Tuesday, June 5, 2012

Bintaro Maghrib Incident

Malang tak berbau.
Sebuah peribahasa. Artinya, kecelakaan tidak dapat diketahui sebelumnya.

Bakda 'ashar aku bertolak ke Bintaro Plaza demi mengingat kata teman bahwa ada obral buku-buku murah toko Gramedia. Cuci gudang mungkin. Benar adanya. Di sebelah barat laut BP, di tempat yang biasa untuk parkir, juga biasa untuk acara eventual macam bazaar ini, sudah ramai dikunjungi calon pembeli. Wuih, bener-bener cuci gudang.


Sejak tiba di sana sampai menjelang maghrib, aku telah muter-muter dan menjinjing 3 buku: The Hunt for Atlantis (Rp5.000), Ken Arok (Rp5.000) dan Purnama dari Timur (Rp15.000). Aku masih belum beranjak ke kasir. Masih mencari-cari. Dan akhirnya menemukan buku Haji Backpacker 2 (Rp15.000). Jadi, untuk 4 buah buku yang ada di tangan, harganya hanya Rp40.000. Sangat ekonomis, sebenarnya. Tapi aku memilah lagi. Empat puluh ribu memang sangat murah untuk 4 buah buku. Tapi aku berpikir lagi untuk benar-benar menjadikannya bacaan. Haji Backpacker 2 harus kubeli. The Hunt for Atlantis? It's just Rp5.000, why not? Ken Arok, ini pun hanya goceng. Kenapa tidak? Akhirnya kukalahkan Purnama dari Timur, novel yang berkisah tentang Sunan Ampel itu. Dilihat dari ketebalan dan penerbitnya, aku mengira pembahasannya tidak terlalu komprehensif.

Masih sekitar 10 menitan menuju maghrib, masih ada agenda yang belum kurealisasikan: menengok sepatu. Ternyata sedang diskon juga. Berputar sebentar, aku menemukan sepatu yang cukup bagus untuk harga di bawah seratus ribu. Secara, di sebuah plaza ada sepatu seharga itu.

Waktu itu, perasaanku tak menentu. Barangkali, aku adalah orang yang cukup berpikir keras ketika akan membelanjakan setiap rupiah uang. Harus kupikir matang-matang. Tak bisa gegabah, tapi aku merasa jantungku berdegap tidak normal. Sholat maghrib dulu.

Tadi sebelum maghrib, seorang kawan di kos Al Kausar 52 (kos lama) mengirim pesan singkat: Dul, nanti abis maghrib ke kos ya. Ada pempek. Aku mengiyakannya.

Maka, sehabis maghriban, aku menyempatkan menengok lagi sepatu itu. Masih ada. Setelah berdialog dengan si pramuniaga, aku memutuskan untuk membeli sepatu kantor warna cokelat itu. Berharap saat studi lapangan nanti tidak ada keharusan untuk memakai sepatu kantor warna hitam. Yang penting sepatu kantor! Pantofel!

Kupikir, harga Rp89.000 adalah harga yang cukup miring. Bandingannya, ketika dua tahun yang lalu aku membeli sepatu kets di Pasar Tampur, harganya tak bisa turun dari Rp80.000 setelah kutawar-tawar. Ditambah uang transport sebesar Rp8.000 (FYI: alhamdulillah, sepatu itu masih bertahan sampai sekarang setelah mengalami beberapa ketok magic, pengeleman ulang). Belum lagi, membeli barang di pasar harus jeli dalam memilih dan keukeuh dalam menawar. Hampir-hampir, aku tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan keduanya. Maka, aku lebih suka membeli barang berbandrol harga (di toko-toko). Tentu saja, harus menunggu momen-momen diskon, atau benar-benar mencari yang ekonomis.

[sebenarnya ini baru akan masuk inti cerita]

Aku buru-buru menuju parkiran sepeda. Bungkusan sepatu ini terlalu besar untuk dijinjing. Lagipula aku tak ingin kelihatan membeli sesuatu dari BP. Maka, kupaksakan kardus sepatu masuk tas laptop. Benar-benar kupaksakan.

Alhasil, tiga buku dalam kantong kresek itulah yang kujinjing. Mengingat janji berkunjung ke Al Kausar 52 (atau ingat pempek?), aku mengayuh sepeda dengan kencang. Tas kresek berayun-ayun. Dan.... Kejadiannya sangat cepat.

Tiba-tiba aku sudah terkapar di atas aspal dengan muka menempel jalan, tangan kanan secara reflek menyangga tubuh tapi gagal. Mungkin, kejadiannya semacam kodok yang gagal meloncat. Bayangkan, aku terbang melewati setang sepeda. Terjungkir. Mendarat darurat di jalanan beraspal yang sedang ramai lalu lintas. Pipi kananku panas, lecet. Punggung tangan kanan dan lutut juga sama, ada rasa perih.

Aku terdiam menyadari nasibku malam ini. Aku bangkit, meminggir untuk duduk dan berpikir. Sepeda masih terkapar. Ada yang salah dengan diriku di hari ini. Alhamdulillah, aku masih diberi hidup.

Awalnya aku mengira keadaanku demikian parah. Terutama dengan mukaku. Berdarah, segala macam. Seorang juru parkir mendekat. Aku melihat kondisi sepeda. Fork bengkok, ternyata tiga buku dalam plastik itu masuk ke celah antara roda dan batang fork kiri. Beberapa ruji patah. Fork tak bisa kukembalikan ke bentuk semula, roda depan tak bisa berputar.

Kejadian ini seperti terpisah dari kejadian lain. Kecelakaan tunggal. Tidak ada hubungan dengan hal lain, secara kasat. Bahwa terjatuhnya aku dari sepeda tidak ada pengaruh dari lingkungan di luar aku, sepeda, dan tas plastik berisi 3 buah buku. Maka, Allah memang berkuasa atas segalanya.

Wajar juga, tidak ada kerumunan. Hanya seorang juru parkir itu yang mendekatiku. Aku meminta bantuannya untuk melepaskan buku yang terjepit itu, lalu berusaha mengembalikan fork ke bentuk semula. Susah, sepertinya tidak bisa. Terima kasih, Pak. Aku harus menuntun sepeda ringsek ini sampai kos, kupikir. Jaraknya, mungkin masih 2 kilometer (menuju Hasan Kos). Akhirnya, sepeda kutaruh dulu di parkiran sepeda di kampus. Aku berjalan menuju kos Al Kausar 51, bukan 52, untuk meminta beberapa pertolongan. Betadi, tisu, minum.

'Isya, ke Mushola Mujahiddin. Muka dan punggung tangan perih ketika kubasuh. Pulang, langsung ke Al Kausar 52, tepat di sebelah kiri Al Kausar 51. (haha, lucu). Menyantap 3 biji pempek. Kembali ke 51, disuguhi segelas susu dan ngobrol (sedikit diskusi tentang outline studi lapangan juga).

Sebenarnya, malam ini aku ada cara rutin Ahad malam. Fisikku cukup mampu untuk berjalan pulang, berganti pakaian, lalu berangkat lagi. Tapi entahlah, aku masih gugup. Mungkin ada trauma. Psikisku masih bergelombang, sepertinya. Akhirnya aku meninggalkan tanggung jawab itu, padahal aku membawa tape recorder untuk merekam kegiatan malam ini, ada pula janji dengan seorang teman.

Lalu hikmah apa yang bisa diambil dari insiden ini.

Sebaiknya, waktu maghrib itu tidak usah pergi ke mana-mana. Waktu astronomical twilight (yaitu sepanjang waktu maghrib di Indonesia) ini memang rawan. Sandikala, kata orang-orang tua. Pergantian siang ke malam, setan suka dengan momen ini, demikian kata-kata yang menuntun anak-anak kecil untuk masuk ke rumah atau pergi ke mushola, dulu.

Ada lagi. Bahwa, apapun bisa terjadi pada diri ini. Maka, usahakan untuk mempersiapkan diri berbuat baik, yang terbaik.

Kata Shalahuddin al Ayyubi:
Bukan kita yang memilih takdir
Takdirlah yang memilih kita
Bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah
Kita selalu harus mencoba membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat.

Ya, kita harus bersiap-siap sebaik mungkin, lalu hasilnya memang terserah kepada Yang Menentukan.

4 comments:

  1. Innalilahiwainnailaihiroji'un... Semoga Mabruri cepat sembuh ya... Lain kali lebih berhati-hati...

    Itu ujian Mabruri. Ternyata Mabruri masih sabar..Di saat seperti itu, Mabruri masih dapat mengucap syukur padaNya.. :-)


    Oya, buku Ken Arok itu karangan siapa?

    ReplyDelete
  2. hohoho..ati2 masbro,,.
    sukses buat PKL-nya :p

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. @Pramadya: iya makasih ya, ini udah sembuh.
    penulis buku Ken Arok: Gamal Komandoko.

    @Mas Anjar: yoo..suwun..

    @pakdhe: deneng dihapus komene, Pakdhe?

    ReplyDelete