Wednesday, March 7, 2012

Sekolahku di Mataku

Menulis tentang sekolah sendiri yang adalah salah satu Perguruan Tinggi Kedianasan (PTK), bagi saya, adalah sebuah dilema tersendiri; antara kejujuran berpendapat atau pengungkapan aib. Namun, kalau saya diam dan Anda diam, lalu siapa yang akan tahu keadaan yang sebenarnya?

Ada sedikit khawatir tentang kemungkinan akibat yang ditimbulkan tulisan ini nantinya, bagi saya sendiri maupun orang lain atau kampus. Ada juga rasa ingin berbagi tentang apa yang saya tahu dan menjadi pijakan berpendapat. Maka, izinkan saya menuliskan apa yang menjadi unek-unek saya. Dengan hati-hati, memilih kata yang tepat, nada yang baku, ritme yang santai, semoga tulisan ini tidak merugikan para pihak.


Tidak lain, inilah unek-unek pertama. Ketika saya ingin berpendapat secara jujur, saya takut itu adalah pengungkapan aib. Mengapa? Kenyataannya memang demikian, seperti buah simalakama saja: saya diam, maka bencana dibiarkan terjadi, saya bicara maka bencana lain menggantikan. Namun, perkataan yang jujur pasti lebih benar daripada perkataan yang dibuat baik, meski tidak lebih manis tentu saja.

Ini tentang wacana penghapusan PTK, PMK 215, dan berpendapat secara jujur. Tempo waktu saya membaca tulisan di sebuah media online, seseorang menulis dengan nada memohon untuk tidak menghapus PTK. Tentu saja, dalam tulisan itu disebutkan bahwa PTK, yang dalam hal ini adalah STAN sebagai satu contohnya, adalah baik-baik saja. Everything is going well. Bahwa PTK memberikan wadah bagi siswa cerdas yang naas finansialnya. Bahwa PTK menjadi jembatan bagi orang-orang dusun menaikkan status sosial-ekonominya. Bahwa tidak ada yang menyimpang di kampus kedinasan itu, dan secamamnya.

Kawan, saya katakan: untuk menambal lubang pada kapal agar tidak karam, kita perlu tahu bahwa kebocoran itu ada. Maka jujurlah, lubang itu ada, yang meski kecil bisa saja menenggelamkan kita bila lubang itu tidak terdeteksi. Ya, ada praktik-praktik yang bisa saya kategorikan menyimpang--demi mengahaluskan kata korupsi--yang bisa saja membuat diri kita terhapus dari kenyataan.

Tidaklah besar penyimpangan itu, tapi ADA. Sekali lagi, jujurlah bahwa banyak lubang menganga di sekolah kita. Mungkin sepele, tapi hal kecil ini bisa saja menenggelamkan sebuah bahtera raksasa, seperti kalimat saya sebelumnya.

Sebutlah misal kongkalikong antara mahasiswa dan dosen dalam mengeisi absensi. Ini pengalaman pribadi yang pastinya juga dialami Kawan-kawan kuliah sekalian, bahwa demi melengkapi jumlah minimal tatap muka, dosen seringkali mengisi daftar hadir double untuk kuliah 3 SKS meski sebenarnya kelas hanya berjalan selama 2 jam. Mungkin ini juga terjadi di kampus lain. Tapi saya di sini tidak ingin membandingkan kesalahan yang satu kesalahan yang lain. Saya, dalam tulisan ini, ingin membandingkan apa yang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi.

Tidak hanya itu. Lagi-lagi, ini pengalaman pribadi. Pada suatu kepanitiaan besar, penyimpangan bukan lagi potensi, tapi telah menjadi kenyataan. Apa perlu contoh nyata?

Menanggapi tulisan teman yang dengan getolnya ingin kampus ini tepat eksis, saya mendukungnya dengan beberapa catatan. Alasan bahwa kampus saya menjembatani siswa cerdas yang naas finansialnya sudah tak lagi relevan. Kini, pemerintah melalui Kemendikbud mempunyai program Bidik Misi yang memfasilitasi mereka.


NB
Mungkin opini ini terpengaruh perasaan kecewa saya lantaran over estimated saya terhadap kampus, di mana saya menginginkan sebuah ruang pendidikan yang benar-benar berada pada jalur keilmuan, bukan yang setengah hati apalagi ogah-ogahan. Atau, sebenarnya saya yang tidak cocok di kampus itu? Namun, saya berusaha jujur.

__seminggu menjelang semester terakhir.

5 comments:

  1. wkwkwk..tinggal 1 semester lg brur :D

    ReplyDelete
  2. wah mabrur...saling lempar tulisan bagus brur. Asalkan bisa diambil hikmahnya. Hehehehe :D bukan cm saling memojokkan..

    Tidak ada yang sempurna brur dalam kehidupan ini. Begitu juga dengan sebuah universitas ataupun perguruan tinggi. Tetapi yang mungkin disesalkan adalah ketika ada sebagian kecil yang melakukan keburukan, semuanya kena. Padahal masih banyak yang melakukan kebaikan.

    Bidik misi memang telah disediakan, tetapi saya yakin enggak semuanya bisa masuk situ juga. Entah sekolah yang belum mengenal bidik misi ataupun proses yang cukup rumit. Juga kuotanya juga tidak seimbang dengan jumlah "orang miskin yang ingin kuliah".

    Apa salahnya jika penyediaan fasilitas pendidikan gratis itu dipertahankan. Bahkan kalau bisa ditingkatkan. Jangan sampai anggaran pemerintah malah digunakan untuk hal yang sangat tidak peduli bagi rakyat. Seperti mereka yang menjadi wakil rakyat..

    Itu pendapat saya c brur. Sebagai keluarga stan saya akan selalu mendukung stan untuk mereka yang ingin memperoleh pendidikan. Singkatnya itu saja..hehe. Karena tidak ada alasan saya untuk mencela stan, saya hanya bersyukur bs menempuh pendidikan di sini. Di sini saya mendpatkan asam garam yang cukup, jangan sampai dikatakan durhaka, dan lupa akan jasanya. hehehe..jika kesempurnaan itu ada, saya setuju dengan pendapatmu brur..hahahaha :D

    semangat brur...lewat stan saya yakin jalanmu masih bisa ditemui, karena Allah mengijinkanmu ada di sini..hehe

    ReplyDelete
  3. Dear Must (halah)..
    yang kumaksud itu Must,bahwa kita perlu mengakui kesalahan-kesalahan yang ada pada diri kita. Kita harus menyadari adanya kesalahan itu untuk kemudian memperbaikinya. Bukan mengatakan bahwa, "Kami adalah yang terbaik (tidak ada yang lainnya) maka jangan tutup kami."

    jangan sampai kita cinta buta dengan segala yang kita miliki, seperti cinta tanah air (Indonesia), cinta kampus (STAN) dll tetapi menafikkan fakta buruk yang ada dan mengesampingkan kebenaran.

    ReplyDelete
  4. my beloved mabrur...hohohoho

    nah itu ngerti, tp km juga salah brur. Komen km di kompasiana membuat bulu romaku naik..wkwkwk :D

    Apakah km jg termakan media?atau km termakan oleh sesal km kuliah di bidang yang tidak km geluti? entahlah nanti waktu kan berbicara..hehehe

    yang jelas sekolah kedinasan masih diperlukan. Kata-kata menutup sekolah kedinasan masih belum kuat utk realisasinya. STAN itu salah apa? salahnya dimana>> what the hell??

    Apa karena satu, dua, atau 3 orang, semuanya imbasnya stan.

    #prinsip kongkalikong waktu saya rasa smua universitas ada. Waktu itu sensitif. Coba apa km selalu tpt wktu dalam kuliah?apa km gk ngantuk dalam kuliah hingga tertidur pulas?wkwkwkw (pengamat sejati)
    #hedonisme, apa itu hedonisme?arti itu abstrak mnurut saya..itu c pribadi masing2. Banyak kox mahasiswa yg gak gitu. Prinsip benefit n cost pokoknya jalan..
    #kurang mampu->laptop, bb, dsb
    kalo gitu semua beasiswa hrs ada keterangan gini kali ya..."yang mendapat beasiswa, dilarang punya laptop, bb, dsb, jika gak beasiswa batal (titik)"hahahaha...nyatanya penerima bidikmisi dan beasiswa lain byk juga yg punya itu. Laptop hal yang perlu saya rasa. "kalau boleh usul, STAN utk kalangan menengah kebawah, kyk bidik misi ditelusuri gitu". So gk ada kesenjangan sosial. Ktika ketahuan boong..langsung pecat. Oia katanya km krg mampu, km py laptop juga bkn?
    jd bedakan ukuran kurang mampu dengan kebutuhan. Banyak petani yg py motor, krn memang butuh n bermanfaat..

    asyiik ya saling berpendapat..hahahaha :D

    ReplyDelete
  5. makanya, kebenaran kan ukurannya bukan perbandingan. Di Universiatas lain, bahkan hampir semua (atau mungkin memang semua) selalu bermasalah dgn absensi dan waktu. kalau dibandingkan dgn univ atau sekolah lain, kita akan melakukan pembenaran bahwa "kongkalikong absensi adalah wajar". Dari kewajaran itu lama2 menjadi pembenaran.

    Iya, aku memang sering terlambat, ngantuk di kelas dll. Makanya aku bilang bahwa kita punya salah. Kita harus mengakui itu. Perlu kutulis lagi, bahwa kita harus mengakui keburukan2 di sekolah kita untuk kemudian kita perbaiki. Biasanya, mentang2 kita menjadi civitas akademik suatu sekolah, kita akan membela mati-matian tanpa peduli kebenaran dan fakta. Ini menyedihkan. Cinta buta itu menyesatkan, menjadikan kita bias untuk berpendapat.

    ReplyDelete