Wednesday, March 28, 2012

Self-Healing: Mengenali Diri Sendiri

Tidak akan berubah seseorang kecuali seseorang itu berusaha untuk melakukan perubahan atas dirinya sendiri. Sedikitnya ini memberi penjelasan mengapa induk judul blogpost ini 'Self-Healing'. Mungkin penyembuhan bisa dibantu orang lain. Akan tetapi, esensi penyembuhan tetap merupakan usaha internal tiap-tiap individu. Untuk mudahnya, mari saya terjemahkan saja sebagai "Penyembuhan Sendiri". Anak judul "Mengenali Diri Sendiri" adalah seri pertama dari "Self-Healing", yang merupakan langkah pertama penyembuhan. Sedangkan maksud dari 'penyembuhan' di sini adalah pembenahan kepribadian untuk menjadi lebih baik.

Untuk dapat mengubah diri sendiri dari masa lalu dan untuk menentukan tujuan di masa depan, seseorang harus mengenali diri sendiri dulu. Selama ini, saya sedih karena belum mengenal dengan baik diri saya sendiri. Sehingga, hidup seperti tidak menjadi diri sendiri; menjadi orang lain. Atau malah timbul kebencian pada  diri sendiri lantaran tidak percaya diri. Sedihnya lagi, ketidakpercayaan-diri bisa memunculkan kata-kata ini: I'm sick of being my self.


Maka saya mencoba meraba siapa diri saya: menelusuri fakta-fakta masa lalu yang telah menjadi sejarah hidup; mencatat keinginan-keinginan, ambisi, hobi, dan cita-cita; dan jujur dalam memaparkan kebutuhan saat ini.

Intermezo:
Meski tulisan ini saya jadikan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah KSPK, tulisan ini juga kebutuhan saya dalam rangka 'heal myself'.

Fakta Masa Lalu

Terlahir di sebuah desa industri genteng, tumbuh di lingkungan yang panas oleh persaingan, berkembang bersama para pekerja-otot, maka saya cukup memahami komentar beberapa teman kelas 2F Akuntansi (tahun lalu) bahwa saya bersikap frontal. Saya memahami kata 'frontal' di sini sebagai 'to the point, tanpa basa basi, tanpa kompromi, dan tidak mempertimbangkan orang lain dengan sikap yang terkesan kasar'. Saya cukup menerima anggapan teman-teman ini. Apalagi setelah saya tahu tentang psikofisik [bahwa psikis dan fisik berpadu dan saling berinteraksi dalam mengarahkan tingkah laku]. Tubuh (fisik) yang cukup liat memang turut merupakan hasil tempaan lingkungan industri genteng. Di lain pihak, dengan fisik yang liat ini saya bisa mengalahkan seorang mahasiswa D3 Bea Cukai dalam PORMA 2010 untuk cabang atletik lari nomor 3.000 meter putra. Lebih lagi ketika mewakili STAN pada Olimpiade PTK se-Indonesia 2010 untuk lari nomor 800 meter putra dan berhasil finish di urutan keempat dari sebelas peserta (perlu diperhatikan bahwa beberapa PTK menerapkan pendidikan militer seperti IPDN, STPI, STIP, dll.). Dari sini, saya mengenal diri sendiri memiliki kelebihan secara fisik (terutama di antara teman-teman STAN) sekaligus perilaku yang kurang lembut.

Keluarga yang kurang mampu secara finansial sangat berpengaruh terhadap kepercayaan diri saya. Seringkali saya minder dalam pergaulan sosial. Terutama sejak saya beranjak SMP, dan mungkin masih sampai saat kuliah.

Meski naas secara finansial, saya menyadari akan adanya potensi intelegensi. Sejak SD, saya selalu mengikuti kompetisi akademik, khususnya bidang Matematika. Ketika SMA, saya mengikuti OSN 2008 bidang Astronomi dan memperoleh medali perak. Prestasi ini cukup meningkatkan kepercayaan diri karena secara finansial pun ada peningkatan yang 'lumayan'. Akan tetapi, faktor finansial bukan faktor penentu yang baik. Maka, pada suatu titik, saya kembali minder.

Barangkali saya cukup bodoh untuk memilih masa depan. Saya bingung memilih program studi dan jurusan sebagai bidang yang akan menjadi konsentrasi saya belajar di perguruan tinggi. Hanya saja, orang tua mengarahkan--hanya mengarahkan, tidak memaksa--untuk masuk STAN. Maka, saya ikuti saja saran orang tua. Tapi, untuk jaga-jaga, saya mendaftar dulu di UGM dan diterima di FMIPA jurusan Matematika program studi Statistika melalui jalur khusus siswa berprestasi, serta mendapat beasiswa penuh (selama masa pendidikan 4 tahun).


Hingga akhirnya diterima di STAN, saya tinggalkan UGM dengan baik-baik dan tanpa peduli dengan beasiswa yang telah saya dapat. Setelah melewati tahun pertama di kampus kedinasan, saya sadar bahwa otak eksaktaku kesulitan beradaptasi dengan ilmu-ilmu Akuntansi. Barulah muncul pertanyaan: mengapa saya tidak memilih Astronomi ITB (yang juga menawarkan banyak beasiswa)? Sampai saat ini, saya masih suka dengan hal-hal yang berbau langit, bintang, dan malam. Mungkinkah saya terlambat menyadari bahwa seharusnya saya tetap berada di jalur eksakta dengan Astronomi sebagai fokus belajar?

Mengingat ini, saya berusaha menepisnya. Sebab itu tidak mungkin jika mengingat umur. Saya sekarang adalah mahasiswa Akuntansi, meski saya tak cukup menikmatinya. Saya mencoba mengalihkan kekecewaan saya dengan aktivitas tulis-menulis. Saya mulai menulis saat tahun terakhir SMA, sebenarnya. Namun, barulah sejak berkuliah di STAN saya lebih serius menulis. Sekarang, nama saya telah tercantum di dalam dua buah buku antologi-bersama, salah satunya bersama penulis novel trilogi "Negeri 5 Menara", A. Fuadi dengan judul buku "Berjalan Menembus Batas". Sungguh ini merupakan pencapaian yang luar biasa.

Mengingat kembali sejarah hidup, saya bingung mana yang akan saya tekuni. 

Keinginan, Ambisi, Hobi, atau Cita-cita

Saya berusaha jujur mengatakan keinginan dan cita-cita saya: turut serta dalam mencerdaskan umat bangsa dan menyejahterakan kehidupan bangsa. Yah, meskipun saat ini saya masih 'galau' akan eksistensi diri sendiri, saya yakin akan ada penyembuhan pada waktu yang tepat (as soon as posible).

Sejak kecil saya suka dengan olahraga sepak bola. Inilah hobi pertama saya. Sekarang, membaca dan menulis turut serta menjadi daftar kegiatan yang menjadi keharusan_lebih dari sekedar hobi. Selain itu, bersepeda, ber-stargazing [menatap dan membaca langit malam], dan berpetualang adalah kegiatan pelengkap kesukaan saya, yang sangat hambar bila hidup ini tiada melakukannya.

Maka, muncul lagi pertanyaan yang sama: apa yang paling saya nikmati dari sekian banyak hobi? Saya masih belum mengerucutkan pilihan untuk menentukan ke mana saya berfokus.

Kebutuhan dan Posisi Saat Ini

Saat ini, saya tergabung dalam dua organisasi yang semuanya adalah_katakanlah_kerohanian Islam: satu di dalam kampus dan satunya lagi di luar kampus. Saya menyadari tanggung jawab yang diamanahkan tidak hanya menuntut secara organisasi, tetapi juga secara moral-spiritual. Namun, saya lebih tahu kenyataan pada diri saya. Apa yang terlihat, seperti jabatan dalam organisasi, pakaian yang saya kenakan, dll., tidak dapat menjadi tolok ukur penilaian. Saya katakan bahwa saya masih belum serius melakukan tanggung jawab yang diamahkan kepada saya.

Selain itu, sebagai perantau yang sudah memulai umur yang ke-22, seharusnya saya telah mandiri dalam banyak hal, terutama finansial. Kenyataannya saya masih membutuhkan bantuan orang lain untuk berdiri di tanah rantau.

Akhirnya, saya bisa saja menghabiskan lembar yang lebih banyak lagi untuk saya menulis tentang seberapa saya mengenal diri sendiri. Akan tetapi, saya tidak tahu apakah itu lebih baik. Sampai pada pemaparan saya ini, saya masih melihat keragaman saya dalam aktivitas, hobi, sikap, visi, dll.. Lalu, saya masih heran dengan pertanyaan yang sama: apakah saya termasuk orang yang tidak berpendirian, plin-plan, dan banyak kepribadian? Apa yang akan menjadi spesialisasi saya?
*
Sampai saat ini, jawaban yang paling memenuhi dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah: saya memang memiliki banyak potensi meski tidak (atau belum) terlihat mana yang sangat menonjol. Maka dari itu, mungkin spesialisasi saya adalah_seperti kata Robert T. Kiyosaki_bisa sedikit tentang banyak hal. Jika demikian, dengan banyaknya potenti setengah-setengah yang saya miliki, ini bisa mendukung saya untuk bisa menjadi penulis. Ya, penulis mensyaratkan seseorang dengan multiskill.

Kesimpulan dalam rangka pengenalan diri sendiri kali ini bahwa saya adalah seorang hamba. Namun, sifat keakuan masih melekat kuat dan mendominasi. Saya berharap adanya penyembuhan diri ke depannya.

__insyaAllah tulisan akan berlanjut, masih tentang Self-Healing.

4 comments:

  1. Dengan ketekunan dan kesungguhan dalam berlatih, orang jadi berbakat. Potensi itu milik semua orang.

    ReplyDelete
  2. Memang, seseorang yang paling sulit dikenal dan dimengerti itu adalah diri sendiri.

    Seperti cermin, dia dipakai oleh puluhan orang untuk bercermin tetapi dia sendiri tidak mampu bercermin.....
    Sttt, tapi ada lo cara cermin untuk bercermin.....:)
    Sebuah fakta ilmiah membuktikan. Jika dua buah cermin dihadapkan, maka akan timbul banyangan "cermin di dalam cermin" yang jumlahnya sekian2 (ada rumusnya kali y?)

    Artinya?

    Mengenal diri sendiri itu sulit, tetapi sekali ketemu kuncinya, jalan selanjutnya akan lebih mudah, semakin mudah, dan semakin mudah, Insya Allah:)

    ReplyDelete
  3. hmmm.. cermin. Berarti harus mencari cermin yg sesuai dulu nih (dan dalam rangka pencarian itu juga harus bercermin, sebenarnya)..

    Cermin memang memberi tahu kita keadaan kita, baik dan buruk. Tapi ia tak bisa menghiasi kita (krn pada dasarnya, diri kitalah yang berhias, dengan bantuan cermin).

    pemikiran yg bagus Vik.

    ReplyDelete