Monday, March 26, 2012

Aqiqah: Aku Menemukan Sebuah Nama

Menghadiri aqiqah putri dosen kami, bersilaturrohmi ke rumah guru, semoga ada keberkahan menyelimuti kami.


Sabtu pagi pukul 07.30 kami harus berkumpul. Aku mengasumsikan bahwa jadwal ini dimajukan sekitar satu jam. Karena, undangan aqiqah-nya adalah pukul 09.00 di Pondok Kacang. Posisi tujuan kami berada sekitar 10 km dari kampus. Maka, aku mengestimasi waktu 30 menit cukup untuk menuju ke sana dengan mobil angkot sewaan.


Pukul 8 lebih aku ditelpon koordinator kunjungan kali ini. Waktu itu posisiku masih di kos seorang teman. Yah, meski acaranya hanyalah 'diskusi' ringan ngalor-ngidul, aku malas beranjak. Lagipula aku masih ingin ngobrol dengan teman-temanku, karena selama 40 menitan aku alpa dari ikut berdiskusi lantaran ada conference call dengan orang tua dan mbak Arum. Aku tetap pada estimasiku: keberangkatan pasti ngaret. Akhirnya, aku menjadi musabab rombongan berangkat mepet waktu: 08.37. Namun, ternyata acara dimulai pukul 10.00. hmmm.

Langsung saja. Bayi perempuan itu diberi nama Luthfia Laila Masarroh. Ia adalah anak kelima dari bapak Ihsan Nafarin. 

Luthfia
Nama ini disematkan sebagai bentuk tabarruk beliau terhadap guru beliau, sebagaimana nama putra-putri beliau sebelumnya.

Laila
Karena bayi itu lahir pada malam hari.

Masarroh
Kata ini adalah permintaan si ibu untuk diselipkan pada nama bayi.

Nama ini mengingatkanku akan sebuah nama tokoh dalam "Langit dan Bumi", yaitu Laila, yang aku sendiri bingung dengan nama lengkapnya. Maka, inilah inspirasi.

Selanjutnya, aku secara samar mendapat jawaban atas pertanyaanku pada blogpost-ku tempo waktu: "Ke STAN, Apa yang Kau Cari?".

Pak Ihsan Nafarin dan istri, Bu Alfi, adalah dosen STAN. Status pak Ihsan adalah PNS Kemenkeu dan sepertinya bu Alfi juga PNS Kemenkeu. Selain itu, putra-putri beliau ada lima, 3 di antaranya laki-laki. Pastinya, kebutuhan finansial tercukupi dengan memadai--longgar. Aku sendiri tidak cukup tahu bagaimana kebijakan keluarga pak Ihsan, tapi mereka telah dikaruniani 5 orang anak. Pada sambutannya saat aqiqah tadi, beliau merencanakan untuk memiliki 5 anak saja. Laila adalah anak pungkasan. Namun, semuanya bisa terjadi bila Allah berkehendak.

Maksudku sebagai jawaban adalah bahwa it's okay for women to be studied in STAN in order to get job in Ministry of Finance. Tidak ada salahnya asalkan, nantinya, tetap memiliki waktu yang cukup untuk keluarga. Mungkin bisa disiasati dengan menjadi dosen/pengajar yang waktu kerjanya lebih fleksibel.

And, finally, let's get party. Bagi mahasiswa kere macam aku ini, undangan aqiqah (ini bukan kali pertama) seperti mendadak menjadi orang lain. Ah, lebay. Berangkat dengan perut kosong, kami tampung semua jamuan semampu kami: sate ayam-sate kambing, gulai, es krim, buah-buahan, dan jajanan pasar.

Dasar anak kos!

2 comments: