Thursday, May 31, 2012

Wisuda: Membingkai Kenangan

Atas nama kenangan, manusia seringkali membelanjakan sejumlah besar dananya. Padahal, sebaik apapun kenangan itu terbingkai, manusia tidak akan menjadi abadi karenanya. Dan ekstremnya, kenangan itu tidak dibawa mati kan?

Saat ini, hal yang sedang membayangi pikiran saya tentang satu jenis kegiatan "membingkai kenangan"adalah perayaan wisuda.
Sumber gambar: sttmusi.ac.id


Wisuda hanyalah bentuk yang lebih kompleks dari perpisahan SMA; dengan jubah kebesarannya dan ritual yang tak kalah lebay-nya. Sekarang saya sudah lupa perasaan saya waktu perpisahan SMA. Barangkali perasaan yang sama akan hilang setelah 2-3 tahun kita diwisuda, nantinya. Tapi entahlah, saya kan belum diwisuda.

Tapi, tak bisa kita menolak kenyataan bahwa wisuda itu mahal. Mahal itu tidak hanya berarti sejumlah uang, Kawan. Karena mahal sangatlah relatif.

Begini. Saya teringat sebuah cerita. Intinya, seorang guru SD di suatu pelosok hanya mendapatkan gaji honorer sebatas Upah Minimum Regional. Tentu saja, dengan sejumlah yang diterima itu dia harus membagi-baginya untuk mencukupi kebutuhan menurut prioritasnya. Jika kurang, dan seringkali memang hanya hampir pas-pasan, si Guru ini bekerja sambilan di luar jam mengajarnya. Apapun pekerjaan itu.

Saya juga teringat harga secangkir kopi di suatu kedai yang bahkan gaji si Guru tidak mampu melunasinya. Atau juga seporsi makanan yang disajikan di hotel-hotel berbintang. Namun, tetap ada saja pelanggannya.

Kawan juga mungkin ingat berbagai cerita memilukan ini: menggadaikan sepeda untuk membeli seragam sekolah, menjual sawah untuk kuliah, berpuasa untuk menghemat uang jajan agar bisa beli buku bacaan. Ah, terlalu banyak cerita semacam ini di negeri sekaya Indonesia.

Maka, saya bertekad tidak akan ikut perayaan wisuda jika tidak membiayainya dengan uang sendiri. Jika sampai waktunya saya harus membayar, saya harus mempunyai dana alokasi itu, dan saya yakin akan tercapai. Hanya saja, saya akan berpikir ulang untuk membelanjakan sejumlah uang itu untuk hal semacam itu: iya atau tidak.

Tentu saja, dengan sejumlah uang yang sama, saya dapat membelanjakannya untuk keperluan lainnya. Misal, saya butuh membeli sepeda Polygon Heist 1.0 yang kegunaanya lebih menunjang sekolah dan pekerjaan (Bike to campus and work) dan hobi (Astro-Traveling Indonesia).
Sumber Gambar: polygoncycle.com (edited)

Silogisme dari premis saya barusan memang cukup rumit, tapi mengertilah premis itu tidak berarti "saya akan ikut perayaan wisuda jika saya membiayai dengan uang sendiri". Dapat diterima?

Mungkin pemikiran ini bermula dari ketidakmampuan si penulis dalam perfinansialan. Lalu pemikiran ini bermuara pada kebijakan konservatif yang mulia: tidak menghamburkan uang untuk sesuatu yang kurang faedahnya.

Sungguh sebuah alibi yang membiaskan fakta. Tapi toh, keadaan tersebut justru membuat kita semakin bijak dalam memanfaatkan sumber daya. Maka, nikmat Tuhan manakah yang akan kita dustakan?

Namun demikian, hal penting lain yang harus dipertimbangkan adalah keinginan orang tua untuk menyaksikan anaknya diwisuda. Jelas, ini bukanlah faktor penentu yang dapat dikuantifikasi. Bagaimanapun akhirnya nanti, kebijakan orang tualah yang menjadi hasil akhir keputusan.


Oh, ya. Kata teman saya yang cukup ragu untuk mengikuti wisuda, alasan dia adalah: dia tidak berkuliah dengan serius selama di kampus ini. Kurang lebih, samalah dengan saya. Dari semester 1 sampai semester 5 kemarin, IP saya memperlihatkan trend negatif. Selalu menurun; tak pernah naik. Dari IP cum lauda dan angka tertinggi di kelas (ehem) sampai ikut PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma). Tapi semoga semester pungkasan ini lebih baik dari semester 5. Akhir yang baik. Aamiin.

Oh, betapa uang telah menjadi hakim yang tak pernah adil.

Saya masih mencari pembaca yang satu frekuensi dengan pemikiran ini.

By the way, saya ini pernah menjadi Panitia Wisuda lhooo.

6 comments:

  1. Mabruri. Saat baca ini di samping saya ada teman yang turut membaca blog Mabruri juga...
    Katanya, blog Mabruri enak dibaca, kata-kata Mabruri juga mudah dimengerti.
    Hem.. karena penulis kali ya...^^

    ReplyDelete
  2. Keadaannya hampir sama, cuma lebih ringan. Gaji asisten mau buat apa? daftar keinginan di note hilang apa ikut study tour... he2. Tapi saya pilih keinginan saya yang banyak itu... Lebih membahagiakan. :-)
    Tapi kalau urusannya sama wisuda, mungkin ceritanya akan lain... hehehe... #ga tau juga

    ReplyDelete
  3. info: di bagian akhir postingan ini ada sedikit editan.

    makasih Vin udah setia baca blogku.
    ya begitulah Vin, tapi kalau aku sendiri sih tak masalah ikut atau tidaknya.
    tapi kan keputusan seperti ini seringkali harus mendengarkan pendapat banyak orang selain orang tua (teman kelas, dll).
    hiks

    ReplyDelete
  4. Pernah kepikiran seperti itu juga.
    Satu sisi kayaknya acaranya cuma gitu tapi mahal. Sisi lain ingin mengabadikan momen dan menunjukkan pada orang tua kalau anaknya sudah berhasil lulus.

    Kan kamu pernah jadi panitia wisuda, Mabruri. Dari yang kamu lihat ada nggak sih sesuatu yang spesial dari wajah-wajah wisudawan & orang tuanya?

    ReplyDelete
  5. Kalau saya terus terang saat ini belum ada dana (pribadi) untuk wisuda. Jadi saya serahkan keputusan sepenuhnya pada nenek atau ibu saya.
    Rasanya tak adil lebih berat teman daripada orang tua. Dan alhamdulilah dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, alumni tak begitu menganggap wisuda sebagai bentuk kekompakan yang utama. Setiap orang punya sudut yang berbeda memandang wisuda... :-)


    #semoga Allah berikan jalan nanti. Pengen juga soalnya..hehehe^^

    ReplyDelete
  6. Ahmad Ulin.... (T_T). Selalu deh.

    #Jadi bayangin wisuda nih... huhuhu...

    ReplyDelete