Monday, April 23, 2012

Langit dan Bumi [2]: Purnama di Siang Hari


Langit dan bumi pernah berpadu satu pada suatu masa pada awal penciptaan. Lalu keduanya dipisahkan, dan pemisahan keduanya menjadi suatu pertanda peristiwa dahsyat. Sekarang ini, langit dan bumi tidak akan bersatu kecuali di tangan pelukis lewat garis perspektifnya.

Pernah suatu waktu langit dan bumi berseteru tentang siapa yang lebih hebat. Langit, yang berhiaskan matahari yang digdaya, bulan yang anggun, bintang-bintang yang cantik jelita, gugusan bintang yang bergelora, galaksi yang elok menawan, nebula yang lembut memikat, dan lain-lain, merasa hebat tak terperikan. Sama juga dengan bumi yang tersusun atas gunung yang gagah menjulang, laut yang biru berayun mesra, sungai yang mengalir indah, tumbuhan yang melantun merdu di tiap gemerisik geraknya, binatang dengan nyanyian syahdu nan berpuja dan puji, dan manusia yang berakal sempurna, menjadikan bumi merasa lebih sakti ketimbang langit. Seteru keduanya tak terhenti seolah mereka musuh bebuyutan.


Hingga, dipilihlah seorang utusan dari bangsa manusia di bumi, sebagai satu-satunya mahluk berakal, untuk naik ke langit. Berkendara buroq bersama Jibril, secepat cahaya, mereka menembus cakrawala guna menerima risalah belas kasih Allah bagi seluruh alam, bagi langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya. Pada akhirnya, langit dan bumi menjalin kesepakatan untuk mendukung kehidupan manusia.

Meski demikian, kini lihatlah. Walau tidak lagi berseteru, keduanya memasang muka cemburu. Bagi langit, mahluk bernama manusialah musabab kecemburuan itu. Langit tidak mempunyai penjaga sehebat manusia. Para malaikat yang tinggal di langit untuk menjaganya hanya monoton melakukan apa yang ditugaskan kepadanya; tak ada gairah. Sedang bumi iri dengan apa yang dilihatnya di langit, dan juga malaikat-malaikat yang patuh—tidak seperti manusia sering lalai tugas. Ketika siang hari, langit dihiasi dengan satu bintang nan besar sedang bila malam dihiasi bintang mungil yang lucu dan banyak. Itu membuat langit menjadi cantik dan banyak manusia yang lebih senang memandangnya daripada menjaga bumi.

Begitulah, langit dan bumi memang tidak akan berpadu satu sebelum Allah sendiri yang akan menyatukannya. Dan, persatuan kembali keduanya kelak menjadi pertanda peristiwa dahsyat pula. Tidak ada yang tahu kapan peristiwa itu terjadi—kecuali Allah.

Berbicara tentang langit Indonesia, alangkah cemburunya bumi Indonesia dan alangkah bahagianya para penjaga bumi. Betapa tidak, langit di atasnya bertabur lebih banyak bintang daripada langit di atas negeri adidaya Amerika Serikat, dan negara-negara maju seperti Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Kanada, Rusia, maupun Cina yang tidak lama lagi akan bergabung dengan kelompok penguasa dunia. Nilai untuk kelebihan yang dimiliki Indonesia ini tidak dapat diukur dengan kurs mata uang negara-negara itu, melainkan dengan seberapa besar rasa syukur manusia Indonesia atas nikmat yang tidak ternilai secara ekonomi ini. Sehingga, sayangnya, dengan inilah para penjaga bumi Indonesia banyak berandai-andai tinggi tapi jarang sekali tersampaikan.

Mengapa banyak bintang yang tinggal di atas bumi Indonesia? Sebenarnya tidak hanya di atas bumi Indonesia langit tempat bintang-bintang bertaburan. Setiap langit di atas bumi selalu ada bintang, hanya saja mayoritas dari mereka terlihat berada di belahan bumi selatan. Jangan dikira ini suatu kebetulan atau keberuntungan belaka. Ini adalah anugerah Allah pada, salah satunya, penjaga bumi Indonesia agar lebih menyukuri nikmat-nikmat-Nya. Langit dan bumi memang telah sesepakat ini mendukung kehidupan manusia.

Bumi adalah satu dari delapan planet[1] di tata surya (solar system) atau tata bintang Matahari. Namanya juga tata surya, pusat sistemnya adalah surya atau matahari atau solar. Matahari adalah salah satu bintang kecil di suatu sistem besar bernama galaksi Bima Sakti. Galaksi ini disebut juga sebagai Milkyway Galaxy lantaran penampangnya yang melintang di langit membentuk sebuah jalur halus nan lembut bagai susu.

Bila dilihat dari bumi, Galaksi Bima Saksi memiliki deklinasi negatif[2]. Dalam suatu sistem tata koordinat, objek yang memiliki deklinasi negatif akan terlihat berada di belahan langit selatan. Oleh karena itu, alangkah beruntungnya Indonesia yang berada di sekitar katulistiwa, dapat melihat bintang-bintang bertaburan secara gratis.

Para penjaga bumi Indonesia—manusia Indonesia—benar-benar lena oleh pemandangan gratis di langit. Setiap hari bila malam telah menutupi siang yang lelah, kerjaan manusia Indonesia, yang terkulai lemas akibat konsumsi berlebih tehadap mie instans, adalah bermimpi tentang langit, melamun, atau sekedar bengong dengan lampu-lampu putih yang tergantung tanpa tiang di langit. Tidak seperti manusia-manusia di bumi Amerika atau Walondo—Belanda—sana, orang-orang sibuk bekerja membangun peradaban maju. Meninggalkan peradaban orang Indonesia yang masih saja dimanjakan dan tercandukan alam. Mau bagaimana lagi, orang-orang sana sudah tidak memiliki alam sebaik Indonesia. Sinar lampu telah melebur cahaya bintang dari langit dan gedung-gedung pencakar langit menghalangi pemandangan ke atas. Lagi pula di sana bintang tidak sebanyak di langit selatan—di atas bumi Indonesia. Jadilah mereka terbiasa menunduk guna membaca kitab-kitab ilmu pengetahuan. Sementara orang Indonesia waktu itu sedang melamunkan terbang ke langit tanpa memikirkan caranya dan tidak pula mencari tahu ilmunya.
*
Kawan, apa yang Kalian baca di atas adalah ucapan seorang teman yang kutulis ulang dengan beberapa penyesuaian. Perkenankan aku menambah satu lagi tokoh penting yang akan turut bercerita pada kalian. Ia temanku, parter in battle, teman seperjuangan di astronomi. Namanya Laila. Panggil Laila saja. Tak usah Kawan menanyakan nama lengkapnya karena aku khawatir Kawan akan menuliskannya di kolom pencarian Google guna mendapatkan nomor teleponnya.

Aku dan Laila dipertemukan dalam suatu ruang dan waktu yang sama bernama SMA; Sekolah Menengah Atas. Lebih khusus lagi, melalui mekanisme penentuan yang arbitrer, kami berada dalam satu kelas yang sama pada tahun pertama, tahun kedua, dan tahun ketiga.

Katanya, kesan pertama bertemu dengan seseorang akan menentukan kelanjutan cerita kita berkaitan dengan orang itu. Benarkah?
Hari pertama sekolah normal—setelah masa orientasi, yakni hari Kamis, aku datang tepat waktu, yaitu ketika pintu gerbang sekolah akan segera ditutup rapat dalam hitungan 30 detik. Maka, aku harus berjalan cukup tergopoh menuju kelas setelah memarkir sepeda kumbangku. Untungnya, guru tidak pernah langsung berada di kelas pada pukul 07.00.01 tepat. Aku mengestimasi keterlambatan guru berkisar 5-15 menit.

Hukum yang berlaku di kebanyakan kelas di SMA adalah seperti hukum rimba: siapa cepat dia dapat kursi belakang. Hukum tak tertulis ini menjadi alibi bagi sebuah pepatah bengkok[3]: posisi menentukan prestasi. Alamak!
Hari itu inilah posisiku: bangku sebelah kiri baris terdepan lajur ketiga dari kiri. Sebelah kananku adalah satu-satunya bangku yang masih kosong. Jadi, siapa pemilik bangku kosong di sampingku? Jelas bukan Laila. Karena ia ada di bangku kanan pada baris terdepan lajur kedua dari kiri. Di mana itu? Yak! Tepat di samping kanan Laila adalah seorang anak yang terlihat ciri khas kekampungannya dan sedang berkipas-kipas dengan buku tipis karena berkeringat setelah menempuh perjalanan sepeda berkilo-kilo meter: yaitu aku.

Dari posisiku, inilah prestasiku: berkenalan dengan siswa yang ada di samping kananku. Dia datang 20 detik setelahku. Artinya, pada hari pertama sekolah, ia sudah menggantikan tugas satpam untuk menutup pintu gerbang. Dia, namanya Teguh, mengaku suka dengan matematika sejak sebelum lahir. Aku juga suka matematika, tepatnya sejak aku mengenal struk belanja Biyung dari warung Pak Haji Ruslan.

Itu satu prestasiku yang cukup membanggakan. Dan inilah satu prestasiku yang mengesankan.

Pelajaran pertama hari itu adalah Bahasa Indonesia. Mudah ditebak, guru mapel ini biasanya perempuan. Benar, karena memang sesuai jadwal, tertera nama Inung Saraswati, S.Pd. Dari namanya, benar kecurigaanku; beliau berpenampilan menarik—aku selalu menghindarkan kata ‘cantik’ untuk menyebut wanita yang kukenal meski ia benar-benar demikian—dan....lajang. Entah kenapa guru Bahasa Indonesia yang pernah kutemui adalah perempuan, berperawakan tegap tapi kurang tinggi, berambut lurus sebahu, dan modis. Tapi, berdasarkan pengalaman, mereka adalah tipe guru yang sabar dan mudah dimengerti.

Selalu ada basa-basi pada pertemuan pertama. Maka, itu tak perlu masuk cerita. Langsung saja: perkenalan siswa baru sekaligus proses persentuhan pertama lingkaran kehidupanku dan lingkaran kehidupan Laila.
“Kalian sudah mengenal teman sebangku masing-masing?” tanya Bu Inung, retoris.
“Kalau begitu, sekarang kalian pindah tempat. Cari teman yang belum kalian kenal,” Lanjut Beliau dengan tanpa kompromi. Kelas ribut. Aku bingung.
“Ingat! Harus yang kalian belum kenal.”

Para siswa laki-laki menyerbu bangku belakang. Teguh pindah ke pojok kanan depan dan menemukan seorang teman SMP-ku dulu. Aku pindah ke bangku Teguh yang tadi. Tempatku masih kosong.
“Hey.” Ada suara. Entah untuk siapa.
“Hey.” Ternyata sapaan itu ditujukan untukku. Dari sumber suara yang sama. Nadanya sedang, antara tinggi dan rendah. Khas pemilik suara alto.
“Iya,” aku menjawab sekenanya sambil berpaling.

Dan, Kawan, maafkan bila aku berlebihan mendeskripsikan. Ketika aku berpaling ke arah sumber suara, mataku menangkap citra bulan purnama di siang hari. Bulan anggun yang biasanya mengambang penuh wibawa di sela-sela kabut malam, kini berada pada jarak satu meter saja. Satu meter, dan tepat di depan mukaku.

“Boleh aku duduk di situ?” dia meminta ijin, masih dengan suara lembutnya, seolah-olah aku ini penjaga bangku kosong itu.

Aku tak tahu apa yang sedang kulakukan pada waktu itu. Aku seperti tidak sedang berada pada diriku. Aku sedang lupa. Atau, entahlah.
“Boleh aku duduk di situ?” Pertanyaan itu terulang.
#$#@!%& “Bo... Boleh.” Aku menelan ludah. “Silakan.”

Dia memindahkan tasnya. Duduk. Aku berkeringat dingin. Mati kutu.
“Aku Laila, nama kamu siapa?”

Dari rumah, telah kupersiapkan sebuah nama. Aku ingin dipanggil dengan nama tengahku, bukan nama depan sebagaimana teman-teman SMP memanggil, bukan juga nama belakang sebagaimana orang tua memanggil. Namun, hari itu, entah kenapa, lidahku kelu. Tak bisa kugerakkan sesuai keinginan. Akhirnya, berdasarkan reflek, keluarlah dari mulutku nama belakangku. Mungkin lantaran tadi pagi Biyung membangunkanku dengan nama itu.

Berkenalan dengannya, aku sempat kecewa karena aku telah kelewat Ge-eR. Kupikir dia memang ingin berkenalan denganku. Ternyata, dia sudah mengenal semua teman wanita dan beberapa teman laki-laki. Kebetulan ada seseorang di dekatnya yang belum dia kenal. Maka, aku berharap, ini adalah keberuntungan bagiku hari itu. Lihatlah, semesta mendukung perkenalan Laila dan aku.

Ketika Bu Inung akhirnya menyuruh kami menulis paragraf deskriptif yang menggambarkan teman sebangkunya, aku buru-buru membuka buku dan menulis puisi ini:

Siapa itu yang menanam mutiara di kedua matanya
dan salju muncul dari sudut teduh kartikanya
yang membawa angin sejuk taman Firdaus
lalu menyembunyikan wajahnya dengan senyum tulus

Siapa itu yang memetik langit menjadi payungnya
malam-malam adalah bulan purnama
di atas dermaga surga ia bergelayut
tak ada kabut menangis malam itu
juga padanya pelangi menjadi warna yang menunduk

Siapa itu yang memamah delima pada mulut mungilnya
setenang laut merah menenenggelamkan bahtera
dan ribuan bulan yang berpendar tak terbayang menariknya
atau, sunyinya malam gelap yang damai
ketika ia bersimpuh pada Kekasihnya

Dan milik Allah-lah alis, bulu mata, dan hidung  yang penuh pesona

Setelah selama tiga tahun sekelas, aku semakin mempunyai gambaran tentang dirinya. Seperti arti namanya, malam, demikian pula perangainya. Tapi yang kumaksud bukan gelap kulitnya. Layaknya malam pekat yang sunyi, Laila adalah perempuan tenang dan berpendirian. Sangat mungkin ia dilahirkan kala malam hari pada waktu-waktu sebelum subuh. Tapi entahlah. Yang jelas, ia suka dengan saat-saat itu.

Ia memang biasa saja dalam kesehariannya. Maksudku, bersahaja saja penampilannya. Tapi, kawan, bukankah seseorang yang mampu berpenampilan biasa saja adalah orang yang luar biasa?

Tentang fisiknya, tak elok jika aku mendeskripsikan karena ia adalah seorang wanita yang perempuan, dan karena aku lelaki, tepat sebagaimana dugaan Kawan-kawan.

Tidak adil!

Ah, baiklah kalau Kawan memaksa. Sedikit saja kuberi tahu informasi tentang Laila. Barangkali angka yang kucuri lihat saat ia mengisi formulir identitas diri ini cukup mewakili dimensinya: 160/47. Data ini relevan untuk kurun masa saat kami menjalani tahun terakhir di SMA. Kurasa Kawan setuju denganku akan satu kata: proporsional. Dan, ada satu hal lagi yang bisa kuberi tahu tentangnya karena ini telah menjadi semacam pengetahuan umum di SMA-ku. Dia cantik. Ya, karena dia wanita. Survei membuktikan: delapan belas responden teman sekelas yang terkategori laki-laki memberikan nilai rata-rata 8,7 dari nilai sempurna 10; diketahui juga ada seorang teman yang memberikan nilai sempurna—dan seharusnya Kawan tahu siapa orang itu.

Seiring dengan Kawan terjerumus dalam cerita ini, Kawan akan semakin mengenal Laila. Maka, mari kita berlanjut ke episode selanjutnya.
***


[1]  Pluto telah dikeluarkan dari klasifikasi sebagai planet
[2] Deklinasi adalah jarak sudut pada bola langit antara benda langit dan ekuator langit, diukur pada meridian yang melalui benda langit itu. Negatif berarti ke arah selatan dari ekuator.
[3] pepatah yang tidak lurus; sudah patah, bengkok pula

28 comments:

  1. bahaasa indah, ahh keren. ini keren

    sekian

    ReplyDelete
  2. Untaian kata di awal bagian ini, membuatku takut akan cerita selanjutnya antara dikau dengan Liala... :-)

    ReplyDelete
  3. Sosiana: makasih komennya, aku perlu juga komentar & saran yang lengkap Sos, positif negatifnya gitu..

    Pramadya: takut kenapa? oh ya, namanya Laila, bukan Liala :-)
    Blogmu kenapa?

    ReplyDelete
  4. haha. ya. Maaf salah tulis tadi...^^.
    Ya. Takut jika ia dan Laila berpisah, seperti langit dan bumi, dengan segala perbedaan.. :-)


    Penasaran juga Mabruri, karena perbedaan antara langit dan bumi itu tak sederhana. Sangat rumit dan penuh perbedaan sudut pandang. Ceritakan padaku bagaimana Mabruri mengurainya. Ini tema yang menarik.

    ReplyDelete
  5. hmm.. di akhir cerita "Langit dan Bumi", tokoh "aku" dan "Laila" dijauhkan oleh jarak, tapi sebenarnya waktulah yang memisahkan keduanya.. asyiikkk.

    Bener nih temanya menarik?

    tunggu kelanjutan ceritanya ya..

    ReplyDelete
  6. Oke...Makin penasaran aku. :-)

    Langit dan bumi punya luapan keindahan dan 'fasilitas' untuk mendukung cerita Mabruri...

    ReplyDelete
  7. Mantap. Baca cerpen (atau novel ya?) sekalian bisa belajar astronomi.

    Jadi penasaran sama tokoh Laila.

    ReplyDelete
  8. Ulin, gimana ya..
    ada ga ya episode di Bina Dharma yg dimasukin cerita?

    ReplyDelete
  9. maksudku yg bisa dimasukin, yg kira2 bagus gitu..

    ReplyDelete
  10. Wah... Akan ada Salatiga donk nanti..^^
    Yey...(^o^)!!!

    ReplyDelete
  11. kalao di draft-nya udah ada, tp konsentrasinya bukan ke deskripsi tempat.. ntah nantinya klw udah lebih lengkap.

    pengetahuanku ttg Salatiga sangat terbatas (sebatas bina Dharma) hwa..

    ReplyDelete
  12. Penghubung untuk ceritanya rencananya dari mana Mabruri? Dari lomba Astronomi? hhe...

    #wah, belum2 minta bocoran...^^

    Hem. Ide bagus Mabruri tanya Ulin. Aku yakin Ulin punya kisah menarik khususnya tentang langit dan perbintangan.ha2.
    Tapi sepertinya sulit untuk buat dia 'bicara'...^^

    ReplyDelete
  13. penghubung cerita? yang mana? kasih tahu ga ya? :-)

    ReplyDelete
  14. Hem. Sama aja deh. Anak astronomi emang suka 'rahasia' ya???

    Kutunggu deh cerita berikutnya... yang seru lho... :D

    ReplyDelete
  15. Wah ide bagus tuh brur. Request donk, episode pas hunting meteor, sama pas gak sengaja lihat 'UFO'. hehe. *cuma saran*

    ReplyDelete
  16. yg hunting meteor? itu yang kalau kelas udah selese ya? yg sama Lucky mnggelar tiker?
    tolong ceritain dr sudut pandangmu Lin..

    terus klo yg UFO itu aku jg pas ga ikut. wktu itu (malam minggu) aku kurang enak badan.
    ttg UFO dibahas jg sih, tp bukan di wisma BD.

    ReplyDelete
  17. Ah yang pas ngamat rame-rame di atas setelah kelas malam itu kamu gak ikut apa Brur? Aku ingetnya bareng Lucky, Topik, Hanif, sisanya lupa, plus beberapa anak biologi yang penasaran.

    Kalo yg Lucky gelar tiker itu aku inget bareng kamu juga, gak nemu meteor tapi cuma lihat bulan gibbous oranye baru terbit.

    ReplyDelete
  18. mas Lucky :)
    give him spirit mas mabrur

    ReplyDelete
  19. wooow... awesome work brother :)
    menggabungkan astronomy dengan fiksi (benar fiksi eh?)
    penasaran dg kelanjutan ceritanya. tapi kenapa namanya Laila? saat denger nama itu yg terlintas dikepalaku adl "Laila&Majnun", hehe :D

    ReplyDelete
  20. Hiks Desti..
    Bagaimanapun,jika diniatkan utk novel, kisah itu hanyalah fiksi (terlepas dr seberapa ngerti para pembaca dgn latar belakarng penulisnya).

    gimana ya..udah sreg sama nama Laila sih Dest..
    ada usul nama? kalau cocok ntar dijadiin nama tokoh deh.. nama yg klop buat 2 tokoh itu ("aku" dan "Laila"). biar lebih catching.

    ReplyDelete
  21. Ohohoho...
    Ada 'nyrempet-nyrempet' latar belakang penulisnya to...???
    Tapi bagus itu. Kalau yang baca tau jadi lebih yakin. Inspirasinya juga lebih mudah diamalkan...hehehe...

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. walaupun sy gak begitu ngerti dg latar belakang penulisnya, pembaca seringnya membayangkan bahwa si tokoh tsb adalah si penulis (kayak buku2nya Tere-Liye, A Fuadi, atau Andrea Hirata), termasuk pengalaman di dalamnya.
    Laila, kurang "eye catching" gtu lho..hehe. mungkin bisa pake nama bintang/rasi/galaksi. haha *ngawur

    ReplyDelete