Friday, July 20, 2012

Self-Healing: Melankolis yang Sempurna

Jadi ini yang membuatku menetapkan standar tinggi, berpikir keras, memperhatikan detail, cenderung murung, dan suka mengorbankan diri untuk orang lain?


Rupanya aku 75% Melankolis dan 25% Plegmatis (anggap saja simpelnya begitu). Campuran Melankolis-Plegmatis adalah campuran alami sebagaimana watak campuran Sanguinis-Koleris.



Beberapa kekuatan Melankolis (kupilih yang lebih sesuai; mengingat aku hanya 75% melankolis)
Mendalam dan penuh pemikiran
Alalitis
Cenderung jenius
Berbakat dan kreatif
Filosofis dan puitis
Suka berkorban untuk orang lain
Idealis dan menetapkan standar tinggi
Ekonomis

Beberapa kekuatan Plegmatis (sesuai dengan 25% Plegmatis)
Punya kemampuan administratif
Menghindari konflik
Simpatik dan baik hati
Pendengar yang baik

Kelemahan Melankolis
Pendendam
Pesimis
Mudah depresi
Introvert
Penyendiri
Skeptis (tidak mudah percaya)

Keleahan Plegmatis
Mudah khawatir, sedih, dan gelisah

Tapi, setelah kupikir-pikir, ada kelemahan-kelemahan lain yang terdapat pada diriku dan -sepertinya- tidak berhubungan dengan sifat-sifat watak, atau setidaknya tidak berhubungan langsung. Adalah sifat pemalu yang berlebihan dan seringkali tidak pada tempatnya.

Aku pun merasa memiliki sifat-sifat 'autis' -tentu saja- karena menurutku semua orang memiliki sifat autis dalam dirinya. Sifat 'autis' ini adalah sifat di mana seseorang merasa wajar dengan suatu tindakan/sifat/sikap tetapi sama sekali tidak wajar bagi lingkungan sekitar. Susah memang dijelaskan. Namun, cobalah kawan merenungkannya. Ingat juga, tidak ada orang yang benar-benar normal.

Jujur aku pernah 'bermasalah' dengan orang yang (menurut pengamatanku) berwatak sanguinis. Bagaimanapun aku menyesali ini, masa lalu takkan terhapus. Luka memang bisa sembuh, tapi bekasnya tetap ada.

Yang jelas, itu sebagai pengalaman. Waktu itu aku tidak tahu tentang pengelompokkan watak-watak. Maka, aku pun belum paham bahwa aku melankolis dan dia sanguinis. Aku hanya tahu bahwa aku tidak cocok dengannya dengan perbedaan yang ada. Aku seorang yang serius, detail, dan murung sementara dia seorang yang suka bersenang-senang, kurang cermat, dan periang. Waktu itu aku merasa bahwa kami tidak bisa menjalin hubungan lebih lama dan dekat. Padahal itu alibi. Mungkin aku cemburu dengan kepiawaiannya bergaul dan sedikit tak malu untuk meminta. Sementara aku penyendiri dan idealis.

Oh ya, menjalin hubungan lebih lama dan dekat tidak selalu berarti in relationship, engaged, apalagi married. Karena dia bukan seorang perempuan. Suatu keadaan mengharuskan aku berdekatan dengannya secara spasial, tetapi tidak pernah secara emosional.

Sekarang aku malah menyadari, seperti kata penulis buku Personality Plus bahwa orang Melankolis perlu orang Sanguinis yang popular untuk menggembirakannya. Jika suatu saat aku harus menjalin hubungan lebih lama dan dekat dengan orang Sanguinis, aku telah belajar dari pengalaman untuk tidak menyia-siakan orang Sanguinis yang ingin menggembirakan kemurungan orang Melankolis. Begitu juga dengan Melankolis yang akan sedikit memberi keteraturan bagi orang Sanguinis.

Kecenderungan lain watak Melankolis yang Sempurna adalah perasaaan rendah ini. Padahal, watak melankolis mempunyai potensi untuk menjadi luar biasa. Nah, kehadiran watak Sanguinis bisa membantu orang Melankolis untuk memastikan terealisasinya potensi itu dengan sifat optimis dan penuh semangatnya.

Dan tenang saja, sebagai seorang melankolis, aku filosofis, puitis, dan menghargai keindahan. Maka, tak perlu khawatir akan kekeringan romantisme :-)

1 comment: