Wednesday, March 28, 2012

Self-Healing: Mengenali Diri Sendiri

Tidak akan berubah seseorang kecuali seseorang itu berusaha untuk melakukan perubahan atas dirinya sendiri. Sedikitnya ini memberi penjelasan mengapa induk judul blogpost ini 'Self-Healing'. Mungkin penyembuhan bisa dibantu orang lain. Akan tetapi, esensi penyembuhan tetap merupakan usaha internal tiap-tiap individu. Untuk mudahnya, mari saya terjemahkan saja sebagai "Penyembuhan Sendiri". Anak judul "Mengenali Diri Sendiri" adalah seri pertama dari "Self-Healing", yang merupakan langkah pertama penyembuhan. Sedangkan maksud dari 'penyembuhan' di sini adalah pembenahan kepribadian untuk menjadi lebih baik.

Untuk dapat mengubah diri sendiri dari masa lalu dan untuk menentukan tujuan di masa depan, seseorang harus mengenali diri sendiri dulu. Selama ini, saya sedih karena belum mengenal dengan baik diri saya sendiri. Sehingga, hidup seperti tidak menjadi diri sendiri; menjadi orang lain. Atau malah timbul kebencian pada  diri sendiri lantaran tidak percaya diri. Sedihnya lagi, ketidakpercayaan-diri bisa memunculkan kata-kata ini: I'm sick of being my self.

Monday, March 26, 2012

Aqiqah: Aku Menemukan Sebuah Nama

Menghadiri aqiqah putri dosen kami, bersilaturrohmi ke rumah guru, semoga ada keberkahan menyelimuti kami.


Sabtu pagi pukul 07.30 kami harus berkumpul. Aku mengasumsikan bahwa jadwal ini dimajukan sekitar satu jam. Karena, undangan aqiqah-nya adalah pukul 09.00 di Pondok Kacang. Posisi tujuan kami berada sekitar 10 km dari kampus. Maka, aku mengestimasi waktu 30 menit cukup untuk menuju ke sana dengan mobil angkot sewaan.

Inspirasi Jumat

Aku melihat rona wajah yang berubah dan sinar mata yang meredup. Sepintas saja aku menerka tentang kekecewaannya. Ia telah menilaiku terlalu tinggi dan berharap bahwa aku orang yang sanggup memangkunya. Maka, masih ada waktu. Aku hanya bisa berjanji dalam keyakinan, bahwa dia orang yang tepat untukku dan aku adalah orang yang diharapkannya, pada suatu waktu yang tertentu.

di sisi lain kampus.

Friday, March 23, 2012

Fokus Mata

Aku: Untuk jarak 20 meter di depanku, aku kesulitan mengidentifikasi seseorang dengan melihat wajahnya.


Kamu: Bagaimana kamu tahu itu aku?


Aku: Aku tahu.


Oke, itu dialog fiktif. Tapi benar adanya bahwa jarak fokus mataku memendek. Jadi, maafkan aku atas efek yang terjadi.


haha.

Wednesday, March 21, 2012

Vernal Equinox

Seharian ini langit cerah; mulai dari pagi, siang, sore sampai malam. Rabu, 21 Maret ini matahari berada di atas khatulistiwa, tepat.


Tapi aku masih bingung arah. Kemana kaki ini akan melangkahkan niatnya?

Tuesday, March 20, 2012

Ke STAN: Apa yang Kau Cari?

Pagi ini jogging. Matahari belum terbit. Melewati bus-bus antar-jemput dinas Kemenkeu warna biru tua. Aku melihat seseorang yang kukenal, seorang laki-laki yang kepadanya aku pernah menjadi anggota kepanitiaan besar. Dia mengantar istrinya. Si Istri adalah seorang PNS Kemenkeu, tentu saja. Sedang si Suami seorang mahasiswa D4, entah semester berapa (mungkin semester akhir karena aku telah mengenalnya sejak Oktober 2010). Keluarga kecil itu telah memiliki anak kecil, 1 atau 2 tahun.

Sambil berlari aku berpikir dan meraba-raba kebijakan keluarga kecil itu. Kepala keluarga masih kuliah, sedangkan si Ibu rumah tangga bekerja sebagai PNS Kemenkeu. Dengan siapa si adik kecil ketika kedua orang tuanya melakukan kesibukannya? Tentu ada pengasuh, atau mungkin bayi itu dititipkan di suatu tempat, aku tak tahu pasti.

Monday, March 19, 2012

Di Balik Simbol Tugu Pahlawan Surabaya

Dalam bahasa, penyimbolan sebuah 'makna kata' ke dalam 'bentuk kata' adalah arbitrer atau manasuka. Contohnya adalah suatu bentuk kata 'makan' yang mewakili 'aktivitas memasukkan sesuatu ke dalam mulut untuk kemudian dicerna oleh tubuh' sama sekali tidak ada hubungan. Artinya, 'bentuk kata', atau bisa saja disebut sebagai 'simbol kata', tidak pernah mencerminkan apa yang dilambangkan atau yang disimbolkan.


Namun, apakah demikian berlaku simbol-simbol tertentu? Misalnya, Tugu Monas di Jakarta, Tugu Muda di Semarang, dan Tugu  Pahwalan di Surabaya.

Puisi Malam

kau memang bagai malam: damai, sunyi, dan berwibawa
milikmulah bintang, bulan, dan gelap
bulan adalah kecantikan wajahmu
bintang adalah perhiasanmu
dan gelap adalah tempat kau memunajatkan cinta
maafkan aku yang merampas bulan dan bintangmu
tapi lupa membawa serta gelap malammu.

13 Maret 2012

Friday, March 16, 2012

Dermaga

purnama di atas dermaga Olivir, indah sekali
mengapungi senja yang merana
karena angin laut tak menepikan kapalnya
karena angin darat menolak rindunya
dan karang mengembalikan salamnya
serta ombak yang lupa pulang

di mana saja kau bertabur bunga
di sana kau temukan harumnya

Thursday, March 15, 2012

Kembali ke Sekolah

kutinggalkan sekolahmu meski tanpa ijazah
tak pernah ada wisuda, katamu
dan tiada pula kelulusan


nilai bukanlah angka
pandai juga bukan tujuan
tapi sekedar membuang bodoh
dan bermanfaat bagi sesama


Mak, aku pulang, kembali ke sekolahmu
madrasah abadi tempatku mengabdi


tapi bukan hari ini aku kembali
mungkin esok atau lusa
tapi aku 'kan pulang

Wednesday, March 7, 2012

Sekolahku di Mataku

Menulis tentang sekolah sendiri yang adalah salah satu Perguruan Tinggi Kedianasan (PTK), bagi saya, adalah sebuah dilema tersendiri; antara kejujuran berpendapat atau pengungkapan aib. Namun, kalau saya diam dan Anda diam, lalu siapa yang akan tahu keadaan yang sebenarnya?

Ada sedikit khawatir tentang kemungkinan akibat yang ditimbulkan tulisan ini nantinya, bagi saya sendiri maupun orang lain atau kampus. Ada juga rasa ingin berbagi tentang apa yang saya tahu dan menjadi pijakan berpendapat. Maka, izinkan saya menuliskan apa yang menjadi unek-unek saya. Dengan hati-hati, memilih kata yang tepat, nada yang baku, ritme yang santai, semoga tulisan ini tidak merugikan para pihak.

Sekilas Pandang

Allah menghiasi langit dengan tiga hal: matahari, fajar, dan bintang.
Allah menghiasi bumi dengan tiga hal: ilmu, hujan, dan pemimpin yang adil.
__dalam kitab Nuzhatul Majalis karya Imam Abdurrahman Ash Shafuri Asy Syafii
dari tweet k_abik

__masih di kampung.

Sunday, March 4, 2012

Cuplikan "Langit dan Bumi"

Aku membayangkan kehidupan manusia pada jaman dulu ketika belum ada hiburan di malam hari. Maka, aktivitas bengong dengan penampakan wajah langit di waktu malam gelap menjadi pilihan yang termonopoli alias tak ada pilihan lain. Nah, itu kalau musim kemarau, khususnya untuk wilayah Indonesia. Kalau musim hujan di mana langit begitu murung dan suhu terasa sejuk? Maka, keadaan itu memang menjadi alasan yang mendukung untuk fakta angka kelahiran yang tinggi, terlepas apakah kelahiran itu sukses atau tidak karena kecukupan gizi yang masih rendah.
...