Friday, April 20, 2012

Langit dan Bumi: Prolog

Rabu 28 Mei 2008 [23 Jumadil Awal 1429 H]
Kursi 16E Gerbong 5 Kereta Api Ekonomi Kutojaya Utara

Barangkali di sana, di suatu tempat selain di sini, ada perantara jawaban-Nya atas kegundahan sebongkah hati manusia, sebuah dilema anak muda atas suguhan pilihan yang sama nyata. Seperti tak percaya, aku tak ingin dipilihkan. Aku ingin memilih, menentukan, dan bebas merdeka. Namun, keadaannya sungguh sulit: maju tak mampu, mundur tak mau. Maka aku memutuskan untuk istirahat, time out untuk permainan ini. Kutinggalkan medan perang dalam status quo.

Saat ini, aku dan masa lalu mendukung keinginanku; menjadi orang pertama di kampung yang menjadi astronot, manusia Indonesia pertama yang pergi ke ruang angkasa[1], sekaligus orang pertama di dunia yang akan menginjakkan kaki di Planet Mars. Orang tua dan fakta masa kini mengarahkan pada jalan lain yang berpembatas—yang menjadikan jalan menyempit—yang harus kulalui. Sebuah jalan dengan rambu-rambu yang tidak sesuai keinginanku, penuh pertanda berlawanan, dan memakasaku berbelok ke arah yang lain.

Ada dua jalan menuju masa depan. Jalan pertama adalah yang aku dan masa lalu inginkan. Jalan yang lain adalah yang orang tua dan fakta tawarkan, yaitu jalan yang aku sendiri belum tahu, kecuali menjauhkanku dari jalan pertama yang kuinginkan.

Aku pergi dari rumah. Hanya pergi, bukan meninggalkannya karena aku akan kembali. Aku berjanji akan kembali bila pertanyaan-pertanyaan ‘mengapa’ telah mendapat jawaban yang mampu menjelaskan pada masa lalu bahwa diriku akan membuat masa depan yang luar biasa dan akan menjadi catatan sejarah. Bahwa dibalik rambu-rambu yang membelokkan, itulah rambu yang benar, yang seharusnya aku sadari, dan yang perlu kusyukuri, yang merupakan kebutuhan—bukan keinginan.

Aku memandang keluar. Hanyalah warna hitam malam. Tapi aku tetap melihat sesuatu di luar jendela. Semua terpampang jelas di bola mata, gambar-gambar yang berkelebat cepat. Aku melihat fakta tentang diriku, di masa lalu. Bayangan hitam malam menjelma menjadi film dokumenter sejarah hidupku yang tertayang secara random.

***



[1] Astronot Indonesia pertama sudah ada, yaitu Pratiwi Pujilestari Sudarmono, yang tergabung dalam misi STS-61-H NASA Space Shuttle. Sayangnya semua misi NASA waktu itu dibatalkan sebagai akibat tak langsung dari kecelakan pesawat Challenger tahun 1986.

No comments:

Post a Comment