Monday, July 30, 2012

Gendhu-Gendhu Rasa: Ragil

Kedhini-kedhana adalah penamaan untuk anak di dalam keluarga yang hanya terdiri dari 2 orang: perempuan dan laki-laki. Ketika sebuah keluarga sudah dikaruniai anak dengan perempuan dan laki-laki, maka terasa sempurnalah mereka. Hanya dua anak sudah lengkap komposisinya: satu perempuan dan satu laki-laki.

Namun, ketika para anak ini beranjak dewasa dan mengetahui keadaan yang ada, ternyata 2 saja tidak cukup. Apakah ini masalah? Bukan. Ini adalah keadaan yang perlu disikapi dengan tepat.


Mbakku yang sejak SMA sudah merantau ke Jakarta, sekarang pun masih bekerja dan kuliah di sana. Aku juga, mulai tinggal di luar Kebumen sejak kuliah. Dan, setelah kuliah nantinya, aku terikat kontrak ikatan dinas dengan Kementerian Keuangan. Artinya, aku pun masih akan melanjutkan hidupku jauh dari Kebumen.

Bagiku, mbak Arum lebih dari baik untuk dikatakan sebagai kakak teladan. Perjuangannya terlalu luar biasa daripada aku yang bungsu dan manja. Bakti kepada orang tua melebihi batas-batas yang mungkin pernah dilakukan oleh seorang anak perempuan untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Maka, ketika nanti tiba saatnya mbakyu menikah (mungkin sebentar lagi), akulah yang seharusnya menemani mama-bapak. Tidak boleh tidak.

Aku tahu, ada rasa ingin pada diri mbak Arum untuk tinggal di Kebumen, bersama orang tua. Tapi, bagaimanapun, sebagai seorang istri nantinya, dia berada pada 'kuasa' sang suami sepenuhnya. Bahkan untuk menjenguk orang tua, ia harus mendapat izin suami. Demikian seharusnya. Dia harus mendahulukan kepentingan suaminya di atas kepentingan orang tua. Meski Mbak Arum nanti akhirnya tinggal di Kebumen, aku tetap harus menemani hari tua orang tua.

Maka, seharusnya aku tinggal di Kebumen saja. Tapi, demikian keadaannya.

Kantor Kementerian Keuangan yang ada di Kebumen hanyalah KPP Pratama. Satu-satunya kantor pajak yang ada di Kebumen ini berada di bawah Dirjen Pajak (DJP). DJP sendiri memiliki kantor pajak di setiap penjuru Indonesia sampai ke tingkat kabupaten/kota. Maka, aku berharap tidak ditempatkan di DJP. Hampir-hampir tidak mungkin untuk bisa bekerja di Kebumen sebagai PNS Kemenkeu. Kalaupun bisa, hanya beberapa tahun saja. Selain itu lebih banyak kemungkinan berada jauh dari Kebumen. Kecuali, jika kebijakan mutasi pegawai hanya selingkup wilayah Jawa Tengah bagian selatan dan ditempatkan di wilayah itu (berapa kemungkinannya?].

Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan ibu kota. Namun, di antara pilihan yang ada, ibu kota adalah alternatif yang lebih baik. Jika aku ditempatkan di kantor pusat, di Jakarta, aku bisa sering pulang ke Kebumen dan orang tua memungkinkan untuk pergi ke ibu kota. Biyungku juga berharap demikian. #doaibu

_awal Juli lalu.

No comments:

Post a Comment