Saturday, February 18, 2012

Secangkir Teh: Keakraban yang Sederhana

Secangkir teh hangat darimu cukup untuk awali hari terindah dalam hidupku
_Kau Kini Ada-So7

11 Januari lalu.

Oleh sebab aku tak punya anggaran lebih untuk membeli kemewahan, maka kuucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat yang berkenan akrab denganku hanya dengan secangkir teh manis hangat. Dengan alibi kesederhanaan hidup, secangkir teh menjadi sajian tunggal yang menyatukan kita.



Tapi toh, keterbatasan sumber daya membuat kita semakin bijak menggunakan apa yang ada. Maka, kondisi seperti apa yang membuat kita tidak bersyukur? Alhamdulillah. Segala puji memang hanya pantas bagi Allah, Tuhan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya.

Di atas rumah kos Al Kausar 51 langit gelap tanpa bintang. Tapi di ruangan ini ada kehangatan. Sebuah acara biasa. Mendadak, karena hari ini tanggal 11 Januari yang mana adalah tanggal yang selalu aku cantumkan dalam mengisi kolom tanggal lahir, Arif dan Shidiq mengajak minum teh atau kopi bersama seperti biasa. Bukan perayaan, atau semacamnya. Ini hanyalah rutinitas yang tak tentu waktunya, dan kebetulan saja ada momen yang bisa dijadikan alasan untuk berkumpul.

Pukul 4 sore lebih kami berjanji berkumpul, aku datang paling akhir di kos Shidiq. Kami ngobrol, tema ngalor-ngidul dan aku hanya ikut arus saja, tidak bisa menahan diri untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu kubicarakan. Tidak jauh-jauh, apa yang sempat kami bicarakan adalah hal mana yang berkaitan dengan umur kami (yang sudah berkepala dua) dan aku dan Arif yang sudah tingkat akhir kuliah (You khow what I mean so well, of course).

Sampai malam, akhirnya mereka memaksaku memberitahukan resolusiku di umurku yang telah meninggalkan angka 21. Ini tidak ada pada bahasan minum teh sebelumnya. Tentu, karena hari ini dianggap berbeda.

Tidak adil kalau Shidiq yang lahir lebih dulu dariku dan Arif tidak mendahului mengatakan apa keinginannya di tahun ini. Jadi inilah resolusi kami:


Ups. Rasanya tidak baik menuliskan resolusi mereka semua. Biarlah apa yang menjadi target mereka tertulis di media lain saja. Tidak ada izin bagiku untuk mempublikasi rencana-rencana mereka. Namun inilah apa yang kusampaikan pada mereka tentang resolusi.

Abdullah Mabruri (aku): [1] menulis buku "Langit dan Bumi" yang diterbitkan dan [2] mandiri secara finansial sebelum lulus kuliah.

PS: Resolusi yang tertulis di sini hanyalah bagian resolusiku yang kuantitatif, agar mudah dipantau oleh teman-teman. Ada juga life planning yang sudah kutulis cukup rapi dan tersimpan dengan baik di Ms. OneNote untuk arsip pribadi.


Singkat saja. Dan, tak layak kulupa untuk berucap terima kasih kepada sahabat Arif dan Sahabat Shidiq, juga teman-teman yang membaca blog post ini.


As always, there is time of cups of tea or coffee with friends.

Best regards,

Abdullah Mabruri, stays to write

No comments:

Post a Comment