Tuesday, August 28, 2012

Review Novel: Sang Penandai

Seharian Minggu (26/8) ini habis hanya untuk membaca novel "Sang Penandai" karya Tere-Liye. Hampir-hampir tak melakukan kegiatan berarti. Entah karena bergerak pasif seperti ini atau cuaca yang tak cerah, tubuhku terasa kaku tetapi lelah, sedikit merasa dingin, tetapi suhu tubuh tak seperti biasanya.

Kuakui, kecepatan bacaku rendah. Namun demikian tidak berarti pemahamanku akan isi cerita dan cara penyampaian lebih baik dari pembaca lainnya. Aku memang membaca rinci setiap katanya; sayang melewatkan satu huruf pun dari buku. Ini pun tidak berarti aku belajar banyak soal merangkai kata-kata menjadi cerita yang menarik.

Tapi biarkan aku berkomentar tetang Sang Penandai.

Review Novel: Bumi Manusia

Sesiangan ini aku membaca novel Bumi Manusia, sejak beberapa hari yang lalu (akhir-akhir bulan puasa). Baru tersadar, novel ini luar biasa bagus! Padahal buku ini kubeli lebih dari setahun yang lalu di lantai Under Ground Blok M Square. Aku ingat, harganya Rp40.000 tak bisa kutawar, untuk barang bajakan yang seharusnya seharga Rp90.000 itu. Harganya cukup pantas -atau sebenarnya sangat pantas- untuk karya hebat seorang Pramoedya Ananta Toer. Dan, aku malu membeli bajakannya -mohon dimaafkan.

Aku tak mengerti sastra, tapi izinkanlah aku memberi sedikit kata penghargaan untuknya. Tentunya, bagi penulis sekaliber Mas Pram -siapa guwe panggil-panggil pengarang tersohor dengan sebutan 'mas'?- pujianku tak akan menambah kualitas karyanya. Pun tak ada nilainya. Tapi biarlah seorang pembaca berpendapat akan bacaan yang telah dipilihnya.

Aku Anak Manusia, bukan Anak Indonesia

Kepeduliaan sosial itu melintasi batas-batas kenegaraan dan tanah air. Bagi saya, lebih baik tidak mengaku sebagai warga negara Indonesia bila representasi dari rakyat yang ditunjukkan oleh wakil rakyat adalah wajah-wajah kemewahan. Maka saya heran bila banyak pemain bola berbondong-bondong mengajukan diri untuk dinaturalisasi menjadi WNI sedangkan saya lebih memilih 'merdeka' dari ikatan persaudaraan dengan wakil rakyat hanya karena atas dasar senegara dan setanah air.

Keadilan sosial itu tidak terbatas pada kewarnanegaraan. Kalau mereka tetap mengaku berkewarganegaraan Indonesia dengan sikap congkaknya, maka ijinkan saya mengajukan diri untuk dinaturalisasi sebagai warga negara kebebasan. Tanah air adalah tempat lahir, yang padanya tak bisa memilih. Saya lahir di Indonesia, maka tanah air saya Indonesia. Kewarganegaraan bisa memilih dan saya memilih menjadi warga bumi yang membumi dan terlepas dari segala ikatan warga negara oleh sebab ketanahairan.

Monday, August 6, 2012

Tiket Mudik Gratis dan Masjid At Tin

Sudah agak siang, bu Eni baru mengabari bahwa tiket Cilacapku bisa ditukar dengan tiket Kebumen. Sebelumnya, aku telah meminta pendapat Bapak terkait tiket Cilacap. Menurut Bapak, lebih baik menukarkannya -bila ada- daripada harus menyambung bis di tengah perjalanan. Keduanya sama-sama memerlukan pengeluaran tambahan.

Maka, aku segera berangkat menuju Kampung Rambutan. Malam sebelumnya, aku telah bertanya ke seorang teman yang sangat paham dengan transportasi umum di seputar Jakarta. Dia, mas Anwar Ibnu Rochman, adalah mahasiswa 'gila'. Dia suka sekali berjalan-jalan menggunakan moda transportasi umum bahkan ketika sedang ujian!

Tiket Mudik dan Masjid 'Kubah Emas' Dian Al Mahri

Tangerang Selatan, pukul 10.00

Barangkali karena aku dianggap lebih tahu jalan, kang Bahtiar -teman sekos- memintaku menemaninya -sebagai penunjuk jalan- ke Kampung Rambutan untuk mendaftar mudik gratis ke Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sedikit banyak aku memang tahu jalan TB Simatupang, tempat pendaftaran itu. Ditambah lagi, aku cukup mudeng membaca peta. Sejak dari Lebak Bulus, hampir-hampir tidak pernah belok; berkendara terus mengikuti jalan. Di samping kanan-kiri jalan tol lingkar luar Jakarta, itulah jalan TB Simatupang. Ancer-ancer tempat pendaftarannya adalah 200 meter setelah Terminal Kampung Rambutan, Wisma Astoria.

Membingkai Kengangan Jilid 2

Aku telah berusaha meyakinkan ibuku perihal ketidakikutsertaanku pada wisuda tahun ini. Sedikit banyak, ibu memahami.

Aku bukan anak kecil lagi yang ingin pakaian baru untuk lebaran, aku pun bukan mahasiswa yang mempunyai permintaan seperti orang kebanyakan. Pada beberapa hal, aku telah mencoba untuk mematikan rasa. Sangat munafik jika aku mengatakan bahwa aku telah meniadakan rasa ingin (nafsu). Tapi keputusanku saat ini benar-benar berpihak pada 'tidak mengikuti wisuda'.

Apa kata orang nantinya? Terserah saja. Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Curhat1.2: Buka Bareng

Padahal, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan beberapa butir kurma dan beberapa teguk air. Nah, kita buka bareng selalu di WS, SS, de Cost, Burger & Grill, dll.


Nggak mahasiswa di kampus, nggak temen SMP di kampung, kalau ngajak buka bareng, ya venue-nya pasti tempat 'nongkrong'. Emang udah jaman kali ya.


Dan, seharusnya mereka tahu: aku mungkin akan datang: sekedar untuk menemui kalian, bukan untuk makan di sana.

#alibi