjakkan kaki di Planet Mars. Orang tua dan fakta masa kini mengarahkan pada jalan lain yang berpembatas—yang menjadikan jalan menyempit—yang harus kulalui. Sebuah jalan dengan rambu-rambu yang tidak sesuai keinginanku, penuh pertanda berlawanan, dan memakasaku berbelok ke arah yang lain.

Wednesday, April 18, 2012

Berjalan Menembus Batas: The Power of Kiasu

Rasanya aneh kalau aku sendiri belum me-review buku sendiri. Bukan buku solo sih, tapi ini buku antologi-bersamaku yang kedua. Buku pertama yang mencantumkan namaku adalah buku kumpulan kisah inspiratif "Para Guru Kehidupan". Buku ini juga belum aku review di blog ini. Mungkin buku pertama itu tak perlu aku review. Hanyalah ucapan terima kasih melalui tulisan kepada mbakyu, Arum Anggraeni, untuk segala bantuannya--segalanya--atas lahirnya buku antologiku yang pertama itu. Ucapan ini hanyalah wakil rasa terima kasih, karena sesungguhnya wujud terima kasih itu terlalu abstrak untuk diwakilkan dalam rupa apapun.


Buku "Berjalan Menembus Batas" yang diterbitkan Bentang Pustaka ini merupakan sebuah proyek menulis bersama Ahmad Fuadi (penulis Novel "N5M" dan "R3W") yang diadakan penerbit ini. Seri "Berjalan Menembus Batas" merupakan seri pertama dari buku kisah reflektif Man Jadda Wajada. Alhamdulillah, naskahku langsung lolos pada kesempatan yang pertama ini (dan memang aku tidak ikut untuk 2 seri selanjutnya).

Wednesday, April 11, 2012

Broad Band: Tentang Qiyam al Lail

Ada orang yang menghubungkan waktu sepertiga malam yang akhir sebagai waktu di mana orang sepi bermunajat, maka sambungan kepada Allah sangat lancar. Di saat orang lain sedang tidur, pastinya hanya sedikit yang 'menghubungi' Allah lewat sholat malam. Benarkah demikian?

Ingat bumi ini bulat. Ketika di sini waktu sedang berada pada sepertiga malam yang akhir, di belahan dunia lain bisa saja sedang siang, sore, atau pagi. Jadi, tidak tepat analogi bahwa sambungan kepada Allah itu sepi ketika sepertiga malam yang akhir. Right?

Monday, April 9, 2012

Program Membaca Buku

Awalnya, aku membuat program membaca buku sebanyak 1 buah setiap minggunya. Iya, sangat minim memang. Bayangkan, setahun hanya membaca 52 buku selain buku kuliah. Kenyataannya, meski tetap membaca buku, waktu satu minggu itu tidak cukup untuk menyelesaikannya sampai akhir. Padahal, ada seorang teman FB, pelatih NLP (Neuro-Linguistik Programming) membaca sampai 8 buku seminggu. Sebutlah misal hanya 7 buku dalam rata-rata per minggu, itu artinya satu buku dalam sehari. Hebat bukan buatan!

Selain itu, aku ingin membeli buku setikdanya satu buah tiap bulannya. Sangat minim bukan?

But, bismillah. Program yang sederhana ini mari aku realisasikan.

Tea Conference

Friday Morning, Tea Conference @Abdurrahman Shidiq's cottage
Foto:  http://dkayanganspa.blogspot.com  


It's love to gather with friends. But, I consider we spent too much time by do nothing or idle talking. I don't agree. "We are young, we must be productive," I wanted to say.

Thursday, April 5, 2012

Tentang Nama: Substance over Form

Aku masih bingung terkait dengan namaku. Nama yang tertera pada KTP, KK, segala rupa ijazah, piagam penghargaan, sertifikat, dll. adalah ABDUL MABRURI. This is my administratif name. Dan, apa yang membuatku bingung adalah: dengan nama inikah kelak di akhirat aku akan dipanggil-Nya?

Monday, April 2, 2012

Quote "Galau"

Salah satu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh laki-laki lajang adalah minta dibangunkan oleh seorang wanita, kecuali ibunya. Juga, salah satu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh laki-laki yang sudah menikah adalah minta dibangunkan oleh seorang wanita, kecuali istrinya.
__inspirasi dari status teman

Rumah Menghadap Selatan

Ada keuntungan geometris bagi rumah-rumah yang menghadap selatan di daerah beriklim tropis yang berada di selatan khatulistiwa. Yaitu, ketika penghujan, angin dari arah Asia (barat laut) menyapu titik-titik hujan ke arah tenggara. Maka beranda rumah terbebas dari tempias hujan. Ketika kemarau, angin Australia mengarah ke barat laut. Maka, kita akan dibelai-belai angin manja ketika duduk di beranda sejak siang sampai sore. Angin yang sejuk ini menenteramkan, dan membuat kita merasa mengantuk; menghipnotis kita untuk sejenak melupakan segala kepenatan yang menyesakkan.

Selain, tentu saja, langit selatan lebih banyak bertabur bintang. Tapi sebenarnya, aku mau mengatakan bahwa rumahku menghadap ke selatan.

Sunday, April 1, 2012

[belum ada judul]

Mungkin kita ingin berbicara, tapi kita tahu aturan mainnya. Bahwa selain pembicaraan yang penting, sebaiknya dihindari dan ditinggalkan. Meski barisan kata antri di bibir kita, janji yang tak kita sepakati selalu kita junjung tinggi.


Tak perlulah kita bicara yang tak penting, sebab ada komunikasi lain yang menghubungkan kita. Lalu semua akan berlalu, dan akhirnya kita tahu, meski harus menunggu.

Panta Rei Ouden Menei

Ingin berhenti dan menata ulang. Mungkin tidak dari awal, bukan pula dari nol (0), tapi setidaknya menganggap semuanya seimbang antara positif dan negatif (tapi tetap bukan nol), lalu menambahnya dengan nilai positif, menambah kecepatan, hingga akhirnya stabil dalam akselerasi. Karena berhenti bukan berarti mengakhiri, menyudahi, atau menyelesaikan.

Panta Rei Ouden Menei. Semuanya mengalir dan berputar. Demikian herakleitos. Hal ini merupakan sunnatullah kehidupan.

Wednesday, March 28, 2012

Self-Healing: Mengenali Diri Sendiri

Tidak akan berubah seseorang kecuali seseorang itu berusaha untuk melakukan perubahan atas dirinya sendiri. Sedikitnya ini memberi penjelasan mengapa induk judul blogpost ini 'Self-Healing'. Mungkin penyembuhan bisa dibantu orang lain. Akan tetapi, esensi penyembuhan tetap merupakan usaha internal tiap-tiap individu. Untuk mudahnya, mari saya terjemahkan saja sebagai "Penyembuhan Sendiri". Anak judul "Mengenali Diri Sendiri" adalah seri pertama dari "Self-Healing", yang merupakan langkah pertama penyembuhan. Sedangkan maksud dari 'penyembuhan' di sini adalah pembenahan kepribadian untuk menjadi lebih baik.

Untuk dapat mengubah diri sendiri dari masa lalu dan untuk menentukan tujuan di masa depan, seseorang harus mengenali diri sendiri dulu. Selama ini, saya sedih karena belum mengenal dengan baik diri saya sendiri. Sehingga, hidup seperti tidak menjadi diri sendiri; menjadi orang lain. Atau malah timbul kebencian pada  diri sendiri lantaran tidak percaya diri. Sedihnya lagi, ketidakpercayaan-diri bisa memunculkan kata-kata ini: I'm sick of being my self.

Monday, March 26, 2012

Aqiqah: Aku Menemukan Sebuah Nama

Menghadiri aqiqah putri dosen kami, bersilaturrohmi ke rumah guru, semoga ada keberkahan menyelimuti kami.


Sabtu pagi pukul 07.30 kami harus berkumpul. Aku mengasumsikan bahwa jadwal ini dimajukan sekitar satu jam. Karena, undangan aqiqah-nya adalah pukul 09.00 di Pondok Kacang. Posisi tujuan kami berada sekitar 10 km dari kampus. Maka, aku mengestimasi waktu 30 menit cukup untuk menuju ke sana dengan mobil angkot sewaan.

Inspirasi Jumat

Aku melihat rona wajah yang berubah dan sinar mata yang meredup. Sepintas saja aku menerka tentang kekecewaannya. Ia telah menilaiku terlalu tinggi dan berharap bahwa aku orang yang sanggup memangkunya. Maka, masih ada waktu. Aku hanya bisa berjanji dalam keyakinan, bahwa dia orang yang tepat untukku dan aku adalah orang yang diharapkannya, pada suatu waktu yang tertentu.

di sisi lain kampus.

Friday, March 23, 2012

Fokus Mata

Aku: Untuk jarak 20 meter di depanku, aku kesulitan mengidentifikasi seseorang dengan melihat wajahnya.


Kamu: Bagaimana kamu tahu itu aku?


Aku: Aku tahu.


Oke, itu dialog fiktif. Tapi benar adanya bahwa jarak fokus mataku memendek. Jadi, maafkan aku atas efek yang terjadi.


haha.

Wednesday, March 21, 2012

Vernal Equinox

Seharian ini langit cerah; mulai dari pagi, siang, sore sampai malam. Rabu, 21 Maret ini matahari berada di atas khatulistiwa, tepat.


Tapi aku masih bingung arah. Kemana kaki ini akan melangkahkan niatnya?

Tuesday, March 20, 2012

Ke STAN: Apa yang Kau Cari?

Pagi ini jogging. Matahari belum terbit. Melewati bus-bus antar-jemput dinas Kemenkeu warna biru tua. Aku melihat seseorang yang kukenal, seorang laki-laki yang kepadanya aku pernah menjadi anggota kepanitiaan besar. Dia mengantar istrinya. Si Istri adalah seorang PNS Kemenkeu, tentu saja. Sedang si Suami seorang mahasiswa D4, entah semester berapa (mungkin semester akhir karena aku telah mengenalnya sejak Oktober 2010). Keluarga kecil itu telah memiliki anak kecil, 1 atau 2 tahun.

Sambil berlari aku berpikir dan meraba-raba kebijakan keluarga kecil itu. Kepala keluarga masih kuliah, sedangkan si Ibu rumah tangga bekerja sebagai PNS Kemenkeu. Dengan siapa si adik kecil ketika kedua orang tuanya melakukan kesibukannya? Tentu ada pengasuh, atau mungkin bayi itu dititipkan di suatu tempat, aku tak tahu pasti.

Monday, March 19, 2012

Di Balik Simbol Tugu Pahlawan Surabaya

Dalam bahasa, penyimbolan sebuah 'makna kata' ke dalam 'bentuk kata' adalah arbitrer atau manasuka. Contohnya adalah suatu bentuk kata 'makan' yang mewakili 'aktivitas memasukkan sesuatu ke dalam mulut untuk kemudian dicerna oleh tubuh' sama sekali tidak ada hubungan. Artinya, 'bentuk kata', atau bisa saja disebut sebagai 'simbol kata', tidak pernah mencerminkan apa yang dilambangkan atau yang disimbolkan.


Namun, apakah demikian berlaku simbol-simbol tertentu? Misalnya, Tugu Monas di Jakarta, Tugu Muda di Semarang, dan Tugu  Pahwalan di Surabaya.

Puisi Malam

kau memang bagai malam: damai, sunyi, dan berwibawa
milikmulah bintang, bulan, dan gelap
bulan adalah kecantikan wajahmu
bintang adalah perhiasanmu
dan gelap adalah tempat kau memunajatkan cinta
maafkan aku yang merampas bulan dan bintangmu
tapi lupa membawa serta gelap malammu.

13 Maret 2012

Friday, March 16, 2012

Dermaga

purnama di atas dermaga Olivir, indah sekali
mengapungi senja yang merana
karena angin laut tak menepikan kapalnya
karena angin darat menolak rindunya
dan karang mengembalikan salamnya
serta ombak yang lupa pulang

di mana saja kau bertabur bunga
di sana kau temukan harumnya

Thursday, March 15, 2012

Kembali ke Sekolah

kutinggalkan sekolahmu meski tanpa ijazah
tak pernah ada wisuda, katamu
dan tiada pula kelulusan


nilai bukanlah angka
pandai juga bukan tujuan
tapi sekedar membuang bodoh
dan bermanfaat bagi sesama


Mak, aku pulang, kembali ke sekolahmu
madrasah abadi tempatku mengabdi


tapi bukan hari ini aku kembali
mungkin esok atau lusa
tapi aku 'kan pulang

Wednesday, March 7, 2012

Sekolahku di Mataku

Menulis tentang sekolah sendiri yang adalah salah satu Perguruan Tinggi Kedianasan (PTK), bagi saya, adalah sebuah dilema tersendiri; antara kejujuran berpendapat atau pengungkapan aib. Namun, kalau saya diam dan Anda diam, lalu siapa yang akan tahu keadaan yang sebenarnya?

Ada sedikit khawatir tentang kemungkinan akibat yang ditimbulkan tulisan ini nantinya, bagi saya sendiri maupun orang lain atau kampus. Ada juga rasa ingin berbagi tentang apa yang saya tahu dan menjadi pijakan berpendapat. Maka, izinkan saya menuliskan apa yang menjadi unek-unek saya. Dengan hati-hati, memilih kata yang tepat, nada yang baku, ritme yang santai, semoga tulisan ini tidak merugikan para pihak.

Sekilas Pandang

Allah menghiasi langit dengan tiga hal: matahari, fajar, dan bintang.
Allah menghiasi bumi dengan tiga hal: ilmu, hujan, dan pemimpin yang adil.
__dalam kitab Nuzhatul Majalis karya Imam Abdurrahman Ash Shafuri Asy Syafii
dari tweet k_abik

__masih di kampung.

Sunday, March 4, 2012

Cuplikan "Langit dan Bumi"

Aku membayangkan kehidupan manusia pada jaman dulu ketika belum ada hiburan di malam hari. Maka, aktivitas bengong dengan penampakan wajah langit di waktu malam gelap menjadi pilihan yang termonopoli alias tak ada pilihan lain. Nah, itu kalau musim kemarau, khususnya untuk wilayah Indonesia. Kalau musim hujan di mana langit begitu murung dan suhu terasa sejuk? Maka, keadaan itu memang menjadi alasan yang mendukung untuk fakta angka kelahiran yang tinggi, terlepas apakah kelahiran itu sukses atau tidak karena kecukupan gizi yang masih rendah.
...

Wednesday, February 29, 2012

Melanggengkan Eksistensi

Apa itu "Eksis"?

Di dunia ini, gerak manusia di batasi oleh jarak dan waktu. Di dunia maya, dunia internet, jarak dan waktu dilipat sedemikian rupa sehingga lalu-lintas begitu ramai, melintansi batas-batas waktu dan ruang. Di dunia internet, keberadaan para pelakunya tidak di definisikan sebagai orang perorangan, melainkan dipresensikan dengan berbagai macam akun (account) sebagai wakil.

Menjadi masyarakat dunia maya, eksistensi atau keberadaannya dengan sangat mudah terdeteksi dengan memiliki akun-akun tertentu. Sebelum memiliki akun-akun ini, semisal akun Gmail; Facebook; ataupun Youtube, seseorang tidak bisa dikatakan sebagai masyarakat internet. Dia hanya seperti angin lalu yang bahkan tak mampu menggoyang rerumputan. Dia belum "eksis".

Saturday, February 18, 2012

Secangkir Teh: Keakraban yang Sederhana

Secangkir teh hangat darimu cukup untuk awali hari terindah dalam hidupku
_Kau Kini Ada-So7

11 Januari lalu.

Oleh sebab aku tak punya anggaran lebih untuk membeli kemewahan, maka kuucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat yang berkenan akrab denganku hanya dengan secangkir teh manis hangat. Dengan alibi kesederhanaan hidup, secangkir teh menjadi sajian tunggal yang menyatukan kita.


Wednesday, February 15, 2012

Mencari Aku

aku undur diri dari keramaian
bersepi sendiri
dengan luka berdaki
dan hati yang terlubangi


terasing di belantara bising
oleh angin yang bingung musim
masing-masing dengan ambisinya
demi capai ujung terompet belaka

Monday, February 13, 2012

Todays Exam

...
Aku melangkah menyusuri duniamu cahaya di kehidupan
Walau rintangan menghalangi aku tetap tabah menghadapinya
Sibak gembira yang menyelimuti diri
Meraih suatu keputusan tegakkan keadilan
Seluruh jagad insani
Cahaya kemenangan menyatu hati nurani
....
ost Wiro Sableng

Sunday Morning: Burjo-Ketan Hitam

Seperti biasa, aktivitasku minggu pagi adalah tahsinul Qur'an di mushola Nurul Jannah. Tapi kali ini tidak biasa. Kenapa? Karena sesuatu.

Pak Yeyek nama penjual keliling bubur kacang ijo-ketan hitam itu. Tanpa diminta dan tanpa meminta imbalan, tiba-tiba beliau memberi barang dagangannya kepada para pemuda yang sedang tahsinul Qur'an (belajar membaca al Qur'an dengan baik). Ini tidak terjadi sekali. Memang waktunya tidak menentu, tapi bukan berarti hanya sekali.

Sementara kami membaca, beliau menyiapkan beberapa burjo-ketan hitam dalam gelas di belakang.

Maka, mari kita doakan agar Pak Yeyek diberikan kemudahan dalam berbuat baik--dan semoga diterima amal baiknya.


PS: Burjo-ketan hitam adalah salah satu makanan favoritku.

__Minggu pagi, di kamar saja.

Wednesday, February 8, 2012

Surga yang Hilang

Adalah Kebumen, sebuah daerah pesisir yang tidak membuat orang penasaran ketika mereka melihat peta Jawa Tengah. Letaknya cukup malang, tidak terpencil dan tidak juga di keramaian. Dari Jakarta, kereta tujuan Jogjakarta selalu melewatinya. Tapi, mungkin tidak ada yang peduli. Aku memaklumi, karena mereka belum tahu tentang Kebumen.

Maka, izinkan aku mengiklankan Kebumen sebagai 'Surga yang Hilang'. Beberapa buku telah memberitakan bahwa kota Atlantis, yang merupakan tempat peradaban tertua itu muncul, disinyalir berada di Kebumen. Menurut Profesor asal Brasil Arysio Santos lewat bukunya yang terkenal dan mencengangkan, Atlantis: The Lost Continent Finally Found, "Atlantis adalah negeri tropis berlimpah mineral dan kaya akan keanekaragaman hayati yang tumbuh." Masih menurutnya, letak Atlantis berada pada pertemuan tiga lempeng benua yakni Australia, Eurasia, dan Asia. Beliau sendiri telah mengungkapkan bahwa pertemuan tiga lempeng itu ada di Indonesia.

Friday, February 3, 2012

Keberuntungan Awal; Sebuah Klarifikasi

Pernah aku menulis sebuah pernyataan di dalam naskah yang kuikutsertakan dalam sebuah lomba, dan ternyata lolos. Kini naskah itu telah terbit dalam bentuk buku antologi berjudul "Berjalan Menembus Batas". Padahal aku ingin meralatnya, tapi kemungkinannya sulit. Yah, untungnya, pernyataanku itu dihapus oleh mas/mbak editor--suwun ya. Meski begitu aku tetap merasa bertanggung jawab atas pernyataan itu. Maka di sinilah aku ingin meralatnya.


Pernyataanku adalah sebagai berikut:

Sunday, January 29, 2012

HWC Week #2: Goal Setting

Hynotic Writing Camp Pertemuan ke-2, Minggu, 22 Januari 2012

D206


Prolognya, hampir saja saya lupa dengan tugas menulis note dan men-tag HWC. Maka, saya mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang menandai saya pada catatannya pagi ini.
Sebenarnya, saya sudah mulai menulis draft catatan ini pada tanggal 23 lalu, yakni sebatas judulnya saja. Namun, entah kenapa saya melupakannya begitu saja.

Pertemuan kedua HWC, Bapak Darmawan Sigit mengisi materi tentang Goal Setting. Tentunya, sasaran yang harus kami buat tidak menyimpang dari sasaran HWC itu sendiri. Sasaran dari HWC ini tidak lain adalah menghasilkan penulis yang mampu berkarya dan mempengaruhi pembaca lewat tulisan. Maka, beliau mengawali penjelasan tentang tulisan yang menghipnosis.

"Hypnowriting: saat tulisanmu membangkitkan imajinasi (gambar, suara, rasa) lalu mempengaruhi pembaca."

Friday, January 27, 2012

Berkaca Lewat Kata

Seringkali aku membaca kembali tulisan-tulisanku yang lampau. Setidaknya ada tiga reaksi ketika kulakukan aktivitas itu. Pertama, aku malu karena ternyata tulisanku pernah seacak-acakan itu. Kedua, alhamdulillah aku bersyukur, karena ternyata ada perbaikan. Ketiga, menyesal, mengapa baru menyadari kelemahan tulisan-tulisanku setelah sekian lama.


Menurut analisisku sendiri, tulisan-tulisanku bertempo cepat, dalam artian gugup, tidak tenang, dan grogi. Persis ketika aku berbicara di depan kelas. Iya sih, tulisanku lebih halus ketimbang perkataanku. Ya itu karena telah melalui proses edit. Tapi tetap saja, masih ada sisa-sisa kegugupan kan? Hingga ide cemerlang yang kumiliki tidak tersampaikan dengan baik.