Sunday, March 4, 2012

Cuplikan "Langit dan Bumi"

Aku membayangkan kehidupan manusia pada jaman dulu ketika belum ada hiburan di malam hari. Maka, aktivitas bengong dengan penampakan wajah langit di waktu malam gelap menjadi pilihan yang termonopoli alias tak ada pilihan lain. Nah, itu kalau musim kemarau, khususnya untuk wilayah Indonesia. Kalau musim hujan di mana langit begitu murung dan suhu terasa sejuk? Maka, keadaan itu memang menjadi alasan yang mendukung untuk fakta angka kelahiran yang tinggi, terlepas apakah kelahiran itu sukses atau tidak karena kecukupan gizi yang masih rendah.
...

Bila malam telah larut, kawan, dan tiada lagi denyut kehidupan manusia, bangunlah dan rasakan kedamaian hidup seindah-indahnya. Sunyi yang paling Kau cari di antara darah dan nadi. Di antara nafas dan oksigen. Di antara palung laut dan mutiara. Di antara daun dan udara. Di antara embun dan klorofil.
...
Bila purnama datang, maka semua orang berada di luar rumah. Anak-anak berlarian, bermain petak umpet, tertawa dan ceria. Para pemuda pemudi beraksi bisu seolah mereka bersepakat menagih rindu, meski tanpa kesepakatan. Orang-orang tua kembali merasakan romansa yang sama dengan jiwa-jiwa muda yang bersemangat.
...
Lihatlah langit, temukan jalanmu sendiri dalam kegelapan sunyi.

2 comments:

  1. Langit. Saat memandang keluasan dan penghiasnya, ketenangan dan kebahagiaan terasa meluap...^_^
    Hingga menyesakkan...

    (tanggapan par.1 : Hem, Mabruri... Mabruri tuliskan akibat, kita jadi pikirkan sebab...-_-)

    ReplyDelete