Friday, February 3, 2012

Keberuntungan Awal; Sebuah Klarifikasi

Pernah aku menulis sebuah pernyataan di dalam naskah yang kuikutsertakan dalam sebuah lomba, dan ternyata lolos. Kini naskah itu telah terbit dalam bentuk buku antologi berjudul "Berjalan Menembus Batas". Padahal aku ingin meralatnya, tapi kemungkinannya sulit. Yah, untungnya, pernyataanku itu dihapus oleh mas/mbak editor--suwun ya. Meski begitu aku tetap merasa bertanggung jawab atas pernyataan itu. Maka di sinilah aku ingin meralatnya.


Pernyataanku adalah sebagai berikut:

Tidak perlu mencari oase sampai ke padang pasir jauh bila rumah kita berada di daerah tropis yang mempunyai sumur meski dengan air seadanya. Bagi saya, kalimat yang memang sengaja saya buat ini menjadi analogi atas salah satu pendapat saya tentang sosok teladan. Kadang manusia terlalu mengelu-elukan sosok yang terlalu tinggi untuk dijadikan teladan dalam kehidupan. Misalnya, betapa banyak manusia yang mengidolakan Bung Karno, Bung Hatta, bahkan—tentu saja—Rosulullah Muhammad SAW. Tanpa naif, mereka pun teladan saya. Namun, apa yang harus saya tekankan adalah perbedaan dasar antara saya dan mereka. Perbedaan yang menjadi sorotan saya adalah apa yang saya sebut sebagai keberuntungan awal, atau dalam bahasa bebas saya katakan sebagai ‘sudah takdir dari sananya’. Mereka memang diciptakan dengan takdir yang baik. Oleh karena itu, menurut saya, kita tidak akan pernah seperti mereka—sehebat mereka. Mengapa? Jawaban saya adalah: karena sejak awal takdir telah mengistimewakan mereka. Rosulullah memiliki takdir istimewa berupa, salah satunya, pembedahan saat Rosul masih dalam kondisi menyusui. Lalu takdir istimewa duo proklamator kita adalah darah kebangsawanan dan kebebasan mengenyam pendidikan waktu itu. Sadar atau tidak, kita tidak bisa menjadi seperti mereka.
Di sini, apa yang ingin saya ralat adalah pernyataan tentang keberuntungan awal. Pernyataan tersebut cenderung terasa sebagai penerimaan nasib yang tidak memimak, keluhan terhadap keadaan, kekalahan pada kelemahan, atau menyesali kelahiran.


Memang manusia diciptakan berbeda-beda. Pena telah kering. Tapi hari esok masih gaib. Maka, hari ini adalah saat terbaik untuk berpikir positif, memperbaiki diri, dan melakukan yang terbaik. Tidak selayaknya manusia menilai manusia lain dengan cara membandingkan seseorang dengan orang lain. Akan tetapi, hidup ini tetaplah kompetisi dengan diri sendiri di masa lalu, tentang siapa yang lebih baik.


Manusia dimudahkan berdasarkan untuk apa ia diciptakan.
Manusia yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.


__bakda Maghrib di bulan kelahiran Nabi.

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Iya. bnyk skli orng2 hebat yang mngkn dia tdk dibesarkan atau dilahirkan dr keluarga ber-'darah' tinggi. Semua orng tdk tau akn nasibnya nanti. Jd, tugas kita adl tetap optimis dn berusaha. OK. ;-)

    ReplyDelete