Friday, March 16, 2012

Dermaga

purnama di atas dermaga Olivir, indah sekali
mengapungi senja yang merana
karena angin laut tak menepikan kapalnya
karena angin darat menolak rindunya
dan karang mengembalikan salamnya
serta ombak yang lupa pulang

di mana saja kau bertabur bunga
di sana kau temukan harumnya
daun tak bergerak
ketika angin berjalan dengan lesu
juga tak mau mencandai rumput


sebuah kecupan
dan dunia menjadi lebih terang
berdiri termangu membisu
maka kehinaan menyapa
seberat langkah pertama
sesaat sebelum sirna
tapi kau kini ada
dengan sebuah cangkir teh hangat
yang mengawali segalanya


kembali dari tambatan
langit berkata, ini sudah waktunya
tirai diturunkan, kayuh dihentakkan
lalu laut menjelma daratan
tempat rumput-rumput bersembunyi
dari matahari kemarau


di dahan akasia itu
kapan saja diperoleh izin
burung tak ragu singgah
demi jerami yang basah


senja kembali menutup terang yang garang
malam purba kembali menyergap
mereka yang kalap
dan takkan berarti
bagi anak beranak tiri
kecuali mereka yang mengerti
dan tak mereduksi definisi
malam adalah penantian cahaya

10 Maret 2012
__di kampung

8 comments:

  1. Harapan...
    Mungkin dari 'Lintang dari Kebumen' ini, kita dapat membaca...

    #samping tab "Sketsa-Sketsa Mimpi" ^^

    ReplyDelete
  2. yang dimaksud 'Lintang dari Kebumen' oleh pada blog itu bukan aku lhoo Vin..

    baca deh buku "Berjalan Menembus Batas":D

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Wah..jadi makin penasaran...
    Aku pengen tanda tangan penulisnya juga ya...hehehe...^^

    ReplyDelete
  5. Masih nunggu pinjeman dari Ulin..hehehe /(^_^)

    ReplyDelete
  6. wah, Ulin udah beli donk? asyikk dah...

    ReplyDelete
  7. Iya, katanya pengen beli. Aku pengen juga. Katanya Ulin mau mintakan tanda tangan Mabruri...
    Yes!!! \(^o^)/

    ReplyDelete
  8. yang penting kan isi bukunya, bukan tanda tangan penulisnya. nanti seolah2 tanda tangan lebih memberimanfaat ketimbang isinya...

    ReplyDelete