Tuesday, March 20, 2012

Ke STAN: Apa yang Kau Cari?

Pagi ini jogging. Matahari belum terbit. Melewati bus-bus antar-jemput dinas Kemenkeu warna biru tua. Aku melihat seseorang yang kukenal, seorang laki-laki yang kepadanya aku pernah menjadi anggota kepanitiaan besar. Dia mengantar istrinya. Si Istri adalah seorang PNS Kemenkeu, tentu saja. Sedang si Suami seorang mahasiswa D4, entah semester berapa (mungkin semester akhir karena aku telah mengenalnya sejak Oktober 2010). Keluarga kecil itu telah memiliki anak kecil, 1 atau 2 tahun.

Sambil berlari aku berpikir dan meraba-raba kebijakan keluarga kecil itu. Kepala keluarga masih kuliah, sedangkan si Ibu rumah tangga bekerja sebagai PNS Kemenkeu. Dengan siapa si adik kecil ketika kedua orang tuanya melakukan kesibukannya? Tentu ada pengasuh, atau mungkin bayi itu dititipkan di suatu tempat, aku tak tahu pasti.


PNS Kemenkeu bekerja antara pukul 07.30-17.00. Dalam kasus ini, dan mungkin juga terjadi pada kebanyakan kasus di Jakarta, kita harus tetap berangkat pukul 6 agar tidak termakan mahluk ibu kota bernama kemacetan. Lalu pulangnya pastilah sudah petang. Seperti tak pernah melihat matahari. Maka, si istri hanya mempunyai waktu untuk keluarga di malam hari. Hanya 12 jam, katakanlah. Lalu seandainya dikurangi waktu tidur selama 5 jam, praktis ia hanya mendermakan waktu 7 jam untuk keluarga. Waktu 7 jam ini sudah termasuk aktivitas MCK pribadi.

Aku belum habis pikir tentang ini. Mungkin terlalu awal untuk membahas ini. Ada pula yang mungkin bertanya: mengapa kasus istri sebagai PNS Kemenkeu menjadi pembahasan di tulisanku? Iya, juga ya. Entahlah.

Hanya saja sampai saat ini keherananku masih belum terjawab: untuk apa wanita berkuliah di STAN dan mau menjadi PNS Kemenkeu?

No comments:

Post a Comment