Wednesday, April 11, 2012

Broad Band: Tentang Qiyam al Lail

Ada orang yang menghubungkan waktu sepertiga malam yang akhir sebagai waktu di mana orang sepi bermunajat, maka sambungan kepada Allah sangat lancar. Di saat orang lain sedang tidur, pastinya hanya sedikit yang 'menghubungi' Allah lewat sholat malam. Benarkah demikian?

Ingat bumi ini bulat. Ketika di sini waktu sedang berada pada sepertiga malam yang akhir, di belahan dunia lain bisa saja sedang siang, sore, atau pagi. Jadi, tidak tepat analogi bahwa sambungan kepada Allah itu sepi ketika sepertiga malam yang akhir. Right?



Maka? Tidak perlu analogi. Bangun malam untuk bermunajat kepada Allah tidak ada hubungannya dengan 'kelancaran' sambungan sebagaimana analogi tersebut. Tidak pula berhubungan dengan 'turunnya' Allah ke langit dunia. Kawan, bila kita berkeliling dunia, kita bisa mendapati sepertiga malam yang akhir sepanjang 24 jam sehari. Artinya, setiap waktu adalah sepertiga malam yang akhir bagi daerah yang berlainan. Jika demikian, apakah berarti Allah selalu 'turun' ke langit dunia?

Yang jelas, membaca Al Quran di waktu malam lebih berkenan, mengena, menjiwa pada diri kita.

Lalu, apa sebenarnya yang ingin disampaikan di sini.

Mari bangun malam, sholat, dan bermunajat, karena memang ini diperintahkan oleh Allah. Pastinya Kawan-kawan sudah tahu ayat itu. Maka tak perlulah ditulis lagi di sini. Intinya, bukan karena hal dan alasan lain, kecuali ini memang diperintahkan oleh Allah. Titik.

__nasihat untuk diri sendiri, ditulis agar sering teringat.

No comments:

Post a Comment