Tuesday, July 17, 2012

Open-Full Disclosure: Devide et Impera

Banyak orang 'mengidolakan' Gus Dur. Dalam beberapa hal, aku pun iya. Dalam beberapa hal lain aku pun meragukan kapasitasnya. Untuk hal berikut, aku kecewa dan sangsi.

Sebagai seorang ulama panutan, beliau sendiri tidak memberi contoh yang baik. Setahuku, semua anak perempuan beliau tidak menutup auratnya dengan sempurna. Bahkan istrinya hanya mengenakan kerudung selayaknya perempuan desa. Barangkali, beliau berlaku sekuler untuk keluarganya, memberi kebebasan kepada mereka. Padahal, seorang pemimpin dalam rumah tangga seharusnya menjaga keluarganya dari api neraka.



How could it be? However, so much thing I can learn from him. He said that not to learn about syariah only. Ya, I learn tasawuf. Guru mengajarkan kami Kitab Al Hikam, kitab tasawuf yang (mungkin) paling banyak dibaca orang (FYI: hampir di setiap pesantren di Indonesia diajarkan kitab ini. Kitab ini pun dipelajari Azzam KCB sewaktu kuliah di Al Azhar Mesir:D). Dan guruku telah memilah-milah mana yang sebaiknya dipahami oleh murid-muridnya. Aku pun hanya mengambil sisi spiritualnya, bukan ritualnya.

OK. Sedikit-sedikit aku ingin mencoba mengungkapkan pikiran-pikiranku. Bagaimanapun, aku tidak ingin menyimpannya sendiri. Aku akan sedikit blak-blakan. Open-Full Disclosure.

Bagaimanapun aku mengatakan bahwa aku kecewa dengan NU, di bajuku tertera tulisan: Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin. Ya, ini adalah organisasi keagamaan yang selama di kampus ini kuikuti. Sejatinya, aku mengikuti organisasi ini hanya karena ingin mengaji kitab-kitab yang biasa dikaji di pesantren. Tapi aku tidak pernah menjadi santri di pondok pesantren. Hanyalah madrasah biasa di kampung, sangat jauh berbeda dengan dunia pesantren. Maka, secara tidak langsung, aura NU menyelimutiku tapi bukan berarti mengalir bersama darahku.

Aku pun mengikuti organisasi keagamaan di dalam kampus (meski sebagai staf gadungan, barangkali). Dan, sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa masjid-masjid kampus di Indonesia telah dikuasai oleh orang-orang PKS. Bergaul dengan mereka, aku bisa sedikit membaca tentang PKS. Jujur, aku tidak suka dengan PKS. Juga dengan ideologi-ideologi yang berbahaya dari Salafy, HTI, JIL, dsb.

Aku sendiri kecewa dengan NU. Para pengikut NU cenderung fanatik dengan kenyentrikan para petingginya. Seolah-olah tunduk-taklid dengan semua kebijakan mereka. Seperti pemaparanku mengawali tulisan ini, Gus Dur sangat diidolai oleh orang-orang NU. Begitu juga dengan tokoh NU yang lain. Aku jadi mengira-kira kalau tokoh-tokoh NU memang hobi bertingkah nyentrik daripada bertindak wajar (dan orang NU bangga dengan hal ini).

Aku cenderung rasional dan logis dalam menentukan pilihan (khas otak kiri). Aku tidak mengatakan bahwa berziarah itu bid'ah, apalagi sesat. Hanya saja, aku sangat jarang melakukannya. Beberapa kali aku memang pernah. Tapi yang aku heran adalah mereka yang menghabiskan banyak dana untuk berziarah ke makam-makam wali, sampai keliling Jawa Tengah-Jawa Timur. Secara tersirat, jelas dana-dana itu lebih baik dibelanjakan sebagai sedekah atau infaq. Jika tujuan berziarah itu untuk mendoakan mereka, dari rumah pun sampai (FYI: Ibnu Taimiyah pun tidak menyalahi ini). Jika niatnya untuk mengingat mati, tidak harus dengan dana yang sedemikian besar kan?

Fenomena ini memang sangat kental bagi orang-orang NU. Tidak hanya bagi masyarakat 'awam', teman-teman mahasiswa yang NU pun demikian. Termasuk tradisi ke-NU-an yang umum seperti tahlilan, maulidan, dsb. Lagi-lagi, aku tidak mempunyai hak untuk mengatakan bahwa itu bid'ah dan sesat. Tapi aku mempunyai sisi lain yang kupertimbangkan. Misalnya, aku pernah tahu mereka yang fanatik dengan maulidan, berbondong-bondong mendatangi majelis maulid meski tempatnya jauh. Sedangkan masjid di kampungnya yang sedang mengadakan kajian ilmu ditinggalkannya. Bukankah cukup untuk bersholawat dalam keheningan malam (Jumat) di kamar sendiri yang sepi?

Selain NU, organisasi masyarakat bentukan ulama lokal adalah Muhammadiyah yang nota bene didirikan oleh kawan seguru pendiri NU. Mbah Hasyim As'ari dan Mbah Ahmad Dahlan adalah murid seorang kyai di Bangkalan (kok aku lupa namanya ya, search di Google aja deh). Tingkah laku Muhammadiyah yang paling mencolok akhir-akhir ini adalah perbedaan penetapan tanggal bagi permulaan Ramadhan, idulfitri, dan iduladha. Bagaimanapun, menyimpangi keputusan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan yang sah (dalam hal ini penetapan hilal dsb) tidak bisa dibenarkan.

Lalu, PKS. Aku masih menganggap NU dan Muhammadiyah sebagai produk lokal dan tradisional. Keduanya telah lama berdiri di Indonesia. Belum lama, muncullah PKS yang turut berideologi seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir sana. PKS dengan cepat menginfiltrasi kaum intelektual muda Indonesia melaui kampus-kampus. Banyak pendapat mengatakan, mereka yang cerdas tapi tidak dibekali pengetahuan agama dari rumahnya, dengan mudahnya kesengsem dengan PKS. Dan anehnya, segera saja mereka menjadi sangat militan.

Agenda PKS yang boleh dibilang paling besar adalah meng-Islam-kan Indoensia. Bagiku, hal ini tidak masalah. Kenapa? Karena negara adalah bentukan manusia. Pancasila dan UUD 45 pun buatan manusia. Al Qur'an adalah firman Allah yang tiada keraguan di dalamnya. Maka, ialah pedoman manusia hidup, termasuk bernegara. Namun, sepanjang Pancasila dan UUD 45 tidak bertentangan dengan Al Quran, kenapa harus dihapuskan? Yang penting adalah bagaimana penerapan syariah Islam oleh penguasa tanpa merugikan umat non-Islam.

Aku malah melihat hal yang lebih besar dari sekedar meng-Islam-kan Indonesia. Dan ini adalah hal yang sangat berbahaya. Aku melihat bahwa ada informasi yang tidak terbagi secara adil dan merata pada tubuh PKS secara hierarkis. Ada ketidaksingkronan antara aktivis pelaksana pada tingkatan bawah dengan para pembuat kebijakan di pucuk pimpinan. Barangkali, ada pengatur irama pada organisasi sebesar dan serapi PKS, dan PKS sendiri tidak menyadari itu, apalagi aktivis mahasiswa yang baru ikutan. Aku takut si pengatur itu adalah orang (atau badan) non-Islam yang berniat mengadu-domba umat Islam.

Berlanjut. Salafy-Wahaby mencoba mengkiblatkan budaya Indonesia kepada Arab Saudi, bukan sekedar Islam. Banyak pendapat yang memaparkan ini. Yang jelas, tidak semua yang Arab itu Islam, kan? Pakaian Islam adalah menutup aurat. Tidak terpaku pada suatu model tertentu. Stereotip yang ada adalah umat Islam yang memakai sarung adalah muslim tradisional (berarti sebagian besar NU dan sebagian kecil Muhammadiyah). Mereka yang menggunakan celana cungklang atau berjubah adalah Salafy-Wahaby, juga PKS, HTI, dsb.

Stereotip tersebut sungguh tidak adil dan sangat jauh dari substansi. Hingga akhirnya hanyalah menjadi pemecah belah umat. Padahal, para ulama tradisional Indonesia pun memakai jubah yang kainnya tidak menjuntai melebihi mata kaki. Lihat saja ilustrasi walisanga dan ulama-ulama pada masa awal penyebaran Islam di Indonesia. Pakaian sarung, baju koko, dan kopyah pun telah cukup menutup aurat muslimin. Hanya saja, kemudian lambat-laun model pakaian seperti itu telah menjadi budaya yang mencirikan identitas. Yang terjadi kemudian adalah sikap saling-anti antargolongan.

Sama juga dengan pakaian yang sekarang diidentikkan dengan Salafy-Wahaby. Mereka mengakui celana cungklang dan jubah adalah pakaian umat Islam. Itu tidak salah. Hanya saja, itu menjadi rancu ketika mereka mengklaim bahwa hanya model pakaian seperti itulah cara Islam berbusana. FYI: Banyak ulama yang mengatakan bahwa tidak ada hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah itu memiliki tanda hitam-legam di jidatnya.

Begitu juga dengan fenomena fanatisme terhadap golongan sendiri sekaligus anti terhadap golongan lain pada umat NU, Muhammadiyah, PKS, Salafy, dsb. di Indonesia. Seolah-olah semuanya saling berkompetisi dalam kebenaran tanpa melihat saudara satu agama. Dan, saling menjatuhkan dan bukannya memusyawarahkan yang paling baik bagi semua. Masing-masing mempunyai misi yang dijunjung tinggi dengan tidak adanya rekonsiliasi dan kompromi.

Mungkin sepotong perkataan Ali bin Abi Tholib bisa dikutipkan di sini, meski berbeda konteksnya, tapi sangat cocok denganku: Di antara golonga-golongan itu, di manakah aku? Maka, aku turut setuju dengan perkataan seorang teman: kita perlu mendalami agama kita dulu (daripada mendebatkan di antara golongan-golongan). Lalu, kembali muncul sebuah tanya: kepada siapa aku akan berguru?

Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa tidak cukup men-judge seseorang dari organisasi yang diikutinya, dari warna bendera partainya, dari cara ia berpakaian. Penilaian kembali kepada individu masing-masing. Toh nanti di akhirat masing-masing manusia akan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Memang, ada pula penggolongan-penggolongan di akhirat kelak. Aku berdoa semoga Allah mengumpulkan kita bersama orang-orang yang sholat berjamaah dan melakukan sunah-sunnah Rosul. (tidak bersama golongan/kelompok/partai tertentu, bukan?)

Dan demikianlah aku dan pemikiranku.

PS: Tulisan ini jelas tidak bisa dikatakan objektif.

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Karena sudah jam 4, waktunya nyiapin buka puasa, saya simpan dulu bahasan Mabruri yang satu ini. hhe...
    Saya ingin membacanya lebih seksama.

    Behind Pramadya

    Aku senang jika Mabruri mau berkunjung.

    ReplyDelete