Tuesday, July 17, 2012

Ekspedisi Tenggara Jilid 2

Ekspedisi Tenggara Jilid 2 masih tentang mengundang saudara, bukan sekedar mengantar surat undangan.

Seperti 3 tahun yang lalu ketika aku baru lulus SMA, aku mendapat tugas mengundang saudara-saudara, bukan sekedar mengantarkan surat undangan, di desa tetangga untuk menghadiri Khataman Madrasah Diniyyah Al Kaafiy Desa Murtirejo.



Sebenarnya,aku tidak termasuk ke dalam pemuda yang diundang untuk rapat pengarahan malam Sabtu. Temanku menghampiri rumahku sebelum berangkat. Dan, sebagai 'alumni', aku ingin memberikan sesuatu untuk almamater.


Waktu itu baru lepas maghrib sedangkan rapatnya akan dimulai pukul 8 malam (yang tertera pada undangan). Temanku dan aku memperoleh tugas khusus sehingga kami harus sowan dulu ke dalem pak Kyai Saebani. Di sana sudah ada Pak Saebani dan beberapa orang. Di sudut ruangan ada meja kecil berisi tumpukan undangan. Aku mencurigai tugas khusus itu adalah membagikan undangan. Oh bukan, maksudku mengundang saudara-saudara berdasarkan undangan dengan dilampiri surat undangan itu. #Ah, ribet amat.

Lalu aku memilih tumpukan undangan desa Sidomoro. Dasarku memilih tumpukan ini hanyalah berdasarkan fakta bahwa aku pernah mengundang saudara-saudara di desa itu untuk hal yang sama 3 tahun yang lalu. Aku berharap pengalaman itu akan banyak membantu. Kenyataannya, ya, lumayan membantu.

Singkat cerita, berangkatlah tadi pagi Sabtu Pahing menuju arah tenggara. Intermezo: Sabtu Pahing adalah hari yang sangat tua. Seingatku, dalam primbon, Sabtu mempunyai angka 9 dan pahing mempunyai angka 9. Kombinasi Sabtu dan Pahing adalah kombinasi yang menghasilkan jumlah angka paling tinggi. Konon, anak yang lahir pada hari Sabtu Pahing akan menjadi anak bandel. I don't know the fact nor the science truth. Setahuku, hari adalah garis waktu yang dipotong-potong ke dalam periode 24 jam. Masalah pengulangan nama setelah hari ke-7, aku tidak tahu hubungannya dengan fenomena alam. But, God knows.

Tentu saja, kami menggunakan metode door to door sales marketing. Atas nama unggah-ungguh (keramahtamahan), kami mengetuk puluhan pintu, mengucapkan salam, dan mengulang kata pengantar yang sama untuk setiap surat undangan. Mungkin sekitar 80-100 surat undangan kami bawa.

Seperti apa kata pengantar yang selalu aku yang mengucapkan itu? Setelah basa-basi menanyakan kabar, tentu dengan bahasa Jawa krama inggil, aku pun memutar pita rekaman yang sama:

Sasampunipun kepanggih kaliyan Bapak, kulo sakonco sowan mriki sepindah silaturrohmi. Kaping kalihipun, kulo saking Panitia Khataman Madrasah Diniyyah Al Kaafy Murtirejo ngaturi Bapak [nama] supados angrawuhi khataman ing dinten Senen enjing. Punika undanganipun.

Demikianlah adanya. Tak perlu diterjemahkan kiranya. Tapi remakan ini tidak kaku. Dalam penerapannya, sering beberapa kata terlewat tanpa mengubah inti pembicaraan. Juga seringkali ditambahi dengan obrolan-obrolan ringan.

Hampir-hampir, kami menyusuri setiap inci tanah Sidomoro. Desa Sidomoro terbagi menjadi 5 Rukun Warga (pedukuhan) dengan nama berurutan sebagai berikut: Tukum, Aren, Dimara, Sengon, dan Kandhangan. Bagiku, nama-nama itu sungguh kuno yang sebenarnya tidak jauh beda dengan nama-nama pedukuhan yang ada di desaku. Haha. Tapi, Murtirejo sungguh berbeda dengan Sidomoro. Desaku lebih kota. Nyatanya, secara administratif, Murtirejo termasuk ke dalam kecamatan Kebumen yang merupakan pusat Kabupaten Kebumen sedangkan Sidomoro termasuk kecamatan Buluspesantren.

Sebagian besar masyarakatnya adalah petani. Tapi sekarang adalah masa tunggu padi menguning. Artinya, musim menganggur. Para perempuan mempunyai pekerjaan sambilan, yakni ngleles, yang juga pernah populer di desaku di atas 10 tahun yang lalu. Barangkali itulah jarak Murtirejo dan Sidomoro dari sisi ekonomi meski jarak sesungguhnya hanyalah satu areal luas persawahan (sekitar 1km). Sedangkan pekerjaan para lelaki di musim mengganggur ini adalah mengunduh kelapa untuk dijual.

Selain itu, kesunyian masih mendominasi atomosfir Sidomoro. Pekarangan menjadi pemisah antarrumah. Ketika malam, sepertinya kegelapan mencapai setiap sudut kehidupan desa. Dan, mungkin langit akan terlihat sangat cantik. Tapi pepohonan masih cukup tinggi yang mungkin menghalangi pemandangan ke atas.

Ah, barangkali di Murtirejo 'pedalaman' juga semacam di Sidomoro. Maksudku, rumahku yang berada pada jalur ramai sungguh sangat berbeda dengan daerah Murtirejo yang aksesnya hanyalah jalan setapak. Pendapatku di atas sangat subjektif dan begitu terpengaruh dengan kondisi rumahku yang berada di tepi jalan yang biasa dilewati truk dan Colt.
:
Tentu saja, warga Sidomoro yang mendapat undangan hanyalah orang-orang tertentu saja. Barangkali 1 dari 10 nama yang tertulis di undangan ada gelar yang mengawali nama, yaitu tulisan "K" atau "Kyai". Berarti jika undangan yang kami bagikan itu ada 100, sepuluh orang di antaranya adalah "Kyai", baik itu pengasuh langgar (mushola) maupun masjid. Tapi kupikir, tidak hanya sepuluh aku mendapati 'label' kyai itu. Mungkin 15 atau 20 jumlahnya. Selain dari itu adalah guru, saudara, pamong desa, dan sebagian kecil 'orang biasa'.

Tentang 'label' kyai yang disematkan pada beberapa nama, aku sesungguhnya merasa tak sreg. Entahlah, pokoknya nggak ngeh saja. Seakan-akan itu adalah sebuah kasta tertentu pada masyarakat. Bagaimanapun kenyataan di lapangan membuktikan bahwa mereka yang berstatus 'kyai' begitu disegani di masyarakat. Demikian juga yang terjadi di desaku.

Barangkali aku memang telah terkena arus modern. Tapi aku yakin masih cukup waspada untuk menyaring apa-apa yang memasuki otakku. Di kampung-kampung, bagi masyarakat, jika dia bukan NU, maka dia Muhammadiyah. Dan, aku bukan Muhammadiyah dan tidak pula suka dengan golongan yang merasa benar sendiri. Tapi tidak pula aku menjalankan tradisi ke-NU-an. I take the substantion, not the form of tradition. Bagaimanapun, tradisi harus berubah, tapi tidak dengan substansi. Bagaimana bisa tradisi dipertahankan bila sudah menjauh dari substansi?

Menurutku, modernisasi dalam agama masih mendapat stigma sebagai ajaran sesat. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak benar. Barangkali, penetrasi agama ke dalam masyarakat zaman dulu masih terlalu sedikit. Dan kondisi serba-kurang ini masih dipertahankan hingga kini. Masyarakat menjadi resisten terhadap pengetahuan agama yang datang kemudian dengan memberi label umum sebagai ajaran sesat. Maka, tak heran bila para perempuan hanya memakai hijab (jilbab, kerudung) hanya untuk acara-acara tertentu: pengajian, kondangan, arisan, mengambil rapot, dan lebaran.

Begitupun dengan banyaknya pesantren yang ada dengan jumlah santri yang cukup membanggakan, tidak berarti ada perubahan mendasar yang terjadi. Para lelaki selalu menyertakan rokoknya ke mana mereka pergi dan masjid sama sepinya. Bahkan, dalam satu rumah, sholat pun dilakukan dengan sendiri-sendiri secara bergantian. Mungkin bagi mereka, sholat jamaah hanya ada di masjid atau mushola dan diimami oleh sang kyai.

Ok then. Sepertinya pembicaraan akan berlanjut tentang golongan-golongan dalam agama Islam yang seringkali membuat hati ini ngilu, prihatin, sekaligus linglung. Sila ikuti blogpost berikutnya.

No comments:

Post a Comment