Monday, July 2, 2012

Tenggara

Aku mempunyai stereotip ngawur perihal arah. Arah barat adalah kemegahan sekaligus keterpurukan. Timur adalah kesopanan dan kebodohan. Utara adalah kemajuan dan kebebasan (kelewat batas). Selatan adalah kesahajaan dan kemiskinan.

Tenggara adalah south-east. Maka, tenggara adalah kesopanan, kesahajaan, kebodohan, dan kemiskinan. Dan, Indonesia adalah sebuah negeri paling selatan dan paling timur dari Asia Tenggara. Jadi?




Jadi? Entahlah. Siang ini listrik mati. Apa yang bisa dilakukan dengan laptop jadul ini jika tanpa listrik? Lagipula siang ini sendirian di rumah kecil ini. Tak ada teman bermain sepantaran; hanyalah para keponakan yang sedang libur sekolah di kanan-kiri rumah.

Maka, bersepedalah aku menuju pinggiran desa Murtirejo di sebelah timur laut (north-east). Di pedukuhan inilah berdiri berpuluh-puluh pabrik genting. Maka, desaku memang desa industri di samping juga desa pertanian.

Desa Murtirejo tempat aku pertama kali menangis ini adalah salah satu desa terluar dari kecamatan Kebumen di sisi selatan. Kecamatan ini sendiri adalah pusat Kabupaten Kebumen (ibu kota kabupaten). Dengan demikian, desa Murtirejo secara tidak langsung berada pada kondisi kepemerintahanan yang lebih dekat dengan pemerintah kabupaten. Selain itu, posisinya berada di dekat jalan lingkar selatan kabupaten yang merupakan jalur utama penghubung antarkota antarpropinsi (AKAP). Pintu gerbang masuk desa pun menghadap langsung jalan cabang dari jalur lingkar selatan ini. Jalan tersebut malah menghubungkan jalan lingkar selatan dengan jalan alternatif Cilacap-Jogja. Dan kini, RSUD (lokasi baru) Kebumen sedang dibangun di jalan lingkar selatan itu, alias tepat berada di utara desa Murtirejo. Bahkan, tembok belakang RSUD ini menyentuh jalan desa Murtirejo di bagian utara. Jadi, secara geografis, desaku memang berada pada silang keberuntungan.

Dengan kondisi ini, aku merasa bahwa desaku sedikit "lebih kota" ketimbang desa tetangga di sebelah timur dan selatan. Ini telah menjadi semacam paradigma pribadi tentang daerah-daerah pelosok. Ya, bagiku, daerah yang lebih tenggara dari Murtirejo adalah daerah terpencil, gelap, dan agak primitif. Agar paradigmaku tidak menghasilkan kesimpualan yang mengada-ada, let me check this out.

Dari ujung timur laut Murtirejo aku menuju Desa Depokrejo melalui bulak (jalan di tengah areal persawahan). Aku segera mendapat efek pelepasan. Serasa sedang pergi dari semua keterikatan. Bahkan, hampir-hampir aku pergi dari keakuan diri sendiri. Karena aku seperti tidak membawa beban pergi ke tempat terbuka ini. Hawa kesegaran segera melingkupi. Sawah adalah tempat rekreasi yang asyik, sebenarnya. Maka, masyarakat petani memang golongan manusia yang bersahaja adanya.

Mencoba melalui jalan-jalan sempit, jalan setapak, aku menawarkan diri untuk berkenalan kepada setiap lingkup kecil kehidupan. Ruang yang asing untuk waktu yang berulang. Ya, waktu memang tak mungkin berulang. Tapi rutinitas terlalu memakan banyak porsi kehidupan. Maka, berjalan-jalan menyusuri perkampungan bisa membuka cakrawala pemikiran. Bahwa hidup ini begitu luas, dan tak terduga.

Dari Depokrejo menuju Sidomoro. Sebenarnya, aku tak tahu batas-batas wilayah antardesa. Pun aku tak tahu nama-nama pedukuhan yang kulewati. Tapi aku pernah melalui jalanan ini, 4 tahun yang lalu, di bulan yang sama: Sya'ban. Kenapa aku bisa seingat itu? Iya, soalnya waktu itu aku bersama seorang teman ditugasi untuk membagikan undangan khataman dari Madrasah Dinniyah Al Kahfi, madrasah tempatku mengaji waktu itu.

Aku mencoba jalan yang lebih asing, lingkungan yang sepi, terpinggirkan, dan memang agak horor bila sedikit saja aku lebih sore melewatinya. Juga lebih jauh dari "peradaban". Barangkali, di sini, mencapai pendidikan adalah kemuliaan dan "sangat barat". Selebihnya adalah kehidupan berdasarkan insting: makan dan kawin. Barangkali, untuk mencukupi makan pun masih berburu dan meramu. Ups. Rasanya sudah keterlaluan pemaparanku barusan. Maksudku, cara berpikir orang di pedalaman desa masih sangat sederhana. Tidak muluk-muluk. Hidup itu tidak jauh-jauh dari makan tiga kali sehari, bersawah di siang hari, merumput sore hari, ngaji bakda maghrib, dan segera tidur.

Namun, gaya hidup yang ditampilkan kawula muda terhitung mengikuti gerak zaman. Terang saja, televisi telah menjangkau sudut sempit Kebumen. Maka, apa yang ada di ibu kota negara telah sampai di pedalaman desa dalam hal fashion. Hal ini membuatku pesimis dengan wanita desa yang lugu dan pemalu. Pendapat bahwa perempuan desa itu lugu, ayu, dan tipikal keibuan tidak lagi relevan.

Aku tidak mengatakan bahwa orang-orang desa berkekurangan. Justru, mereka sejahtera adanya. Sebagian kecil memang terseok-seok, tapi sebagian kecil yang sama juga berlimpahan secara finansial. Hanya saja, sistem transfer kepemilikan material tidak berjalan mulus, sepertinya. Kepedulian akan kemiskinan masih belum menyentuh sanubari warga. Ada segan, ada malu. Keduanya tidak akan mempertemukan dua kebutuhan yang seharusnya saling melengkapi.

Dalam hal keagamaan, secara umum penduduk desa memang masih gitu-gitu aja. What should I say? Maksudku, masjid dan mushola berdiri cukup teratur. Tidak terlalu jauh dari jangkauan, tidak pula terlalu banyak. Beberapa malah ada pondok pesantren. Tapi, ya gimana ya nulisnya. Ya gitu. Ah, gini, contoh mudahnya adalah para perempuan desa yang tetap berpakaian sebagaimana adanya. Tidak benar-benar menutup aurat sebagaimana mestinya. Sesungguhnya, pembaharuan perlu ada. Tapi, aku sendiri tak tahu caranya. Bahkan, untuk lingkup kecil pun aku tak bisa memberikan pengaruh. Aku berharap, dalam jangka panjang, semakin ada perbaikan.

Haruskah aku mengikutsertakan NU, Muhammadiyah, Salafy, dll dalam pembahasan ini?

Baiklah, sedikit saja. NU, Muhammadiyah, Salafy (setidaknya ini saja yang perlu disebut) cenderung memliki pengikut sesuai pola pikir golongan itu. Hampir-hampir, masyarakat secara luas di pedesaan adalah orang NU. Maka, masyarakat menjadi resisten terhadap golongan selain itu. Saat ini, Salafy diikuti oleh orang-orang kota dan modern. Kalau aku bilang sih, orang-orang Muhammadiyah itu peralihan.

Aku tidak mengatakan soal benar atau salah, tetapi lebih kepada pendekatan seperti apa yang dilakukan masing-masing golongan. Menurutku sih, masing-masing golongan perlu memodifikasi pendekatannya untuk mempersuasi masyarakat. Awal kehadiran NU (ini menurutku lho ya) cenderung sebagai batu loncatan untuk mempersiapkan masyarakat Kejawen berhijrah kepada Islam. Makanya, NU cenderung tidak menghapus budaya lokal meski nuansa Kejawennya masih kental. Seiring dengan kedewasaan masyarakat, komunikasi dan informasi yang semakin lancar, seharusnya NU turut memperbaiki sepak terjangnya.

Muhammadiyah datang menawarkan pembaharuan. Dengan tergopoh-gopoh, ini-itu serba ingin diubah. Masyarakat diajak untuk berlari sementara mereka berjalan masih terseok-seok. Malah, Muhammadiyah seperti beroposisi terhadap NU. Meski Hasyim As'ari dan Ahmad Dahlan adalah dua tokoh yang saling memahami, tidak begitu dengan para pengikutnya.

Lalu Salafy (dan sejenisnya) datang dengan ambisi ingin memurnikan. No excuse. To the point. Pendekatan ini sangat bersilangan dengan kebiasaan masyarakat. Apalagi dengan keakuan yang cenderung merasa benar.

Lalu, di antara golongan itu, di manakah aku? Sejujurnya, aku tidak suka dengan pengotak-kotakan itu. Substance over Form. Ya, sekarang lihat saja substansinya. Jika memang masing-masing golongan mempunyai satu tujuan, satu misi dakwah Islamiyah, cobalah untuk duduk pada satu majelis untuk menyatukan sumber daya dan sedikit 'berkompromi'.

Kok ngelantur?

Menelusuri pelosok demi pelosok, melewati daerah yang sama sekali asing bagi setiap panca inderaku. Tiba-tiba sampai di Desa Sangubanyu (tertera pada sebuah tulisan di pinggir jalan). Di jalanan yang cukup halus dan agak ramai, aku optimis bisa menemukan jalan pulang. Mengalir di samping jalan ini adalah sebuah sungai yang berair tenang, tipikal sungi hilir yang hanya beberapa kilometer dari pantai.

Bisa-bisanya, di suatu titik yang tak terduga setelah aku menyeberang jembatan di dekat pasar Bocor, aku bertemu dengan seorang teman SMA. Hanya karena aku menggunakan celana training SMA, dia mengenaliku. Tentu saja, aku cukup kenal akrab dengannya. Maka, kehidupan ini memang ada yang mengatur; ada yang mempertemukan.

Akhirnya, demikianlah "tenggara" dalam ekspedisi kurang kerjaan ini.

PS: Ini adalah tulisan pribadi. Jika terdapat pernyataan subjektif, itu karena pendapat pribadi. Tulisan ini tidak bertujuan sebagai konfrontasi.

No comments:

Post a Comment